Opini  

Saatnya Mengubah In House Training dari Sekadar Agenda Tahunan Menjadi Penggerak Perubahan Sekolah

Awal tahun ajaran selalu memiliki ritual yang hampir sama. Di ruang guru, kalender akademik baru ditempel. Jadwal pelajaran disusun ulang. Kepala sekolah menggelar rapat perdana. Spanduk bertuliskan In House Training (IHT) dipasang di depan aula sekolah. Selama satu atau dua hari, para guru berkumpul. Ada narasumber, presentasi, diskusi, foto bersama, sertifikat, lalu kegiatan dinyatakan selesai. Beberapa hari kemudian, tahun ajaran baru dimulai. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang sekali kita ajukan.

Apakah setelah IHT itu cara guru mengajar benar-benar berubah?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Sebab tujuan utama pelatihan bukanlah menyampaikan materi, melainkan mengubah praktik. Jika praktik tidak berubah, maka pelatihan hanya menjadi aktivitas administratif yang menghabiskan waktu, tenaga, dan anggaran. Sayangnya, inilah yang masih sering terjadi di banyak sekolah.


Paradoks IHT: Semakin Banyak Materi, Semakin Sedikit Perubahan

Setiap awal tahun, sekolah dihadapkan pada begitu banyak agenda.

  • Implementasi kurikulum.
  • Pembelajaran mendalam (deep learning).
  • Kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam pembelajaran.
  • Asesmen.
  • Literasi.
  • Numerasi.
  • Pendidikan karakter.
  • Pencegahan perundungan.
  • Pembelajaran inklusif.
  • Penguatan budaya positif.
  • Digitalisasi sekolah.

Semua tema tersebut memang penting. Persoalannya, hampir semuanya ingin dituntaskan dalam IHT yang hanya berlangsung satu atau dua hari. Akibatnya, ruang pelatihan berubah menjadi ruang transfer informasi. Guru berpindah dari satu sesi presentasi ke sesi berikutnya. Slide demi slide berganti dengan cepat. Di penghujung kegiatan, peserta memperoleh banyak pengetahuan baru, tetapi sangat sedikit kesempatan untuk mencoba. Fenomena ini sebenarnya bukan semata persoalan manajemen waktu. Ini adalah persoalan cara pandang. Kita masih menganggap bahwa belajar identik dengan mendengarkan. Padahal mengajar adalah keterampilan. Dan keterampilan tidak pernah lahir hanya dari mendengar.

Tidak ada dokter yang menjadi ahli bedah hanya karena mengikuti seminar.

Tidak ada atlet yang menjadi juara hanya karena menghadiri lokakarya teknik.

Begitu pula guru.

Mengubah cara mengajar memerlukan latihan, praktik, umpan balik, refleksi, lalu mencoba kembali.


Riset Sudah Lama Memberikan Jawabannya

Selama dua dekade terakhir, penelitian tentang pengembangan profesional guru berkembang sangat pesat. Menariknya, hampir semua penelitian sampai pada kesimpulan yang sama. Yang dibutuhkan guru bukan lebih banyak pelatihan. Yang dibutuhkan guru adalah pelatihan yang berbeda. Kajian komprehensif yang dilakukan oleh Linda Darling-Hammond, Maria Hyler, dan Madelyn Gardner terhadap 35 penelitian berkualitas menemukan bahwa pelatihan guru yang efektif selalu memiliki tujuh karakteristik. Pelatihan harus berfokus pada materi yang relevan, melibatkan pembelajaran aktif, mendorong kolaborasi, memberikan contoh praktik yang baik, menyediakan coaching atau pendampingan, memberi ruang umpan balik dan refleksi, serta berlangsung dalam durasi yang berkelanjutan.

Perhatikan satu hal penting. Tidak satu pun dari tujuh karakteristik tersebut berbicara tentang banyaknya narasumber atau tebalnya modul pelatihan. Yang ditekankan justru adalah apa yang dilakukan guru setelah pelatihan selesai. Temuan serupa muncul dalam survei internasional Teaching and Learning International Survey (TALIS) yang dilakukan OECD.

Dalam TALIS 2018, lebih dari 80 persen guru menyatakan bahwa pelatihan yang benar-benar berdampak adalah pelatihan yang memberi kesempatan untuk mempraktikkan ide baru di kelas, melibatkan pembelajaran aktif dan kolaboratif, serta menyediakan kegiatan tindak lanjut. Sebaliknya, hanya sekitar 41 persen guru yang melaporkan bahwa pelatihan paling berdampak yang mereka ikuti berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang, dan sekitar separuh saja yang disertai tindak lanjut. Dengan kata lain, riset internasional sebenarnya telah lama mengingatkan bahwa perubahan praktik mengajar membutuhkan proses, bukan sekadar paparan materi.


Mengapa Banyak IHT Berakhir Menjadi Formalitas?

Ada beberapa pola yang hampir selalu berulang. Pertama, keberhasilan IHT masih diukur dari proses administrasi. Peserta hadir. Materi selesai. Sertifikat dibagikan. Laporan selesai. Padahal ukuran keberhasilan seharusnya adalah perubahan di ruang kelas.

Kedua, hampir tidak ada implementasi. Guru selesai mengikuti pelatihan pada hari Jumat. Senin pagi mereka kembali mengajar dengan cara yang sama seperti minggu sebelumnya. Tidak ada yang mendampingi. Tidak ada yang mengamati. Tidak ada yang memberi umpan balik.

Ketiga, pelatihan berhenti ketika acara ditutup. Padahal sesungguhnya proses belajar guru baru dimulai setelah mereka kembali ke kelas.

Keempat, produk pelatihan sering kali hanya berupa dokumen. Modul ajar selesai dibuat. RPP tersusun. Perangkat lengkap. Tetapi tidak pernah diketahui apakah semua itu benar-benar digunakan dalam pembelajaran. Kita terlalu sering menghasilkan dokumen, tetapi terlalu jarang menghasilkan perubahan.


Kita Sering Salah Memahami Makna IHT

Kata “training” sering dimaknai sebagai kegiatan. Padahal hakikatnya adalah proses.

IHT bukanlah acara dua hari. IHT adalah awal dari siklus belajar guru. Kalau sekolah ingin meningkatkan kualitas pembelajaran, maka yang perlu dibangun bukan sekadar pelatihan, melainkan ekosistem belajar guru. Guru belajar. Guru mencoba. Guru diamati. Guru mendapat masukan. Guru memperbaiki pembelajaran. Guru berbagi praktik baik.

Lalu siklus itu berulang. Di sinilah letak perbedaan antara sekolah yang berkembang dan sekolah yang sekadar menjalankan program.


Mengubah IHT Tanpa Menambah Anggaran

Banyak kepala sekolah beranggapan bahwa pelatihan berkelanjutan membutuhkan biaya besar. Padahal yang paling dibutuhkan justru perubahan desain. Misalnya, IHT dua hari tetap dilaksanakan sebagai pembuka tahun ajaran. Namun setelah itu disusun siklus sederhana selama satu bulan.

Minggu pertama, guru mengikuti workshop dan menyusun perangkat pembelajaran yang benar-benar akan digunakan.

Minggu kedua, setiap guru menerapkan perangkat tersebut di kelas.

Minggu ketiga, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru inti, atau pengawas melakukan observasi singkat menggunakan instrumen yang disepakati. Fokusnya bukan mencari kesalahan, tetapi memberi umpan balik.

Minggu keempat, guru mempresentasikan pengalaman mengajar, mendiskusikan tantangan, memperbaiki perangkat, dan mendokumentasikan praktik baik. Dengan model seperti ini, biaya hampir tidak bertambah. Yang berubah adalah cara berpikir. IHT tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang selesai dalam dua hari, melainkan sebagai awal dari pembelajaran profesional yang berkelanjutan. Model seperti ini juga sejalan dengan temuan OECD bahwa dampak pelatihan meningkat ketika didukung kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah, kolaborasi antarguru, dan kesempatan menerapkan hasil belajar dalam pekerjaan sehari-hari.


Peran Kepala Sekolah dan Pengawas Perlu Bergeser

Selama ini kepala sekolah sering menjadi penyelenggara IHT. Sudah saatnya kepala sekolah menjadi pemimpin pembelajaran. Tugasnya bukan memastikan narasumber hadir tepat waktu, melainkan memastikan setiap guru mengalami perubahan praktik mengajar. Begitu pula pengawas sekolah.

Pengawas tidak cukup memeriksa dokumen pelatihan atau daftar hadir. Nilai tambah terbesar pengawas justru terletak pada kemampuannya mendampingi sekolah membangun budaya refleksi, observasi kelas, coaching, dan komunitas belajar guru.

Keberhasilan IHT tidak boleh lagi diukur dari jumlah jam pelatihan, melainkan dari jumlah guru yang berubah praktiknya dan jumlah siswa yang memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik.


Saatnya Mengganti Pertanyaan

Mungkin sudah saatnya setiap sekolah mengganti satu pertanyaan sederhana.

Bukan lagi,

“Berapa hari IHT akan dilaksanakan?”

Tetapi,

“Perubahan apa yang ingin kita lihat di ruang kelas tiga bulan setelah IHT selesai?”

Karena pendidikan tidak berubah ketika guru selesai mendengarkan materi.

Pendidikan berubah ketika guru mencoba cara baru, memperoleh umpan balik, memperbaiki pembelajarannya, lalu terus belajar bersama rekan-rekannya.

Dan perubahan sebesar itu tidak pernah lahir hanya dalam dua hari. Perubahan  lahir dari budaya belajar yang hidup di sekolah—hari demi hari, kelas demi kelas, guru demi guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *