INGIN BERHASIL? NYONTEKLAH!

Oleh : Tatang Sunendar

Avatar photo

Sebuah kelaziman dalam dunia Pendidikan khususnya proses belajar mengajar di ruang kelas, kata “nyontek” sering dianggap sebagai dosa besar. Guru marah, siswa malu, orang tua kecewa. Nyontek identik dengan ketidakjujuran. Namun, apakah semua bentuk “nyontek” selalu buruk? Ternyata tidak. Dalam kehidupan, banyak keberhasilan besar justru lahir dari kemampuan belajar, meniru, memodifikasi, lalu menyempurnakan apa yang telah dilakukan orang lain.

Lihatlah bagaimana dunia berubah. Negara-negara yang hari ini disegani ternyata pernah berada pada fase “menyontek”. Jepang pasca Perang Dunia II belajar dari teknologi Barat dan Amerika. Korea Selatan meniru sistem industri, pendidikan, dan teknologi negara maju. China mempelajari habis-habisan produk, mesin, hingga budaya kerja bangsa lain. Bahkan yang paling baru Iran dikucilkan dan mendapat tekanan dari Amerika dan sekutunya mampu bertahan dan berkembang karena belajar, meniru, lalu mengembangkan teknologi yang sebelumnya dikuasai negara besar sperti China dan Amerika sendiri .

Mereka tidak malu belajar dari orang lain. Mereka tidak gengsi meniru cara kerja yang baik. Mereka sadar bahwa keberhasilan bukan hanya soal menemukan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi juga kemampuan mengembangkan apa yang sudah ada menjadi lebih hebat.

Namun ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan, menyontek kemajuan bukan berarti kehilangan jati diri. Negara-negara maju Asia tetap mempertahankan budaya dan karakter bangsanya. Jepang tetap dikenal dengan budaya disiplin dan penghormatan kepada tradisi. Korea tetap menjaga identitas budayanya melalui bahasa, adat, dan etos kerja. China tetap kuat dengan filosofi dan nilai kebangsaannya.

Artinya, menyontek boleh, tetapi jangan meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal. Modernisasi tidak boleh membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Dalam dunia pendidikan, konsep “nyontek” sebenarnya bisa dimaknai secara positif. Seorang siswa yang berhasil biasanya “menyontek” kebiasaan baik temannya rajin membaca, disiplin belajar, datang tepat waktu, dan tekun mengerjakan tugas. Guru yang hebat pun sering belajar dari guru lain yang lebih berhasil. Kepala sekolah yang maju biasanya meniru budaya mutu sekolah unggulan, lalu menyesuaikannya dengan kondisi sekolah masing-masing.

Sekolah boleh meniru sistem pendidikan Finlandia, Jepang, atau Singapura, tetapi tetap harus menanamkan nilai gotong royong, sopan santun, hormat kepada guru, budaya musyawarah, dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri bangsa Indonesia. Jangan sampai sekolah modern justru melahirkan generasi pintar tetapi kehilangan adab dan kepedulian sosial.

Masalahnya, banyak orang salah memahami makna meniru/nyontek . Mereka ingin hasil hebat tetapi enggan belajar dari keberhasilan orang lain. Padahal hampir semua inovasi besar lahir dari proses mengamati, mencontoh, lalu memperbaiki.

Anak kecil belajar berjalan dengan meniru orang dewasa. Seorang atlet hebat belajar dari gerakan seniornya. Penulis besar membaca karya orang lain. Pebisnis sukses mempelajari strategi kompetitor. Bahkan teknologi telepon pintar, kendaraan listrik, hingga kecerdasan buatan berkembang karena proses saling belajar dan menyempurnakan.

Karena itu, budaya “nyontek positif” perlu dibangun di sekolah. Siswa perlu diajarkan meniru semangat belajar, bukan meniru jawaban saat ujian. Mereka harus mencontoh kerja keras, bukan mencari jalan pintas. Guru juga perlu menyontek praktik baik pembelajaran dari sekolah lain, bukan merasa paling benar sendiri.

Yang tidak boleh adalah nyontek saat ujian. Mengapa? Karena ujian adalah alat untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Ketika seseorang menyontek jawaban, ia sedang membohongi dirinya sendiri. Nilai mungkin tinggi, tetapi kemampuan kosong. Itulah bentuk nyontek yang merusak karakter.

Sebaliknya, meniru budaya disiplin, mutu, kreativitas, dan kerja keras adalah bentuk pembelajaran yang justru harus diperkuat. Dunia pendidikan akan maju jika setiap orang mau belajar dari keberhasilan orang lain tanpa kehilangan jati dirinya.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang malu belajar, tetapi bangsa yang mampu belajar cepat lalu melampaui apa yang ditirunya. Jepang tidak lagi sekadar peniru Barat. Korea Selatan kini menjadi pusat budaya dunia. China menjelma raksasa teknologi. Semua berawal dari keberanian belajar dan mencontoh.

Sekolah pun demikian. Jika ingin maju, nyonteklah sekolah yang berhasil dalam membangun literasi, numerasi, karakter, disiplin, dan budaya mutu. Jika ingin menjadi guru hebat, tirulah guru yang mengajar dengan hati. Jika ingin menjadi siswa sukses, contohlah teman yang rajin dan berintegritas.

Tetapi ingat, kemajuan tidak boleh membuat kita kehilangan akar budaya sendiri. Jadilah generasi modern yang tetap menghormati orang tua, mencintai budaya daerah, menjaga gotong royong, dan menjunjung nilai-nilai luhur bangsa.

Sebab dalam kehidupan, keberhasilan sering kali bukan milik orang yang paling pintar, tetapi milik orang yang paling mau belajar. Tirulah ilmu dan keberhasilannya, tetapi jagalah budaya dan jati dirimu. Karena kemajuan tanpa akar budaya hanya akan melahirkan manusia yang kehilangan arah. orang bijak berkata “Meniru untuk belajar adalah kecerdasan, tetapi meniru untuk menipu adalah kehancuran.”……… Wallahu A’lam Bishawab

 

Respon (16)

  1. Dalam proses belajar mengajar, konsep meniru atau mencontoh bisa menjadi alat pengembangan diri yang sangat efektif jika diarahkan dengan benar. Praktik ini dikenal dengan metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

  2. Dalam proses belajar mengajar, konsep meniru atau mencontoh bisa menjadi alat pengembangan diri yang sangat efektif jika diarahkan dengan benar. Praktik ini dikenal dengan metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

  3. Tulisan bapak sangat menginspirasi.. penjelasannya dapat difahami..sebagai Amati,Tiru dan modifikasi sudah sangat terkenal di masyarakat pendidikan khususnya..tetap semangat pa doktor

  4. Terima kasih artikelnya Pak Doktor. Dari artikel ini, kita mengetahui bahwa menyontek tidak selalu dimaknai negatif. Dari sisi positif, ternyata menyontek dapat memberikan sejumlah manfaat. Konsep ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa dalam memaknai sesuatu, alangkah baiknya kita memandang dan menerjemahkan dari berbagai sudut pandang, termasuk konsep ‘menyontek’.

  5. Budaya nyontek tidak selalu negatif, kembali ke sudut pandang masing2.Jika meyontek untuk hal2 yg baik dan dapat memotivasi diri, maka dapat menajadiikan suatu tantangan untuk menuju arah perubahan yg lebih baik lagi.Belajar,belajar dan belajar…jangan pernah ragu apalagi maiu untuk selalu belajar dimanapun dan dengan siapapun., Amati ,tiru, modifkasi.Mari bertransformasi , untuk senantiasa menjadi “Pembelajar”

  6. Nyontek dalam arti belajar dari yang sukses sangat dianjurkan agar bisa sama sama sukses. Jangan malu untuk menyontek agar kita juga bisa berhasil seperti yang lain.

  7. Meniru kebaikan untuk kemajuan diri bukanlah sebuah kecurangan, melainkan sebuah strategi belajar yang cerdas, dalam psikologi pendidikan ini disebut Observational Learning (belajar melalui pengamatan)

  8. Kata nyontek tidak asing di telinga kita dan memiliki arti negatif sebagai perilaku ketidakjujuran, tetapi dibalik itu ada makna positif. Kiranya tulisan tersebut telah memberikan garis dan benang merah yang dapat memperkaya khazanah berpikir kita. Betul tak selama bernada negatif. Betul kemajuan suatu bangsa dan negara terlahir dari budaya menyontek. Mari budayakan menyontek positif dalam transformasi untuk memberikan perubahan agar kehidupan semaksimal n beradab.

  9. Tidak ada salah nya “mencontek” sesuatu selama hal tersebut dapat memberi inspirasi dan dampak positif

  10. Konsep nyontek untuk melewati ujian secara curang itu buruk.

    Namun, “menyontek” dalam arti mengamati cara orang lain sukses, meniru metode kerja yang efektif, dan menjadikannya referensi untuk belajar justru diperlukan untuk berkembang.

    Kita harus mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan mencontek destruktif dan meniru yang konstruktif, bisa membaca materi dalam psikologi pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *