Pangeran Aria Soeria Atmadja dan Lahirnya Pendidikan Vokasi di Tanjungsari (Bagian II)

Oleh: Tubagus Hidayat

Avatar photo

Bukan Sekadar Sekolah Pertanian: Embrio Pendidikan Vokasi Indonesia

“Sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan orang yang pandai, tetapi juga menghasilkan orang yang mampu bekerja, berkarya, dan menghidupi masyarakatnya.”

Apabila menengok sejarah pendidikan Indonesia, kita sering menganggap pendidikan vokasi lahir setelah kemerdekaan, berkembang melalui Sekolah Teknik Menengah (STM), Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), atau kemudian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, benih-benih pendidikan berbasis keterampilan telah tumbuh jauh sebelumnya.

Salah satu jejak penting itu dapat ditemukan di Bojongseungit, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.

Di sinilah Pangeran Aria Soeria Atmadja memperkenalkan sebuah gagasan yang pada zamannya tergolong revolusioner: sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan cara menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan yang Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat

Pada awal abad ke-20, sebagian besar masyarakat Sumedang hidup dari pertanian. Namun hasil pertanian sering kali belum optimal. Teknik budidaya masih sederhana, pengelolaan air terbatas, dan pengetahuan mengenai bibit unggul maupun peternakan modern belum tersebar luas.

Bagi banyak pemimpin, persoalan tersebut mungkin cukup dijawab dengan pembangunan saluran irigasi atau pembukaan lahan baru.

Namun Pangeran Aria Soeria Atmadja melihat akar persoalannya lebih dalam.

Ia meyakini bahwa kemajuan pertanian tidak mungkin dicapai tanpa meningkatkan kualitas manusia yang mengelolanya. Tanah yang subur tidak akan menghasilkan panen terbaik jika petaninya tidak memiliki pengetahuan. Sebaliknya, petani yang memiliki ilmu akan mampu mengubah lahan biasa menjadi sumber kesejahteraan.

Dari cara berpikir inilah lahir gagasan mendirikan Landbouw Bedrijf School di Bojongseungit pada tahun 1914.

Sekolah tersebut dirancang bukan untuk mencetak pegawai pemerintah, melainkan untuk melahirkan generasi muda yang memahami pertanian secara ilmiah sekaligus mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar dengan Bekerja

Yang membedakan sekolah ini dari banyak lembaga pendidikan pada masanya adalah pendekatan pembelajarannya.

Ruang kelas bukan satu-satunya tempat belajar.

Sawah, kebun, kandang ternak, saluran irigasi, hingga lahan percobaan menjadi bagian dari proses pendidikan.

Para siswa tidak hanya mempelajari teori mengenai tanaman pangan atau peternakan. Mereka mengolah tanah, menanam, merawat tanaman, mengamati pertumbuhan, memanen hasilnya, dan mengevaluasi apa yang berhasil maupun yang perlu diperbaiki.

Dengan kata lain, mereka belajar melalui pengalaman.

Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan seperti ini dikenal sebagai experiential learning, yaitu pembelajaran yang menempatkan pengalaman nyata sebagai sumber utama pengetahuan.

Yang menarik, konsep tersebut baru dipopulerkan secara luas beberapa dekade kemudian melalui pemikiran para ahli pendidikan. Di Bojongseungit, semangat itu telah dipraktikkan lebih dari satu abad yang lalu.

Ketika Seorang Bupati Menjadi Patron Pendidikan

Komitmen Pangeran Aria Soeria Atmadja terhadap sekolah ini tidak berhenti pada tahap pendirian.

Berbagai penelitian sejarah mencatat bahwa beliau menghibahkan sekitar 4,3 hektare tanah miliknya sebagai lokasi sekolah. Ia juga memberikan dana pribadi sekitar 3.000 gulden untuk mendukung pembangunan dan operasional awal.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek pemerintah.

Lebih dari itu, berbagai kesaksian sezaman menggambarkan bahwa Pangeran Aria Soeria Atmadja kerap mengunjungi sekolah tersebut.

Ia berdialog dengan para guru.

Ia memperhatikan perkembangan para siswa.

Ia mengikuti hasil percobaan pertanian yang mereka lakukan.

Kehadiran seorang bupati di tengah proses belajar bukanlah sekadar simbol. Kehadiran itu mengirimkan pesan bahwa pendidikan merupakan urusan seluruh masyarakat.

Hasil Belajar yang Memberi Manfaat

Ada satu kisah yang sangat menarik dari berbagai catatan sejarah mengenai sekolah ini.

Untuk memberikan semangat kepada para siswa, Pangeran Aria Soeria Atmadja membeli hasil panen yang mereka tanam di lahan praktik. Hasil tersebut kemudian dimanfaatkan kembali untuk kepentingan masyarakat, termasuk sebagai bibit bagi pengembangan pertanian di wilayah lain.

Tindakan ini memiliki makna yang sangat dalam.

Para siswa tidak sekadar belajar menanam.

Mereka belajar bahwa ilmu memiliki nilai ekonomi.

Mereka belajar bahwa hasil kerja yang baik dihargai.

Mereka belajar bahwa pendidikan harus memberi manfaat kepada masyarakat luas.

Dalam bahasa pendidikan masa kini, pendekatan tersebut mencerminkan integrasi antara pembelajaran, produksi, kewirausahaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Konsep yang sekarang dikenal sebagai teaching factory atau pembelajaran berbasis produksi sesungguhnya memiliki semangat yang sangat dekat dengan praktik yang dilakukan di Bojongseungit lebih dari seratus tahun lalu.

Dari Sekolah ke Pembangunan Daerah

Bagi Pangeran Aria Soeria Atmadja, sekolah pertanian bukanlah tujuan akhir.

Sekolah adalah titik awal.

Lulusan sekolah diharapkan kembali ke desa membawa pengetahuan baru. Mereka menjadi agen perubahan yang memperkenalkan teknik bercocok tanam yang lebih baik, pengelolaan ternak yang lebih sehat, serta cara memanfaatkan sumber daya alam secara lebih produktif.

Inilah yang membuat pendidikan menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah.

Ia memahami bahwa keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari jumlah lulusannya, tetapi dari perubahan yang mampu mereka hadirkan di tengah masyarakat.

Cara berpikir seperti ini kini menjadi salah satu prinsip utama dalam pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yaitu membangun manusia agar mampu membangun lingkungannya.

Pelajaran bagi Pendidikan Vokasi Masa Kini

Lebih dari satu abad telah berlalu sejak Landbouw Bedrijf School berdiri.

Indonesia telah memiliki ribuan SMK dengan berbagai bidang keahlian. Dunia kerja berubah cepat. Teknologi digital berkembang pesat. Kecerdasan buatan mulai memasuki hampir semua sektor kehidupan.

Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama.

Apakah sekolah telah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat?

Apakah lulusan memiliki kompetensi untuk memecahkan persoalan nyata di lingkungannya?

Apakah pembelajaran memberi pengalaman yang bermakna, atau masih didominasi hafalan dan teori?

Kisah Bojongseungit mengingatkan bahwa pendidikan vokasi bukan sekadar mengajarkan keterampilan teknis.

Pendidikan vokasi adalah pendidikan yang menumbuhkan keberanian untuk berkarya, kemampuan berinovasi, dan kesadaran bahwa ilmu harus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Lebih dari satu abad lalu, Pangeran Aria Soeria Atmadja telah menunjukkan arah itu.

Hari ini, tantangannya adalah bagaimana kita melanjutkan warisan tersebut dengan menjadikan sekolah sebagai pusat inovasi, pusat pemberdayaan masyarakat, dan pusat lahirnya generasi yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan.

Bersambung ke Bagian III: Warisan untuk Pendidikan Abad ke-21: Dari Bojongseungit Menuju SMK Masa Depan

Referensi

  1. Rahmi Handayani. Rekam Jejak Pangeran Aria Soeria Atmadja (Bupati Sumedang Tahun 1883–1919). Universitas Pendidikan Indonesia.
  2. Awaludin Nugraha. Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Moral: Pemikiran P.A.A. Soeria Atmadja dalam Di Tioeng Memeh Hoedjan. Jurnal Sejarah Citra Lekha, Universitas Diponegoro.
  3. Universitas Padjadjaran. Makalah Pangeran Aria Soeria Atmadja: Kepemimpinan dan Pembangunan Sumedang.
  4. De Preanger-bode, 25 April 1922 (In Memoriam Pangeran Aria Soeria Atmadja), sebagai sumber primer mengenai kiprah dan pandangan masyarakat sezamannya terhadap beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *