Membangun Karakter Santri Melalui Pesantren Ekologi

Oleh : Ridha Herdiani *)

Avatar photo

Pendidikan karakter tidak bisa hanya diajarkan di dalam ruang kelas yang tertutup tembok beton. Ia harus tumbuh dari interaksi langsung dengan denyut nadi kehidupan, termasuk alam semesta. Pendidikan karakter merupakan usaha sengaja dan sadar untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara objektif.  Bukan hanya baik untuk individu perseorangan, akan tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan.

Melalui inisiatif serta konsep Pesantren Ekologi, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sedang melakukan sebuah terobosan besar, mengintegrasikan nilai spiritual dengan kesadaran lingkungan yang senada dengan Departemen Agama melalui Ekoteologi.  Selama ini, kita sering membayangkan pesantren sebagai lorong-lorong asrama yang riuh dengan hafalan kitab suci dan gema selawat di sepertiga malam. Namun, wajah pesantren kini sedang bersalin rupa. Pesantren tidak lagi hanya menjadi benteng moral di atas sajadah, tetapi juga menjadi laboratorium alam melalui konsep tadabur alam untuk menyelamatkan bumi kita.

Di sini, karakter santri tidak hanya ditempa melalui kajian kitab kuning, tetapi juga melalui pertobatan ekologi sebuah kesadaran untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam yang selama ini terabaikan. Menjaga kelestarian alam bukan lagi sekadar hobi, melainkan manifestasi nyata dari iman dan akhlak seorang santri.

Identitas santri kini melampaui bukan sekedar kitab, sarung, dan kopiah. Di tanah Jawa Barat, santri masa depan adalah para penjaga semesta.  Tangan kanan mereka melangitkan doa, tangan kiri mereka membumikan harapan lewat tunas-tunas hijau dari bibit pohon. Sebab, apalah artinya taat beribadah jika kita masih membiarkan rumah besar ciptaan Tuhan ini rusak oleh tangan kita sendiri?

Melalui pendidikan karakter yang disengaja dan sadar, maka tentunya pendidikan karakter tidak diajarkan lewat papan tulis yang kaku, melainkan melalui sentuhan langsung mengena di hati.  Mendidik dengan sepenuh hati akan kena pula di hati para santri.

Seperti kita ketahui, krisis lingkungan yang kita hadapi hari ini, mulai dari banjir bandang hingga suhu udara yang kian menyengat, sebenarnya adalah cerminan dari krisis karakter manusia. Melalui program Jabar Masagi dan Pendidikan Karakter Pancawaluya, Dinas Pendidikan Provinsi Jabar mencoba menjahit kembali hubungan yang sempat terputus antara spiritualitas dan realitas alam.

Santri diajak untuk mempraktikkan filosofi Niti Surti hingga Niti Bakti. Artinya, seorang santri tidak hanya pintar merasa (surti), tapi juga harus mampu membuktikan (bukti) cintanya pada Sang Pencipta dengan cara merawat ciptaan-Nya. Karakter disiplin, sabar, dan tanggung jawab pun tumbuh secara organik saat mereka merawat bibit pohon atau mengelola limbah pesantren.

Ada yang menggelitik dalam Pesantren Ekologi.  Sepertinya kita semua diajak untuk melakukan Pertobatan Ekologi. Selama ini, kita sering menganggap dosa hanyalah urusan melanggar perintah ritual. Padahal, membuang sampah plastik ke sungai atau menebang pohon tanpa perhitungan adalah bentuk kezaliman nyata terhadap makhluk Tuhan yang lain.

Di Pesantren Ekologi, pertobatan tidak berhenti pada kata aamiin setelah berdoa. Pertobatan diwujudkan dalam aksi nyata. Jika kita telah merusak bumi selama puluhan tahun, maka menanam pohon dan menghijaukan kembali  sekolah serta lingkungan sekitar adalah bentuk penebusan dosa ekologis. Ini adalah cara santri, cara kita semua meminta maaf kepada alam semesta.

Implementasinya tidak main-main. Dalam Pesantren Ekologi para santri ke depannya didorong untuk mandiri secara pangan melalui pertanian organik, memanen air hujan, hingga melarang penggunaan plastik sekali pakai di manapun.  Tidak hanya itu saja, melalui kegiatan tadabur alam dan 7 KAIH santri diajak untuk mengetahui keberadaan dirinya dan lingkungan sekitarnya.  Melaui program Rantang Kanyaah, para santri berbagi dengan penduduk sekitar.  Hal ini sejalan dengan filosofi silih asah, silih asih, tur silih asuh.  Ilmu agama tidak lagi melayang-layang di langit ide, tapi nyata, terasa di ujung jemari melalui berdoa, berbakti, dan berbagi.

Tujuan dari Pesantren Ekologi ini sangat jelas, yakni melahirkan generasi yang waluya (sempurna), Waluya Raga, Waluya Rasa, Waluya Budhi, Waluya Hirup, dan Waluya Karsa.   Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang tidak hanya fasih berdalil, tapi juga melek ekologi. Mereka tahu bahwa menjaga sungai agar tetap bersih adalah bagian dari iman, sama pentingnya dengan menjaga kesucian wudu.

Pada akhirnya, Pesantren Ekologi di Jawa Barat adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa kesalehan sejati tidak hanya diukur dari seberapa lama seseorang bersujud di atas sajadah, tapi juga dari seberapa besar kepeduliannya untuk menjaga bumi agar tetap bisa dipijak oleh generasi mendatang. Sebab, menjaga bumi adalah cara terbaik untuk mencintai Sang Penciptanya.

(Ridha Herdiani, Pengawas SMA Cadisdik VIII)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *