Bel pagi berbunyi di SMAN 1 Sumberjaya, menyibak udara sejuk yang mengelilingi sekolah. Siswa melangkah masuk kelas, menyiapkan buku dan pikiran. Di papan tulis, indikator capaian pembelajaran tertulis rapi. Namun di sekolah ini, angka bukanlah satu-satunya tujuan. Di tengah budaya pendidikan yang kerap menuhankan angka, ruang-ruang kelas SMAN 1 Sumberjaya memilih berjalan ke arah yang berbeda. Di sini, rapor bukanlah tujuan akhir, melainkan jejak proses panjang pembentukan manusia.
“Nilai penting, tapi tidak cukup untuk menggambarkan keberhasilan belajar siswa, perlu dipahami bahwa nilai hanyalah simbol di atas kertas, 80, 85, 90, 100, A, B, atau C, guru akan dengan terbuka memberi nilai sesuai keinginanmu, tapi jauh lebih penting bagaimana kita dapat mempertanggungjawabkan nilai yg kita dapat. Jangan sampai kita dapat nilai 90 atau 95 tapi materi dasar tidak dikuasai sama sekali. Di sekolah kita belajar dan yang kita kejar bukan hanya sebatas nilai di atas kertas,tapi bagaimana bisa memperbaiki diri”. Ujar Muhibbu Abivian, S.Pd., M.Pd. Guru BK di SMAN 1 Sumberjaya. Menurutnya, pendidikan harus memberi ruang bagi proses, bukan sekedar hasil akhir. Ketika siswa hanya diburu angka, rasa ingin tahu sering kali kalah oleh ketakutan gagal.
Pendekatan pembelajaran di SMAN 1 Sumberjaya mulai menekankan diskusi, kerja kelompok, dan refleksi. Guru menilai cara siswa berpikir, keberanian bertanya, serta kemampuan menyampaikan pendapat. Proses ini mengajarkan tanggung jawab dan kejujuran, dua bekal penting dalam kehidupan nyata. Kirana Ratna Kemuning, siswi kelas XII, mengaku kini lebih menikmati belajar. “Sekarang kami sering diminta menjelaskan pendapat sendiri. Nilai tetap ada, tapi guru juga melihat usaha dan prosesnya,” katanya.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menyatakan bahwa pendidikan adalah proses menuntun potensi anak, bukan memaksa mereka mencapai target tertentu. Pendidikan, menurutnya, bertujuan membentuk manusia yang merdeka dalam berpikir dan bertindak. Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Dr. H. A. R. Tilaar, pakar pendidikan Indonesia. Ia menegaskan bahwa pendidikan seharusnya memanusiakan manusia. “Sekolah bukan pabrik angka, tetapi ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan tanggung jawab sosial,” tulis Tilaar dalam berbagai kajiannya tentang pendidikan humanistik.
Di SMAN 1 Sumberjaya, semangat itu diwujudkan melalui kegiatan literasi sekolah, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, serta keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial dan kepemimpinan. Siswa diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki nilai ketika berdampak bagi lingkungan sekitar. Menurut penulis sendiri “Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak kami tumbuh menjadi pribadi yang siap hidup bermasyarakat, kalau hanya nilai, itu tidak cukup untuk menghadapi dunia nyata.” Pendidikan dimaknai sebagai proses menyiapkan kehidupan, karena pada akhirnya, hidup tidak pernah menanyakan angka di rapor, tetapi cara seseorang bersikap, berpikir, dan bertanggung jawab. Sekolah menghadirkan sebuah perlawanan sunyi terhadap cara pandang lama yang menuhankan angka. Di sekolah ini, nilai tidak ditolak, tetapi ditempatkan pada posisi yang semestinya: sebagai alat ukur, bukan tujuan hidup. Pendidikan dimaknai sebagai proses panjang membentuk manusia yang jujur pada dirinya sendiri, berani berpikir, dan siap bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.
Penulis berpandangan bahwa inilah wajah pendidikan yang seharusnya diperjuangkan. Ketika sekolah berani menggeser orientasi dari sekedar capaian angka menuju pemaknaan belajar yang utuh, maka sekolah sedang menyiapkan generasi yang tahan uji, bukan generasi rapuh yang hanya kuat di atas kertas. Dunia nyata tidak memberi soal pilihan ganda, dan kehidupan tidak menyediakan kunci jawaban. Karena itu, belajar untuk kehidupan seperti yang diupayakan SMAN 1 Sumberjaya bukan sekedar alternatif, melainkan sebuah keharusan.
*) Otong Suprihatna, S.Pd adalah Guru SMAN 1 Sumberjaya Kabupaten Majalengka











