Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Kehadiran berbagai platform AI generatif, seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude, membuka peluang baru bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik abad ke-21. Namun, tantangan tetap muncul, terutama bagi sekolah yang berada di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur dan akses teknologi.
Berangkat dari kondisi tersebut, Riani Noor Yoshania, M.Pd.
Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Haurwangi, Kabupaten Cianjur, mengembangkan sebuah praktik baik berupa Proyek Upcycling dengan Sentuhan AI dalam pembelajaran Bahasa Inggris kelas IX pada materi Procedure Text. Kegiatan ini dilaksanakan selama satu bulan, mulai 1 hingga 30 April 2026, sebagai upaya mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PBL) dengan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris peserta didik, tetapi juga mengembangkan kreativitas, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi melalui pengalaman belajar yang autentik.
Latar belakang kegiatan ini didasarkan pada perubahan paradigma pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as a Foreign Language/EFL). Pembelajaran tidak lagi berfokus pada latihan-latihan terpisah, melainkan pada tugas autentik yang menuntut peserta didik menghasilkan karya nyata. Di sisi lain, keterbatasan perangkat dan akses internet di lingkungan sekolah pedesaan menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, AI dimanfaatkan sebagai perancah (scaffolding) yang membantu peserta didik menyusun teks prosedur secara lebih sistematis tanpa menggantikan kreativitas dan pemikiran mereka. Guru tetap menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu yang harus digunakan secara kritis dan bertanggung jawab.
Tujuan utama kegiatan ini adalah membimbing peserta didik agar mampu menyusun teks prosedur dengan lebih baik melalui dukungan AI. Selain itu, kegiatan juga bertujuan melatih kreativitas melalui pembuatan produk upcycling dari bahan bekas, mengintegrasikan keterampilan menulis, berbicara, dan produksi multimodal berupa video serta laporan tertulis, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan semangat pembelajaran mendalam. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menghasilkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun keterampilan hidup yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pelaksanaan kegiatan didukung oleh berbagai media pembelajaran. Guru memanfaatkan buku English for Nusantara kelas IX, gambar dan video inspiratif mengenai produk upcycling, serta platform AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude. Selain itu digunakan pula Canva, CapCut, Google Docs, dan Microsoft Word sebagai sarana penyusunan laporan maupun pengeditan video. Perangkat yang digunakan berupa telepon pintar, laptop, atau tablet yang dimiliki peserta didik secara bergantian dalam kelompok. Adapun bahan utama proyek berasal dari limbah rumah tangga, seperti botol plastik, kardus, kaleng bekas, kain perca, dan berbagai material yang dapat diolah kembali menjadi produk baru yang memiliki nilai guna.
Pelaksanaan proyek dibagi menjadi empat tahap selama empat minggu. Pada minggu pertama, kegiatan berlangsung di dalam kelas dengan fokus menggali ide-ide upcycling melalui bantuan AI. Peserta didik berdiskusi mengenai bahan bekas yang tersedia di lingkungan mereka, kemudian mengeksplorasi berbagai gagasan menggunakan ChatGPT, Gemini, atau Claude. Setelah memperoleh inspirasi, mereka mulai menyusun draf awal teks prosedur yang menjelaskan langkah-langkah pembuatan produk.
Memasuki minggu kedua, pembelajaran berlanjut di luar kelas. Peserta didik mulai mengumpulkan bahan bekas dari rumah atau lingkungan sekitar kemudian mengubahnya menjadi produk upcycling sesuai rancangan yang telah dibuat. Seluruh proses didokumentasikan dalam bentuk rekaman video sebagai bagian dari laporan proyek.
Pada minggu ketiga, peserta didik melakukan pengeditan video menggunakan Canva atau CapCut. Bersamaan dengan itu mereka menyusun laporan tertulis yang memuat komponen Goal, Materials, Steps, dan Result sebagai struktur utama teks prosedur dalam Bahasa Inggris.
Tahap terakhir dilaksanakan kembali di dalam kelas. Setiap kelompok mempresentasikan hasil karya berupa produk upcycling, video proses pembuatan, dan laporan tertulis. Guru melakukan penilaian menggunakan rubrik yang mencakup kualitas produk, video, laporan, pemanfaatan AI, dan kolaborasi kelompok.
Dalam pelaksanaannya, berbagai tantangan muncul. Tantangan pertama adalah keterbatasan infrastruktur dan akses teknologi. Tidak semua peserta didik memiliki perangkat digital sehingga mereka harus bekerja secara berkelompok. Selain itu, koneksi internet di wilayah pedesaan sering kali tidak stabil sehingga menghambat akses terhadap platform AI maupun proses pengeditan video.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan variasi kemampuan peserta didik. Sebagian peserta didik masih mengalami kesulitan dalam menyusun teks prosedur meskipun telah memperoleh bantuan dari AI. Kemampuan membuat kerajinan maupun mengedit video juga sangat beragam sehingga kualitas hasil proyek tidak selalu sama.
Guru juga menghadapi tantangan dalam membangun etika penggunaan AI. Peserta didik perlu dibimbing agar tidak sekadar menyalin hasil yang diberikan AI, tetapi mampu memilih, mengevaluasi, dan memodifikasi informasi sesuai kondisi nyata. Di samping itu, kerja sama dalam kelompok juga menjadi perhatian karena terdapat kemungkinan munculnya dominasi beberapa anggota atau pembagian tugas yang kurang merata. Tantangan lain berkaitan dengan kelengkapan pengumpulan tugas serta rubrik penilaian yang perlu disempurnakan agar mampu membedakan kualitas karya secara lebih objektif.
Berbagai solusi diterapkan untuk mengatasi tantangan tersebut. Guru menyediakan mekanisme berbagi perangkat dalam kelompok dan menggunakan hasil keluaran AI yang dicetak ketika koneksi internet tidak memungkinkan. Bagi peserta didik yang masih mengalami kesulitan, guru menyediakan template teks prosedur sebagai panduan, sedangkan peserta didik yang lebih mahir diberikan tantangan tambahan berupa penyusunan teks bilingual.
Untuk memastikan penggunaan AI tetap bijaksana, guru secara konsisten menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti kreativitas. Setiap kelompok diwajibkan menyesuaikan ide AI dengan bahan yang benar-benar tersedia di lingkungan mereka. Pembagian peran dalam kelompok juga diatur secara jelas, seperti penulis laporan, editor video, dan pembuat produk, sehingga seluruh anggota memperoleh kesempatan berkontribusi. Selain itu, guru menetapkan jadwal pengumpulan tugas secara bertahap serta menyempurnakan rubrik penilaian dengan indikator yang lebih rinci agar variasi kualitas karya dapat terlihat secara lebih jelas.
Pelaksanaan proyek memberikan dampak yang sangat positif terhadap proses belajar peserta didik. Kreativitas mereka meningkat melalui kemampuan mengembangkan berbagai produk baru dari bahan bekas. Kemampuan berpikir kritis juga berkembang karena peserta didik belajar mengevaluasi ide yang dihasilkan AI sebelum menggunakannya. Kegiatan ini mendorong kolaborasi yang lebih baik melalui pembagian tugas dan kerja sama dalam kelompok.
Dari sisi literasi digital, peserta didik menjadi lebih terbiasa menggunakan teknologi seperti AI, Canva, CapCut, dan Google Docs untuk mendukung proses belajar. Sementara itu, kemampuan berbahasa Inggris mengalami peningkatan melalui penyusunan teks prosedur dengan struktur yang lebih sistematis. Pengalaman mempresentasikan hasil karya di depan kelas juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian peserta didik.
Peningkatan hasil belajar terlihat pada berbagai aspek. Kemampuan menyusun teks prosedur menjadi lebih baik dengan struktur Goal, Materials, Steps, dan Result yang lebih lengkap. Akurasi tata bahasa meningkat berkat dukungan AI sebagai perancah pembelajaran. Literasi digital berkembang karena peserta didik terbiasa memanfaatkan berbagai aplikasi untuk mendukung pembelajaran. Kreativitas meningkat melalui produk-produk upcycling yang lebih inovatif, sementara kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan refleksi diri juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dengan demikian, proyek ini menghasilkan pembelajaran yang menyentuh aspek pengetahuan, keterampilan, sekaligus karakter peserta didik secara terpadu.
Sebagai tindak lanjut, guru melaksanakan refleksi bersama peserta didik mengenai pengalaman menggunakan AI dalam pembelajaran. Hasil proyek dipublikasikan melalui media sekolah sebagai bentuk apresiasi terhadap karya peserta didik. Guru juga terus menyempurnakan rubrik penilaian agar lebih mampu membedakan kualitas karya secara objektif. Ke depan, proyek ini direncanakan untuk diintegrasikan dengan mata pelajaran lain, seperti Prakarya dan Seni Budaya, serta melibatkan orang tua dan masyarakat dalam pengumpulan bahan bekas. Peserta didik juga didorong untuk terus menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan belajar lainnya.
Praktik baik ini menunjukkan bahwa keterbatasan sarana bukanlah penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan inovatif. Dengan perencanaan yang matang, pemanfaatan AI sebagai perancah, serta penerapan Project-Based Learning, guru mampu menciptakan pengalaman belajar yang mengintegrasikan literasi digital, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan berpikir kritis. Melalui proyek sederhana yang memanfaatkan bahan bekas, peserta didik tidak hanya belajar menyusun teks prosedur dalam Bahasa Inggris, tetapi juga belajar menjadi pembelajar yang kreatif, mandiri, peduli lingkungan, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21.












