Opini  

Pertanyaan Paling Tidak Disukai Guru Hebat Ketika Ditanyakan kepada Mereka

Avatar photo

Ada satu pertanyaan yang sering terdengar di ruang guru, rapat sekolah, bahkan di media sosial pendidikan:

“Materinya sudah selesai belum?”

Bagi sebagian guru, pertanyaan itu terdengar biasa saja. Namun bagi banyak guru hebat, guru reflektif, dan guru yang terus belajar, pertanyaan tersebut sering kali terasa kurang tepat, bahkan sedikit mengganggu.

Bukan karena mereka tidak ingin menyelesaikan materi. Tetapi karena mereka memahami satu hal penting:

Tujuan pendidikan bukan menyelesaikan materi, melainkan memastikan peserta didik belajar.

Guru hebat lebih senang ditanya:

  • “Apakah siswa benar-benar memahami konsepnya?”
  • “Bagaimana keterlibatan siswa selama pembelajaran?”
  • “Apa yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya?”
  • “Apakah semua siswa sudah mendapat kesempatan untuk berhasil?”

Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan perbedaan paradigma yang sangat besar.

Dari Menuntaskan Materi ke Menuntaskan Pembelajaran

Selama bertahun-tahun dunia pendidikan terbiasa mengukur keberhasilan dari banyaknya kompetensi yang diajarkan, jumlah halaman yang diselesaikan, atau kecepatan guru menuntaskan silabus.

Padahal penelitian pendidikan modern menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran jauh lebih penting dibanding kuantitas materi yang disampaikan.

Peneliti pendidikan dunia, John Hattie, dalam meta-analisis terhadap jutaan data peserta didik menemukan bahwa salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar bukanlah banyaknya materi, melainkan kualitas umpan balik, kejelasan tujuan belajar, serta kemampuan guru merefleksikan dampak pembelajarannya terhadap siswa.

Dengan kata lain, pertanyaan penting bagi guru bukan lagi:

“Apakah saya sudah mengajar?”

melainkan:

“Apakah siswa benar-benar belajar?”

Guru Hebat Tidak Takut Dievaluasi, Tetapi Mereka Ingin Dievaluasi dengan Pertanyaan yang Tepat

Guru hebat umumnya tidak alergi terhadap supervisi, observasi kelas, maupun umpan balik.

Yang sering mereka rasakan justru sebaliknya: evaluasi terkadang terlalu fokus pada administrasi dan kelengkapan dokumen dibanding pengalaman belajar siswa di kelas.

Misalnya:

  • Apakah siswa aktif berdiskusi?
  • Apakah siswa berani bertanya?
  • Apakah pembelajaran membuat siswa berpikir lebih dalam?
  • Apakah siswa merasa aman untuk mencoba dan melakukan kesalahan?

Data dari OECD melalui survei internasional TALIS menunjukkan bahwa guru yang secara rutin mendapatkan umpan balik profesional, berdiskusi dengan rekan sejawat, melakukan observasi kelas, dan melakukan refleksi bersama cenderung memiliki tingkat efikasi diri dan kepuasan kerja yang lebih tinggi.

Sayangnya, bentuk kolaborasi profesional seperti observasi antar guru dan pemberian umpan balik berbasis praktik masih relatif jarang dilakukan di banyak sekolah di dunia. Dalam TALIS, hanya sekitar 9 persen guru yang melaporkan melakukan observasi pembelajaran dan memberikan umpan balik kepada rekan sejawat secara rutin setiap bulan.

Pertanyaan yang Lebih Disukai Guru Hebat

Jika ingin berdiskusi dengan guru hebat, mungkin pertanyaan berikut akan jauh lebih bermakna:

  • “Siswa mana yang paling banyak berkembang hari ini?”
  • “Bagian mana dari pembelajaran yang paling efektif?”
  • “Apa yang membuat siswa masih kesulitan memahami materi?”
  • “Jika mengajar ulang, apa yang akan Anda ubah?”
  • “Apa yang Anda pelajari dari kelas hari ini?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong refleksi profesional.

Dan menariknya, penelitian menunjukkan bahwa refleksi merupakan salah satu ciri utama guru yang terus berkembang sepanjang kariernya. Guru yang secara rutin melakukan refleksi terhadap praktik mengajarnya cenderung lebih cepat meningkatkan kualitas pembelajaran dibanding guru yang hanya berfokus pada penyampaian materi.

Pendidikan Tidak Pernah Sekadar Mengejar Target Administrasi

Di era pembelajaran mendalam (deep learning), guru tidak lagi dipandang sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai perancang pengalaman belajar.

Materi pelajaran dapat dicari melalui internet, video, maupun kecerdasan buatan.

Namun pengalaman belajar yang bermakna, rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan hubungan manusiawi antara guru dan siswa tetap tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan dari:

“Materinya sudah selesai belum?”

menjadi:

“Apakah anak-anak kita benar-benar belajar hari ini?”

Sebab bagi guru hebat, itulah pertanyaan yang paling penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *