Membangun Masa Depan Berbudaya

Jadikan Sekolah Pusat Kebangkitan Kesenian Sunda di Jabar

Avatar photo

Jawa Barat pernah kaya raya dengan kurang lebih 300 jenis kesenian Sunda. Bayangkan: dari tembang Cianjuran, calung, angklung, wayang golek, hingga seni tradisional lokal seperti kuda renggong, gotong singa, tarawangsa, dan karinding. Namun kini, realitasnya menyedihkan: sekitar 200 jenis sudah lenyap, puluhan lagi sekarat, dan hanya segelintir yang masih “bernapas”.

Mengapa ini harus jadi perhatian kita sebagai pendidik? Karena kesenian bukan sekadar hiburan—ia adalah ciri identitas suku bangsa, warisan leluhur, dan sumber nilai karakter yang mendalam. Banyak pidato pejabat yang mengatakan “Kesenian harus dilestarikan”, bahkan sudah ada Perda Kebudayaan. Tapi pelaksanaannya? Sering hanya jadi catatan di kertas.

Siapa yang Bertanggung Jawab? Idealnya masyarakat. Tapi masyarakat hanya akan peduli jika kesenian itu terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh nyata: selama tradisi sunatan masih hidup di Sumedang dan Subang, kuda renggong dan gotong singa tetap lestari. Namun kesenian lain yang tak terkait langsung, banyak yang hilang.

Pengalaman menunjukkan: pelestarian kesenian sering bergantung pada “orang per orang” atau pemimpin yang peduli. Saat rektor Unpad suka kesenian, kampus jadi hidup. Saat berganti, semangat pun pudar. Begitu juga di tingkat daerah.

Solusi Strategis: Sekolah sebagai “Puseur Budaya” Di sinilah sekolah punya peran besar—bahkan lebih strategis . Sekolah bisa jadi pusat budaya yang dua fungsi utamanya:

  1. Trend Setter (Pencetus Tren) Contoh historis: Seni calung yang kini menyebar luas di masyarakat, awalnya dimodifikasi mahasiswa Unpad (dari bentuk renteng jadi calung tiir/jingjing). Mahasiswa jadi “trend setter”, masyarakat ikut meniru. Sekolah bisa lakukan hal sama: murid-murid yang tampil kesenian Sunda di acara sekolah, otomatis jadi inspirasi lingkungan sekitar.
  2. Kaderisasi & Pewarisan Dengan memperkenalkan kesenian sejak dini melalui ekstrakurikuler atau integrasi mata pelajaran, kita tanamkan cinta budaya. Teori pengulangan (seperti dalam iklan) berlaku: lagu Sunda yang didengar setiap hari, gerak tari yang dilatih rutin, akan melekat dalam ingatan dan hati. Anak-anak ini kelak jadi pelaku, pencinta, atau bahkan pemimpin yang peduli pelestarian.

Integrasi dengan Pendidikan Karakter Gapura Pancawaluya di Jawa Barat dan sesuai Tri Dharma Pendidikan (mengajar, meneliti, mengabdi), sekolah bisa:

  • Mengajar: Ajarkan kesenian lokal daerah masing-masing (pantun di daerah tertentu, tanji di Sumedang, gembyung di Kuningan, dll.). Integrasikan dengan pelajaran Bahasa Sunda agar lebih menyenangkan—bukan hafalan kaku, tapi komunikasi hidup.
  • Meneliti: Inventarisasi & dokumentasi kesenian di lingkungan sekolah (rekam video, foto, deskripsi). Buat museum kecil sekolah: alat musik tradisional, kostum, atau cerita asal-usul.
  • Mengabdi: Libatkan masyarakat sekitar dalam pentas bersama. Hasil dokumentasi bisa dibukukan atau dibagikan via digital—jadikan amal jariyah pendidik.

Bayangkan: Jika setiap dari ±500 kecamatan di Jawa Barat mengembangkan satu kesenian khas daerahnya, kita bisa “menghidupkan kembali” ratusan warisan budaya. Sekolah tak perlu dana besar—alat rekam video sudah murah, semangat gotong royong guru dan murid sudah ada.

Manfaat Lebih Luas

  • Pendidikan Karakter: Kesenian ajarkan gotong royong, disiplin, dan rasa syukur.
  • Wisata & Ekonomi Lokal: Sekolah dengan pertunjukan rutin bisa jadi daya tarik wisata budaya, seperti Saung Angklung Udjo yang sukses melibatkan anak sekolah.
  • Transformasi Pendidikan Bermakna: Sesuai Kurikulum Merdeka, kita bisa buat pembelajaran berbasis proyek budaya lokal—mendalam, kontekstual, dan menyenangkan.

Guru, kepala sekolah, pengawas, dan komunitas pendidikan Jawa Barat: Mari jadikan sekolah kita pusat hidup kesenian Sunda! Mulai dari ekstrakurikuler sederhana, dokumentasi kecil-kecilan, hingga kolaborasi antar sekolah.

Punya praktik baik di sekolah Anda? Bagikan di EduJabar.com! Kirim tulisan, foto, atau video kesenian lokal yang sudah dihidupkan kembali. Bersama, kita wujudkan pendidikan Jawa Barat yang tidak hanya pintar, tapi juga kaya budaya dan bermakna.

Sumber Inspirasi: Pendidikan Karakter Gapura Pancawaluya dan Pemikiran Ganjar Kurnia (LOPIAN Unpad, 2025) – “Sakola Pikeun Puseur Kasenian”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *