Kolaborasi Revitalisasi Bahasa Daerah, Libatkan Pemda, Guru, dan Pemuda

Avatar photo

Jakarta, edujabar.com — Pemerintah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus memperkuat program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) dengan melibatkan pemerintah daerah, guru, serta generasi muda sebagai aktor utama pelestarian bahasa ibu.

Berdasarkan pemetaan vitalitas bahasa sejak 2019, Indonesia memiliki 718 bahasa daerah dan menjadi negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Namun, sebagian bahasa tersebut kini berada pada kondisi rentan, terancam punah, hingga kritis.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa hingga 2025 program revitalisasi telah menjangkau 120 bahasa daerah di 38 provinsi melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, dan masyarakat.

Menurutnya, pelestarian bahasa daerah merupakan tanggung jawab bersama karena bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga penghubung sejarah, budaya, serta nilai karakter bangsa. Ia menegaskan bahwa hilangnya satu bahasa berarti hilangnya bagian dari identitas bangsa.

Peran Strategis Generasi Muda

Dalam gelar wicara Hari Bahasa Ibu Internasional 2026 bertema Peran Generasi Muda dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa, para narasumber menekankan bahwa pemuda memiliki peran penting dalam menjaga bahasa daerah melalui kreativitas dan jejaring digital.

Perwakilan UNESCO Indonesia, Gunawan Zakki, menyebut generasi muda memiliki kemampuan berbagi dan berkreasi, termasuk memproduksi konten digital yang memuat bahasa daerah sehingga penggunaannya tetap relevan di era modern.

Praktik Baik di Daerah

Sejumlah pemerintah daerah telah menerapkan praktik baik penggunaan bahasa ibu dalam pendidikan dasar. Bupati Sumba Timur, Umbu Lili, menyampaikan bahwa penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas awal terbukti meningkatkan kemampuan literasi siswa dan menekan angka putus sekolah saat transisi SD ke SMP.

Pengalaman serupa disampaikan SDN Aebowo, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Sekolah tersebut menyesuaikan pembelajaran dengan bahasa ibu karena banyak siswa belum memahami bahasa Indonesia. Setelah guru mendapat pelatihan, suasana belajar menjadi lebih aktif dan kemampuan literasi meningkat. Selain itu, inovasi digital juga dikembangkan, seperti aplikasi PARASALI yang memadukan kamus, permainan, dan lagu berbahasa Bali. Hingga 2026, aplikasi tersebut telah digunakan lebih dari 61 ribu pengguna.

Komitmen Pendidikan Multibahasa

Melalui momentum Hari Bahasa Ibu Internasional 2026, Kemendikdasmen menegaskan komitmen memperkuat pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu sekaligus mendorong partisipasi generasi muda agar bahasa daerah tetap hidup dalam ekosistem pendidikan nasional.

Sumber:

Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 138/sipers/A6/II/2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *