Pangeran Aria Soeria Atmadja dan Lahirnya Pendidikan Vokasi di Tanjungsari (Bagian III)

Oleh: Tubagus Hidayat

Avatar photo

Warisan untuk Pendidikan Abad ke-21: Dari Bojongseungit Menuju SMK Masa Depan

“Ada gagasan yang lahir jauh sebelum zamannya, tetapi baru dipahami maknanya puluhan bahkan ratusan tahun kemudian. Sekolah Pertanian Bojongseungit adalah salah satunya.”

Lebih dari satu abad telah berlalu sejak Landbouw Bedrijf School berdiri di Bojongseungit, Tanjungsari. Bangunan sekolah mungkin telah berubah, sistem pendidikan telah berganti berkali-kali, dan Indonesia kini hidup sebagai negara merdeka dengan ribuan sekolah kejuruan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Namun jika kita mencermati filosofi yang melandasi pendirian sekolah tersebut, kita akan menemukan sesuatu yang mengejutkan: banyak gagasan yang kini dianggap sebagai inovasi pendidikan sesungguhnya telah dipraktikkan oleh Pangeran Aria Soeria Atmadja pada awal abad ke-20.

Ia tidak menyebutnya link and match. Ia tidak mengenal istilah teaching factory, project-based learning, atau deep learning. Tetapi semangat yang melandasinya telah hadir dalam cara ia memandang pendidikan.

Baginya, sekolah tidak boleh berdiri sebagai “pulau” yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Sekolah harus menjadi pusat perubahan sosial dan ekonomi.

Ketika Sekolah Menjadi Motor Pembangunan

Pangeran Aria Soeria Atmadja memahami bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada proses belajar di ruang kelas.

Ilmu harus mengalir keluar dari sekolah.

Ia harus hadir di sawah, di kebun, di kandang ternak, di pasar, dan di rumah-rumah penduduk.

Karena itulah Landbouw Bedrijf School tidak hanya mengajarkan cara bertani. Sekolah itu mengajarkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat meningkatkan produktivitas, memperbaiki kesejahteraan keluarga, dan membangun kemandirian masyarakat.

Pandangan tersebut kini menjadi salah satu prinsip utama pendidikan vokasi modern.

Sekolah tidak lagi dinilai hanya dari banyaknya lulusan atau tingginya angka kelulusan, tetapi juga dari sejauh mana lulusannya mampu berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Dalam konteks ini, Pangeran Aria Soeria Atmadja sesungguhnya telah menempatkan sekolah sebagai agen pembangunan lokal.

Relevansi bagi SMK Masa Kini

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 14.000 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jutaan peserta didik yang dipersiapkan memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, atau menjadi wirausahawan.

Pemerintah terus mendorong berbagai kebijakan seperti penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran mendalam (deep learning), pengembangan teaching factory, hingga penguatan budaya kerja di sekolah.

Semua kebijakan tersebut memiliki tujuan yang sama: menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan lebih dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Namun sejarah Bojongseungit memberikan satu pelajaran penting.

Keterkaitan antara sekolah dan dunia kerja tidak cukup diwujudkan melalui dokumen kerja sama atau penandatanganan nota kesepahaman. Keterkaitan itu harus tampak dalam budaya belajar sehari-hari.

Peserta didik harus belajar menyelesaikan persoalan nyata.

Guru harus menjadi pembimbing yang mendorong peserta didik bereksperimen, berinovasi, dan berani mencoba.

Sekolah harus menjadi tempat lahirnya solusi, bukan hanya tempat menyampaikan teori.

Pendidikan yang Berdampak

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “pendidikan yang berdampak” semakin sering digunakan.

Hakikatnya sederhana.

Pendidikan dikatakan berhasil apabila menghasilkan perubahan positif bagi peserta didik, keluarga, masyarakat, dan lingkungannya.

Landbouw Bedrijf School telah memperlihatkan prinsip itu lebih dari seratus tahun yang lalu.

Melalui pendidikan pertanian, masyarakat memperoleh pengetahuan baru.

Melalui praktik langsung, peserta didik memperoleh keterampilan.

Melalui hasil panen, masyarakat merasakan manfaat ekonomi.

Melalui penyebaran bibit dan teknologi pertanian, produktivitas meningkat.

Dengan demikian, sekolah menjadi bagian dari ekosistem pembangunan daerah.

Inilah esensi pendidikan yang berdampak.

Bagi guru, kisah Bojongseungit mengingatkan bahwa pembelajaran terbaik adalah pembelajaran yang membuat peserta didik mengalami, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu berhasil.

Bagi kepala sekolah, kisah ini menunjukkan bahwa sekolah tidak boleh berjalan sendiri. Sekolah harus membangun jejaring dengan masyarakat, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai pihak yang dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik.

Bagi pengawas sekolah, warisan Pangeran Aria Soeria Atmadja memberikan perspektif bahwa mutu pendidikan tidak cukup diukur dari kelengkapan administrasi atau kepatuhan terhadap regulasi. Mutu pendidikan harus dilihat dari sejauh mana sekolah mampu menghadirkan perubahan nyata bagi peserta didik dan lingkungan sekitarnya.

Evaluasi terhadap sekolah seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah semua dokumen sudah lengkap?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah pembelajaran di sekolah ini benar-benar mengubah kehidupan peserta didik?”

Menghidupkan Kembali Sejarah Lokal

Salah satu tantangan pendidikan kita adalah minimnya pemanfaatan sejarah lokal sebagai sumber belajar.

Padahal, tokoh-tokoh seperti Pangeran Aria Soeria Atmadja memberikan contoh konkret tentang kepemimpinan, inovasi, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Mengenalkan kisah ini kepada peserta didik bukan sekadar mengenalkan nama seorang bupati.

Lebih dari itu, kita sedang memperkenalkan nilai-nilai integritas, kepedulian sosial, keberanian mengambil keputusan, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemajuan.

Sejarah lokal menjadi lebih bermakna ketika tidak hanya dihafalkan, tetapi dipahami sebagai sumber inspirasi.

Sebuah Warisan yang Perlu Dijaga

Lebih dari seratus tahun setelah berdirinya Landbouw Bedrijf School, dunia telah berubah.

Teknologi digital mengubah cara manusia bekerja.

Kecerdasan buatan mulai mengambil alih berbagai pekerjaan rutin.

Perubahan iklim menuntut inovasi baru di bidang pertanian.

Namun satu hal tetap tidak berubah.

Masyarakat akan selalu membutuhkan manusia yang mampu berpikir, bekerja, berkolaborasi, dan menciptakan solusi.

Itulah tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Dan itulah yang telah dicita-citakan oleh Pangeran Aria Soeria Atmadja ketika mendirikan sekolah di Bojongseungit pada tahun 1914.

Penutup: Bojongseungit, Sebuah Pesan dari Masa Lalu

Mungkin sejarah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.

Sering kali kitalah yang berjalan terlalu cepat sehingga lupa menoleh ke belakang.

Di tengah berbagai upaya mereformasi pendidikan vokasi, memperkuat SMK, dan membangun pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, Bojongseungit sesungguhnya telah memberikan jawabannya lebih dari satu abad yang lalu.

Pangeran Aria Soeria Atmadja mengajarkan bahwa sekolah bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk membangun manusia.

Manusia yang berilmu.

Manusia yang terampil.

Manusia yang berkarakter.

Manusia yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakatnya.

Warisan itu tidak boleh berhenti menjadi catatan sejarah.

Ia harus terus hidup di ruang-ruang kelas, di bengkel kerja SMK, di laboratorium, di kebun praktik, di lahan pertanian, dan di setiap sekolah yang percaya bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang memberi manfaat bagi kehidupan.

Ketika kita berbicara tentang masa depan pendidikan vokasi Indonesia, sesungguhnya kita juga sedang melanjutkan sebuah perjalanan panjang yang pernah dimulai di Bojongseungit, Tanjungsari.

Di sanalah, pada tahun 1914, seorang bupati membuktikan bahwa sekolah dapat menjadi benih kemajuan sebuah bangsa.


Referensi

  1. Handayani, Rahmi. Rekam Jejak Pangeran Aria Soeria Atmadja (Bupati Sumedang Tahun 1883–1919). Universitas Pendidikan Indonesia.
  2. Nugraha, Awaludin. Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Moral: Pemikiran P.A.A. Soeria Atmadja dalam Di Tioeng Memeh Hoedjan. Jurnal Sejarah Citra Lekha, Universitas Diponegoro.
  3. Hardjasaputra, A. Sobana. Sejarah Sumedang dan berbagai kajian mengenai pemerintahan Pangeran Aria Soeria Atmadja.
  4. De Preanger-bode, 25 April 1922, In Memoriam Pangeran Aria Soeria Atmadja, sebagai sumber primer yang menggambarkan penghormatan terhadap kiprah beliau.
  5. Handayani, Rahmi. Berbagai rujukan arsip kolonial mengenai pembangunan pendidikan, pertanian, dan pemerintahan di Sumedang pada masa Pangeran Aria Soeria Atmadja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *