Puasa Ramadhan dan Tarbiyah Ekologi

Oleh : Nurohmat *)

Avatar photo

Setiap kali hilal Ramadhan menampakkan diri, kita seolah memasuki sebuah “ruang sunyi” yang mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk keduniawian. Namun, sangat disayangkan jika ibadah yang mulia ini hanya berhenti pada ritualitas yang gersang, tanpa menyentuh akar persoalan kemanusiaan dan krisis planet kita saat ini. Puasa, dalam esensinya yang paling dalam, adalah sebuah “protes batin” terhadap kerakusan manusia yang telah mencabik-cabik wajah bumi.

Syekh Izzuddin bin Abdussalam, dalam kitab klasiknya Maqâshid ash-Shiyâm, mengingatkan kita bahwa tujuan pokok berpuasa (maqashid) melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga di siang hari. Beliau menekankan aspek pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) sebagai jalan menuju Tuhan. Namun, di abad ke-21 ini, pembersihan jiwa tidak boleh terputus dari tanggung jawab ekologis. Bagaimana mungkin seorang hamba merasa dekat dengan Sang Khalik, sementara ia acuh tak acuh terhadap “karya seni” Tuhan yang sedang rusak di depan matanya?

Secara filosofis, puasa adalah tindakan kenosis—pengosongan diri. Kita mengosongkan perut agar nurani memiliki ruang untuk bernafas. Dalam dialektika antara kebutuhan perut dan kelestarian planet, puasa hadir sebagai rem darurat. Ia melatih kita untuk berkata “cukup”. Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kerakusan sekelompok orang. Keserakahan inilah yang menjadi biang kerok perubahan iklim yang kian mengancam eksistensi manusia.

 

Tarbiyah Ekologi Mulai dari Dalam Diri

Membangun kesadaran ekologis tidak bisa dilakukan hanya dengan instruksi-instruksi formal yang bersifat top-down. Sebagaimana gagasan Manya Whitaker dalam Learning from the Inside-Out, tarbiyah ekologi yang sejati harus dimulai dari dalam diri peserta didik, memahami perkembangan psikologisnya, dan menyentuh sisi kemanusiaannya.

Puasa adalah momentum “tarbiyah ekologi dari dalam” yang paling efektif. Saat seorang peserta didik belajar menahan diri dari penggunaan air yang berlebih meski tidak ada orang yang melihat, ia sedang membangun integritas batin yang kokoh. Jika integritas ini diarahkan pada nilai-nilai ekologi, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang merasa berdosa jika membuang sampah sembarangan atau memboroskan air, karena ia sadar bahwa setiap tetes air adalah titipan Tuhan yang suci. Tarbiyah ekologi ini harus bersifat holistik, menyentuh dimensi emosional dan spiritual, bukan sekadar hafalan teori atau aksi-aksi yang tak berjiwa.

Di sinilah relevansi Pesantren Ekologi yang diselenggarakan oleh sekolah selama bulan suci Ramadhan, sebuah inisiatif mulia dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, yang berlangsung dari 24 Februari hingga 13 Maret 2026. Program ini bukan sekadar kegiatan tambahan di bulan suci, melainkan upaya sistematis untuk menginternalisasikan nilai-nilai inti Gapura Pancawaluya—cageur (sehat), bageur (baik hati), bener (benar), pinter (pintar), dan singer (inisiatif)—melalui pembelajaran, pelafalan, dan penghafalan ayat Al-Qur’an serta hadis tentang pelestarian lingkungan yang diwujudkan dalam aksi nyata menjaga ekologi, melestarikan alam, dan menumbuhkan kepedulian sosial sebagai bentuk syukur dan tanggung jawab kepada Allah SWT.

Kesadaran ekologis yang tumbuh di bulan Ramadhan harus mewujud dalam tindakan nyata yang terukur. Mengadopsi gagasan Green school quality standard dari UNESCO, pesantren ekologi yang diselenggarakan di lingkungan sekolah seharusnya menjadi laboratorium ekologi, dalam aspek : (1) Tata kelola sekolah yang ramah lingkungan. Sekolah harus mulai menerapkan kebijakan penghematan penggunaan air dan listrik yang proporsional, sebuah langkah kecil yang mencerminkan pengendalian nafsu konsumtif; (2) Kurikulum kehidupan. Pengajaran agama tidak boleh lagi memisahkan antara bab Thaharah (bersuci) dengan isu krisis air global, krisis pengelolaan sampah. Membuang-buang air saat wudhu dan membuang sampah sembarangan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai puasa itu sendiri; (3) Fasilitas yang asri. Sekolah hijau menyediakan ruang terbuka sebagai tempat belajar, di mana siswa bisa merasakan langsung keagungan Tuhan melalui semilir angin dan hijaunya daun, memicu rasa syukur yang otentik; (4)Keterlibatan komunitas. Ramadhan adalah momen terbaik untuk melakukan aksi penanaman pohon sebagai bentuk “sedekah jariyah” bagi masa depan generasi mendatang.

Akhirnya, puasa adalah sebuah perjalanan menuju kemanusiaan yang utuh. Di bulan yang suci ini, mari kita berhenti menjadi predator bagi alam. Melalui pesantren ekologi selama bulan suci Ramadhan di sekolah-sekolah, harapannya kita dapat melakukan upaya revolusi batin yang mengubah cara pandang kita terhadap bumi: bukan sebagai objek yang boleh dieksploitasi sepuasnya, melainkan memosisikan diri sebagai “ibu” yang memberi kehidupan.

Jika puasa tidak membuat kita lebih mencintai lingkungan, mungkin kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk menyemai benih-benih kesadaran baru, agar setelah bulan ini berlalu, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih saleh secara ritual, tetapi juga lebih saleh secara ekologis. Itulah sejatinya kemenangan yang kita tuju: kembalinya manusia ke fitrahnya sebagai penjaga harmoni semesta.

(Nurohmat, Pengawas SMA KCD X)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *