Di sekolah, banyak orang mengira tugas utama guru hanyalah menyampaikan materi pelajaran. Padahal, jauh lebih besar dari itu, guru sesungguhnya sedang membentuk cara murid memandang dirinya, memandang dunia, bahkan memandang masa depannya. Semua itu terjadi melalui komunikasi: melalui kata-kata, nada suara, ekspresi wajah, cara menegur, cara memuji, dan cara mendengarkan.
Ilmu komunikasi modern menyebut bahwa komunikasi bukan sekadar alat menyampaikan informasi, melainkan alat untuk menciptakan realitas sosial. Apa yang terus-menerus dikatakan, didengar, dan diyakini bersama lambat laun akan dianggap sebagai kenyataan.
Di ruang kelas, teori ini terasa sangat nyata.
Seorang anak yang berulang kali mendengar kalimat, “Kamu memang malas,” perlahan bisa mempercayai bahwa dirinya benar-benar malas. Sebaliknya, seorang murid yang sering mendengar, “Saya tahu kamu bisa berkembang,” mulai membangun identitas baru tentang dirinya. Kata-kata guru akhirnya berubah menjadi cara murid mengenali dirinya sendiri.
Inilah sebabnya mengapa komunikasi pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu membangun sesuatu: membangun keberanian atau ketakutan, membangun rasa percaya diri atau rasa rendah diri, membangun semangat belajar atau justru trauma belajar.
Dalam banyak kasus, murid sebenarnya tidak terlalu mengingat isi pelajaran yang disampaikan guru bertahun-tahun lalu. Namun mereka sangat mengingat bagaimana guru memperlakukan mereka. Ada murid yang sampai dewasa masih mengingat satu kalimat penghinaan dari gurunya di depan kelas. Ada pula yang hidupnya berubah hanya karena pernah didukung oleh seorang guru yang percaya pada potensinya.
Artinya, komunikasi guru bukan sekadar percakapan biasa. Ia adalah proses pembentukan realitas psikologis murid.
Tokoh sosiologi Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa realitas sosial dibangun melalui interaksi manusia. Apa yang terus diulang dalam komunikasi akan dianggap sebagai kenyataan. Di sekolah, label-label seperti “anak pintar”, “anak nakal”, “kelas unggulan”, atau “murid bermasalah” sering kali bukan realitas objektif, melainkan hasil konstruksi komunikasi yang terus menerus diulang.
Perspektif ini menjadi semakin relevan ketika pemerintah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang menegaskan bahwa sekolah tidak cukup hanya aman secara fisik, tetapi juga harus aman secara psikologis, sosial, dan digital. Regulasi ini menempatkan kesejahteraan psikologis, hubungan yang saling menghormati, dan budaya komunikasi yang memuliakan sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan.
Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa budaya sekolah aman dan nyaman mencakup penguatan hubungan antarwarga sekolah yang setara, saling menghormati, dan saling memuliakan. Bahkan sekolah didorong melakukan deteksi dini terhadap perubahan perilaku murid, menyediakan kanal aspirasi yang aman, serta membangun komunikasi yang inklusif dan nondiskriminatif.
Artinya, paradigma pendidikan nasional mulai bergeser. Sekolah tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan kesehatan emosional dan martabat kemanusiaan murid. Ini adalah perubahan penting. Sebab banyak luka pendidikan sesungguhnya lahir bukan dari kurangnya fasilitas, melainkan dari komunikasi yang merendahkan, mempermalukan, atau mengabaikan sisi psikologis anak.
Masalahnya, banyak sekolah tanpa sadar masih membangun realitas negatif terhadap murid.
Ada sekolah yang terlalu sering menggunakan komunikasi berbasis ketakutan:
- “Kalau tidak belajar, hidupmu akan gagal.”
- “Kamu tidak akan jadi apa-apa.”
- “Anak seperti kamu sulit berhasil.”
Kalimat seperti ini mungkin dimaksudkan untuk mendisiplinkan, tetapi dalam jangka panjang justru dapat merusak identitas murid. Mereka mulai melihat dirinya sebagai pribadi yang lemah, gagal, atau tidak berharga.
Di era digital, dampaknya bahkan semakin kompleks. Murid hidup di tengah banjir komentar, label sosial, budaya viral, dan tekanan media sosial. Karena itu, Permendikdasmen tersebut juga memasukkan aspek keadaban dan keamanan digital sebagai bagian dari budaya sekolah. Sekolah diminta membangun etika komunikasi digital, literasi digital, dan perlindungan psikologis murid di ruang daring.
Sebaliknya, sekolah yang sehat biasanya dibangun melalui komunikasi yang memanusiakan. Guru hadir bukan sebagai penghakim, tetapi sebagai pembimbing pertumbuhan. Disiplin tetap ada, aturan tetap ditegakkan, tetapi komunikasi dilakukan dengan menghormati martabat murid.
Guru yang baik memahami bahwa setiap kalimat memiliki daya bentuk.
Ketika guru berkata:
“Kamu belum bisa, tetapi kamu sedang belajar,”
maka guru sedang menciptakan budaya growth mindset di kelas.
Ketika guru berkata:
“Pendapatmu menarik, coba jelaskan lebih lanjut,”
maka guru sedang menciptakan realitas bahwa suara murid layak dihargai.
Ketika guru berkata:
“Tidak apa-apa salah, yang penting mau mencoba,”
maka guru sedang membangun ruang psikologis yang aman untuk belajar.
Karena itu, sekolah masa depan sesungguhnya bukan hanya sekolah yang gedungnya megah atau teknologinya canggih. Sekolah masa depan adalah sekolah yang komunikasinya sehat. Sekolah yang membuat murid merasa aman untuk bertanya, aman untuk salah, aman untuk berkembang, dan aman menjadi dirinya sendiri.
Guru masa kini tidak cukup hanya menguasai materi ajar. Guru juga perlu menguasai literasi komunikasi:
- bagaimana berbicara yang membangun,
- bagaimana memberi kritik tanpa merendahkan,
- bagaimana mendengar dengan empati,
- bagaimana menciptakan suasana dialogis di kelas.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi transfer cara memandang kehidupan.
Sekolah yang hebat bukan hanya sekolah yang menghasilkan nilai tinggi, melainkan sekolah yang komunikasinya membuat murid merasa:
- dihargai,
- dipercaya,
- aman,
- dan memiliki harapan.
Karena sering kali masa depan seorang anak berubah bukan oleh satu buku, melainkan oleh satu percakapan yang tepat pada waktu yang tepat.
Dan mungkin itulah kekuatan terbesar seorang guru:
bukan sekadar mengajar pelajaran, tetapi membantu murid membangun realitas terbaik tentang dirinya sendiri.
Baca juga: Strategi Praktis Mengajar Gen Z dan Paket Pendukungnya











