Opini  

Generasi Scroll: Ketika Cuan Mengalahkan Nalar

Oleh: Tubagus Hidayat

Avatar photo

Media sosial telah menjelma jauh melampaui fungsi awalnya sebagai ruang berbagi cerita dan hiburan ringan. Hari ini, setiap unggahan nyaris tak lagi spontan. Ia dirancang, dihitung, dan dioptimalkan. Ukurannya jelas: berapa banyak yang menonton, menyukai, membagikan dan pada akhirnya, berapa besar uang yang bisa dihasilkan. Konten bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan komoditas.

Di tengah derasnya arus ekonomi digital, perhatian manusia telah menjadi mata uang baru. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube berperan layaknya pasar raksasa, tempat kreator berlomba memproduksi konten demi mempertahankan eksistensi. Fenomena ini menandai lahirnya ekosistem baru: creator economy yang tidak hanya menjanjikan kebebasan berekspresi, tetapi juga peluang ekonomi yang sangat besar.

Indonesia menjadi salah satu panggung utama dalam transformasi ini. Dengan ratusan juta pengguna aktif dan waktu konsumsi yang tinggi, media sosial telah membuka jalan bagi siapa saja untuk mendapatkan penghasilan mulai dari pelaku UMKM hingga generasi muda yang kreatif. Konten hiburan, edukasi, promosi, hingga personal branding kini diperdagangkan dalam logika pasar digital. Bahkan kehidupan pribadi pun kerap dikemas menjadi produk yang siap dikonsumsi publik.

Tidak dapat disangkal, dampak positifnya nyata. Banyak individu yang sebelumnya tidak memiliki akses ekonomi kini mampu memperoleh penghasilan dari kreativitasnya. UMKM menemukan jalur distribusi baru yang lebih efisien. Informasi menyebar lebih cepat dan luas. Dalam konteks ini, media sosial telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Namun, di balik peluang besar tersebut, tersembunyi persoalan yang tidak sederhana terutama bagi dunia pendidikan dan perkembangan generasi muda.
Dominasi video pendek dan konten instan secara perlahan mengubah cara otak bekerja. Kebiasaan mengonsumsi informasi dalam durasi singkat membuat kemampuan untuk berkonsentrasi dalam jangka panjang semakin menurun.

Proses belajar yang membutuhkan kedalaman berpikir, ketekunan, dan analisis menjadi terasa berat. Generasi yang terbiasa dengan kecepatan dan sensasi cenderung kesulitan menghadapi kompleksitas.

Lebih dari itu, intensitas penggunaan media sosial yang tinggi juga berdampak pada kesehatan mental. Waktu layar yang berlebihan berkorelasi dengan gangguan tidur, kecemasan, bahkan depresi. Di ruang digital, tekanan untuk tampil sempurna dan terus relevan menciptakan standar sosial yang tidak realistis. Bagi kreator muda, tuntutan untuk selalu produktif dan “viral” kerap berujung pada kelelahan emosional.
Masalah lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah pergeseran nilai.

Dalam logika algoritma, konten yang memicu emosi marah, sedih, atau sensasi—lebih mudah mendapatkan perhatian. Akibatnya, tidak sedikit konten yang mengeksploitasi konflik, privasi, bahkan penderitaan, demi angka interaksi. Batas antara autentisitas dan manipulasi menjadi kabur.

Di lingkungan pendidikan, dampaknya mulai terasa. Perilaku siswa berubah, interaksi sosial terganggu, dan risiko perundungan digital meningkat. Nilai-nilai seperti disiplin, empati, dan integritas perlahan tergerus oleh budaya instan dan kompetisi popularitas.

Kondisi ini menempatkan generasi muda pada persimpangan jalan. Di satu sisi, mereka memiliki peluang besar untuk membangun karier di dunia digital. Di sisi lain, mereka juga menghadapi risiko kehilangan kedalaman berpikir dan kesehatan mental yang stabil.

Karena itu, respons yang parsial tidak lagi memadai. Diperlukan pendekatan yang menyeluruh. Pemerintah perlu memperkuat literasi digital tidak hanya sebagai kemampuan teknis, tetapi juga sebagai kesadaran kritis. Platform digital harus lebih transparan dalam mengelola algoritma dan bertanggung jawab terhadap dampak sosialnya. Sekolah dan orang tua pun memegang peran penting dalam membentuk pola konsumsi media yang sehat.

Persoalan ini bukan sekadar tentang teknologi, melainkan tentang pilihan kolektif sebagai masyarakat. Apakah media sosial akan kita biarkan semata menjadi mesin komersial yang menggerus kualitas generasi muda, atau justru kita arahkan menjadi ruang yang produktif, edukatif, dan manusiawi? Jawabannya akan menentukan masa depan.

Sumber: We Are Social Digital 2026, BPS, Momentum Works dan berbagai studi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *