Sekolah yang Mendahului Zamannya
“Di sebuah desa di kaki Gunung Manglayang, lebih dari seabad yang lalu, seorang bupati memulai sebuah gagasan yang hingga hari ini masih menjadi cita-cita pendidikan Indonesia: sekolah yang melahirkan keterampilan, menumbuhkan kesejahteraan, dan mengubah kehidupan masyarakat.”
Ketika pemerintah Indonesia hari ini berbicara tentang pendidikan vokasi, link and match dengan dunia kerja, pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), teaching factory, hingga pentingnya lulusan yang siap bekerja dan berwirausaha, sesungguhnya gagasan itu bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru.
Lebih dari seratus tahun silam, tepatnya pada tahun 1914, di Bojongseungit, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, telah berdiri sebuah sekolah yang dibangun dengan semangat serupa. Sekolah itu dikenal sebagai Landbouw Bedrijf School, sebuah sekolah pertanian yang lahir dari pemikiran visioner Pangeran Aria Soeria Atmadja, Bupati Sumedang yang memimpin pada periode 1883–1919.
Di masa ketika pendidikan masih menjadi hak yang sangat terbatas, terutama bagi masyarakat pribumi, Pangeran Aria Soeria Atmadja justru memandang sekolah sebagai investasi paling penting untuk membangun masa depan daerah. Baginya, kemajuan Sumedang tidak cukup dicapai melalui pembangunan jalan atau peningkatan hasil pertanian semata. Kemajuan harus dimulai dari manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemauan untuk terus belajar.
Pandangan ini terdengar sangat modern. Namun sesungguhnya ia lahir lebih dari satu abad yang lalu.
Sumedang di Tengah Perubahan
Akhir abad ke-19 merupakan masa yang penuh tantangan bagi masyarakat Priangan. Sistem ekonomi kolonial masih membentuk kehidupan pedesaan. Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup pada sektor pertanian, sementara produktivitas lahan, akses terhadap teknologi, dan kesempatan memperoleh pendidikan masih sangat terbatas.
Sebagai Bupati Sumedang, Pangeran Aria Soeria Atmadja menyaksikan langsung kenyataan tersebut. Ia memahami bahwa persoalan utama bukan semata-mata kurangnya lahan atau rendahnya hasil panen, melainkan terbatasnya pengetahuan masyarakat untuk mengelola sumber daya yang dimiliki.
Pemahaman inilah yang membedakannya dari banyak pemimpin pada zamannya. Ia tidak melihat pendidikan sebagai pelengkap pembangunan, tetapi sebagai fondasi pembangunan itu sendiri.
Dalam berbagai kajian sejarah disebutkan bahwa perhatian Pangeran Aria Soeria Atmadja tidak hanya tertuju pada administrasi pemerintahan, tetapi juga pada peningkatan kualitas pertanian, peternakan, irigasi, dan pendidikan masyarakat. Semua itu dipandang sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan. Masyarakat yang terdidik akan mampu meningkatkan produktivitas. Produktivitas akan melahirkan kesejahteraan. Dan kesejahteraan menjadi dasar bagi terciptanya kehidupan sosial yang lebih damai dan maju.
Gagasan yang Mendahului Zamannya
Di awal abad ke-20, istilah “pendidikan vokasi” bahkan belum dikenal luas seperti sekarang. Namun esensi dari pendidikan vokasi telah dipahami dengan sangat baik oleh Pangeran Aria Soeria Atmadja.
Ia melihat bahwa sekolah tidak boleh hanya menghasilkan orang yang pandai membaca dan menulis. Sekolah harus mampu melahirkan generasi yang memiliki keterampilan nyata, mampu memecahkan persoalan kehidupan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.
Dari pemikiran itulah lahir gagasan mendirikan sebuah sekolah pertanian di Bojongseungit, Tanjungsari.
Pilihan lokasi tersebut bukanlah kebetulan. Kawasan Tanjungsari sejak lama dikenal memiliki potensi pertanian yang besar. Lahan yang subur, masyarakat agraris, dan posisi strategis menjadikannya tempat yang ideal untuk membangun pusat pembelajaran pertanian.
Sekolah ini dirancang bukan sekadar mengajarkan teori, tetapi juga praktik. Para siswa belajar langsung di lahan pertanian, mengenal teknik budidaya, mengelola tanaman, memahami pemeliharaan ternak, hingga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan kata lain, sekolah menjadi laboratorium kehidupan.
Dalam perspektif pendidikan modern, pendekatan seperti ini dikenal sebagai experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Peserta didik belajar melalui praktik nyata, bukan hanya melalui hafalan.
Sebuah Investasi Pribadi untuk Masa Depan Rakyat
Yang membuat kisah ini semakin mengagumkan adalah keterlibatan pribadi Pangeran Aria Soeria Atmadja dalam mewujudkan sekolah tersebut.
Sejumlah penelitian sejarah mencatat bahwa ia tidak hanya memberikan dukungan kebijakan, tetapi juga menghibahkan sekitar 4,3 hektare tanah miliknya sebagai lokasi sekolah. Selain itu, ia menyumbangkan dana pribadi sekitar 3.000 gulden untuk membantu pembangunan fasilitas pendidikan. Pada masa itu, jumlah tersebut merupakan nilai yang sangat besar dan menunjukkan kesungguhan komitmennya terhadap pendidikan.
Langkah ini memperlihatkan bahwa bagi Pangeran Aria Soeria Atmadja, pendidikan bukan sekadar program pemerintah. Pendidikan adalah investasi sosial yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi berikutnya.
Ia tampaknya memahami sebuah prinsip yang baru banyak dibicarakan para ekonom pada abad ke-20: investasi terbesar suatu bangsa bukanlah pada kekayaan alam, melainkan pada kualitas manusianya.
Pendidikan yang Menyatu dengan Kehidupan
Landbouw Bedrijf School tidak dibangun sebagai institusi yang terpisah dari masyarakat. Sekolah ini justru menjadi bagian dari kehidupan desa.
Para siswa belajar mengolah tanah, memilih benih, merawat tanaman, memelihara ternak, hingga memahami bagaimana hasil pertanian dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Pendidikan berlangsung dalam konteks kehidupan nyata.
Model seperti ini terasa sangat relevan dengan arah kebijakan pendidikan Indonesia saat ini yang menekankan pembelajaran kontekstual, pembelajaran mendalam (deep learning), serta penguatan kompetensi melalui pengalaman langsung.
Lebih dari seratus tahun yang lalu, Bojongseungit telah memperlihatkan bahwa sekolah terbaik bukanlah sekolah yang sekadar menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi, melainkan sekolah yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat di sekitarnya.
Mungkin inilah warisan terbesar Pangeran Aria Soeria Atmadja: keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus tumbuh dari kebutuhan masyarakat, berkembang melalui pengalaman, dan pada akhirnya kembali untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Warisan itu masih relevan hingga hari ini. Bahkan, ketika pendidikan Indonesia terus mencari bentuk terbaik bagi penguatan SMK dan pendidikan vokasi, jejak yang ditinggalkan di Bojongseungit pada tahun 1914 seolah mengingatkan bahwa sebagian jawabannya telah pernah dirintis dari tanah Pasundan.
Bersambung ke Bagian II: Bukan Sekadar Sekolah Pertanian: Embrio Pendidikan Vokasi Indonesia
Referensi
- Handayani, Rahmi. Rekam Jejak Pangeran Aria Soeria Atmadja (Bupati Sumedang Tahun 1883–1919). Universitas Pendidikan Indonesia.
- Nugraha, Awaludin. Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Moral: Pemikiran P.A.A. Soeria Atmadja dalam Di Tioeng Memeh Hoedjan. Jurnal Sejarah Citra Lekha, Universitas Diponegoro.
- Makalah Pangeran Aria Soeria Atmadja – Universitas Padjadjaran.
- De Preanger-bode, 25 April 1922 (In Memoriam Pangeran Aria Soeria Atmadja), sebagai sumber primer mengenai penghormatan dan kiprah beliau.
- Deni Sugandi. Pangeran Aria Soeria Atmadja. Blog Denisugandi (digunakan sebagai bacaan pendukung).













