Mewujudkan Pembelajaran Diferensiasi Melalui Assesment Diagnostik Yang Komprehensif

Oleh:

Darohkim*

 

  1. Pendahuluan

Yang melatarbelakangi dikeluarkan Kebijakan Merdeka Belajar antara lain rendahnya ranking Indonesia dalam penilaian survei internasional seperti PISA dan TIMSS (Makarim, 2020), sampai dengan munculnya kesadaran pentingnya suatu kemerdekaan dalam menentukan apa yang akan dipelajari oleh murid dalam menghadapi perkembangan zaman yang sangat kompleks dan turbulen seperti sekarang ini dan tentu disesuaikan dengan kodrat alamnya. Kurikulum Merdeka mengusung pembelajaran yang menghamba kepada murid atau berpusat pada murid. Kurikulum ini membawa ide besar dari tokoh penting dalam dunia pendidikan. Sebenarnya, berbagai teori yang mendukung pembelajaran yang berpusat pada murid dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas. Akan tetapi, konsep dari seorang tokoh besar pendidikan di Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara dipilih menjadi salah satu filosofi penguat dari “Merdeka Belajar” dan Kurikulum Merdeka.

Dari tokoh lain,Tomlinson (2000) mengenai Differentiated Instruction juga digunakan dalam pembelajaran. Banyak peneliti yang mengemukakan framework tentang differentiate instruction, akan tetapi definisi yang disampaikan oleh Tomlinson dipilih untuk digunakan karena menurut Bondie, Dahnke, & Zusho (2019:340-341), framework Tomlinson orang yang paling banyak mengemukakan tentang pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan akan bersifat student-centered atau learner centered (Faber, Glas, & Visscher, 2018, hal. 46). Di sini pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat memperbaiki lakunya, bukan dasar hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat tersebut.

Pendidikan dan pengajaran dari seorang guru berguna untuk peri kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai bagian persatuan umat, sedemikian sehingga menjadi manusia yang merdeka dalam hidupnya baik lahir maupun batinnya, tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar di atas kekuatannya sendiri. Oleh karenanya supaya bisa menuntun dengan baik dalam pembelajaran seorang guru sebelumnya harus mengetahui dengan jelas tentang bakat, minat serta apa yang dibutuhkan siswa dalam belajarnya secara komprehensif, agar siswa dapat mencapai potensi terbaiknya. Berdasarkan penjelasan tersebut, penulis memberanikan diri menulis artikel dengan judul : “Mewujudkan Pembelajaran Deferensiasi Melalui Assesment Diagnostik Yang Komprehensif”

  1. Aktifitas Yang Dilakukan Guru Bersama-sama Siswa

Pembelajaran Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif, dalam artian bahwa di kelas, guru selalu berasumsi bahwa murid yang berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda dan secara proaktif merencanakan pembelajaran yang menyediakan berbagai cara untuk mengekspresikan dan mencapai tujuan pembelajaran. Guru perlu menyempurnakan pembelajaran untuk beberapa murid mereka, tetapi karena guru tahu beragam kebutuhan muridnya di dalam kelas, kemudian memilih opsi pembelajaran yang sesuai, maka kemungkinan besar pengalaman belajar yang mereka rancang akan cocok untuk sebagian besar murid. Pembelajaran berdiferensiasi beroperasi pada premis bahwa pengalaman belajar yang paling efektif adalah ketika pembelajaran tersebut berhasil mengundang murid untuk terlibat, relevan, dan menarik bagi murid. Akibat dari premis itu adalah bahwa semua murid tidak akan selalu menemukan jalan yang sama untuk belajar dengan cara yang sama untuk mengundangnya, sama relevannya, dan sama menariknya.

Lebih lanjut dalam pembelajaran berdiferensiasi, bahwa pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang akan datang harus dibangun di atas pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman sebelumnya dan tidak semua murid memiliki fondasi belajar yang sama pada awal proses pembelajaran. Para guru yang membedakan pengajaran di kelas-kelas yang memiliki keragaman akademis berusaha untuk memberikan pengalaman belajar yang secara tepat menantang untuk semua murid mereka. Guru-guru ini menyadari bahwa kadang-kadang tugas yang tidak menantang bagi beberapa peserta didik bisa jadi sangat rumit bagi yang lain.

Pembelajaran Berdiferensiasi berakar pada penilaian. Guru yang memahami bahwa pendekatan belajar mengajar harus sesuai dengan kebutuhan murid, akan mencari setiap kesempatan untuk mengenal murid mereka dengan lebih baik. Mereka melihat percakapan individu, diskusi kelas, pekerjaan murid, observasi, dan proses asesmen lainnya sebagai cara untuk terus mendapatkan wawasan tentang apa yang paling berhasil untuk setiap muridnya. Apa yang mereka pelajari akan menjadi katalis untuk menyusun dan merancang pembelajaran dengan cara-cara yang membantu setiap murid memaksimalkan potensi dan bakatnya.

Di dalam pembelajaran berdiferensiasi, penilaian tidak lagi hanya dilakukan sebagai sesuatu yang terjadi pada akhir unit untuk menentukan “siapa yang telah mendapatkannya atau siapa yang sudah menguasai”. Penilaian diagnostik juga dilakukan saat unit dimulai. Di sepanjang unit pembelajaran, guru menilai tingkat kesiapan, minat, dan pendekatan belajar yang digunakan murid dan kemudian merancang pengalaman belajar berdasarkan pemahaman terbaru dan terbaik tentang kebutuhan murid. Produk akhir, atau cara lain dari penilaian “akhir” atau sumatif, dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, dengan tujuan untuk menemukan cara terbaik bagi setiap murid untuk menunjukkan hasil belajarnya. Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses, dan produk yang menunjang terlaksananya kurikulum Merdeka Belajar.

  1. Tantantangan Yang Dihadapi

Pada Kurikulum Merdeka (KM) yang sebelumnya pernah disebut Kurikulum Prototipe memberikan kebebasan kepada pendidik untuk menentukan perangkat ajar yang paling sesuai dengan kebutuhan dan karakter peserta didik. Menurut Defitriani (2018) pada dasarnya setiap peserta didik itu unik dan memiliki karakteristik masing-masing, serta tidak ada murid yang bodoh melainkan hanya belum menemukan cara yang tepat untuk mengembangkan potensinya. Kebutuhan belajar peserta didik sangat beragam sehingga membawa konsekuensi dan tantangan yang besar yaitu guru harus mampu menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan belajar mereka agar peserta didik dapat mencapai potensi terbaiknya. Ketidakmampuan guru dalam menyusun perangkat ajar khususnya modul ajar yang berdiferensiasi akan memberi dampak potensi siswa tidak dapat dikeluarkan secara maksimal.

Pada pembelajaran berdiferensiasi, guru harus melakukan penilaian awal sebelum menyusun rencana pembelajaran pembelajaran yang nantinya akan dilakukan di kelas. Guru terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa, menganalisis, dan mengiterpretasikan data (Eysink & Schildkamp, 2021, hal. 262). Guru juga sebaiknya mengelompokkan data siswa sesuai dengan kebutuhan belajar siswa tersebut. Data yang dikumpulkan dari siswa berupa kesiapan belajar, minat atau ketertarikan, dan profil belajarnya. Data tersebut digunakan sebagai dasar untuk membuat keputusan tentang penyesuaian pembelajaran yang akan dilakukan. Siswa hanya dikelompokkan saja dalam instrumen asesmen awal tetapi saat proses pembelajaran tetap dilakukan secara bersama-sama di kelas. Guru sering kali melewatkan proses asesmen awal ini dan hanya menganggap bahwa asesmen awal hanya pada aspek kognitifnya saja. Pembelajaran yang dihasilkan menjadi tidak berdiferensiasi dan tidak sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Padahal, seharusnya semua aspek juga perlu dinilai.

Aspek afektif dan psikomotoriknya harus dinilai terlebih dahulu sebelum guru memutuskan untuk menggunakan diferensiasi dalam pembelajaran. Dalam menyusun asesmen awal atau yang sering disebut assesment diagnostik (diagnostic assessment), guru dapat membuat pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk angket singkat berisi 5-10 pertanyaan isian singkat. Angket ini digunakan untuk meng-eksplore kebutuhan siswa menurut minat siswa yang berkaitan dengan afektif dan psikomotor siswa.

Setelah diperoleh hasilnya, guru dapat mengelompokkan siswa-siswa pada 3 besar kelompok minat yang memiliki kecenderungan misal pada auditori, visual, dan kinestetik. Kalaupun 3 kelompok besar minat maupun kesenangan tidak menggunakan parameter tersebut, dapat juga digunakan hobi yang tidak jauh dari 3 kelompok tersebut. Bisa saja nanti ada 3 besar kelompok hobi yaitu misal bernyanyi, menggambar, dan jalan-jalan. Ketiganya juga memiliki kaitan dengan 3 kelompok awal. Setelah dilakukan pengelompokan, yang dilakukan oleh guru selanjutnya adalah menyusun rencana pembelajaran berdasarkan tiga kelompok besar tersebut.

Siswa yang senang bernyanyi dapat diberikan pembelajaran yang prosesnya menggunakan kesenangan siswa dalam bernyanyi dalam membelajarkan siswa. Misal, guru menyampaikan suatu materi menggunakan lagu agar mereka mudah dalam memahami materi. Untuk siswa yang senang menggambar, guru dapat menggunakan gambar yang memiliki detail sebagai media untuk menyampaikan materi. Untuk siswa yang senang jalan-jalan dapat diminta siswa untuk mencatat benda-benda yang ditemuinya dengan karakteristik tertentu yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Diferensiasi yang diberikan untuk ketiga kelompok tersebut disebut diferensiasi proses. Untuk diferensiasi produk pembelajaran, guru juga masih dapat menggunakan data yang digunakan untuk diferensiasi proses. Akan tetapi, walaupun disebut diferensiasi produk, pembelajaran yang dilakukan juga akan berbeda untuk tiap kelompoknya. Misal, guru menyampaikan suatu materi menggunakan lagu agar mereka mudah dalam memahami materi.

Produk yang diharapkan adalah siswa mengulangi lagu tersebut dan direkam menggunakan voicenote dan dikirimkan kepada guru melalui watsharp. Untuk siswa yang senang menggambar, guru dapat menggunakan gambar yang memiliki detail sebagai media untuk menyampaikan materi. Produk yang diharapkan siswa dapat membuat infografis tentang model soal yang diberikan kepada siswa setelah siswa melakukan pembelajaran. Untuk siswa yang senang jalan-jalan dapat diminta siswa untuk mencatat benda-benda yang ditemuinya dengan karakteristik tertentu yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Produk akhirnya adalah laporan perjalanan mereka dalam bentuk paragraf deskriptif dan sebagainya.

  1. Efektifitas Pembelajaran Deferensiasi

Proses pembelajaran berdiferensiasi bertujuan untuk menarik perhatian anak saat belajar agar agar tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Langkah awal dalam melaksanakan strategi pembelajaran berdiferensiasi yaitu melihat kesiapan anak dengan melakukan asesmen singkat tentang kesiapan anak dalam belajar, mengenali minat anak dalam menghubungkan topik pembelajaran yang diajarkan, pilihan belajar anak (preferensi) adalah kecendrungan cara- cara tertentu yang digunakan anak dalam memproses apa yang harus dipelajari.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Marlina menunjukkan adanya peningkatan persentase perhatian dan minat belajar anak berkesulitan belajar dengan mengenali gaya belajar yang disukai anak dengan memadukan bakat, minat dan indra yang lebih dominan pada anak seperti : auditif (pendengaran), visual (penglihatan) dan kinestetik atau gerakan (Marlina et al., 2019). Penelitian ini juga relevan dengan penelitian (Andini, 2016) yang mengatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat diberikan kepada siswa untuk meningkatkan motivasi atau minat belajar siswa Berdasarkan ulasan tersebut bahwa (1). Assesment Diagnostik yang komprehensif merupakan kunci utama dalam pembelajaran berdeferensiasi. (2). Pembelajaran berdeferensiasi dapat meningkatkan motivasi atau minat belajar siswa. (3). Pembelajaran berderensiasi dapat meningkatkan kualitas proses dan output pembelajaran.

  1. Harapan

Mudah-mudahan dan besar harapan ulasan yang sederhana ini bermanfaat bagi pembaca dan tulisan ini membutuhkan penelitian lebih lanjut agar dapat diterapkan di sekolahnya masing-masing sesuai dengan kultur budaya setempat, amin ya Robbal ‘alamin…

Referensi

Andini, D. W. (2016). “Differentiated Instruction”: Solusi Pembelajaran dalam Keberagaman Siswa di Kelas Inklusif. TRIHAYU: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 2(3)

LMS Guru Penggerak Angkatan 6, (2022). “ Pembelajaran Berdeferensiasi”. Kemendikbud RI

*Pengawas SMA KCD Wilayah VIII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat

Penulis: Daroh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *