Digitalisasi Kelas Lewat IFP, Inovasi Pembelajaran Hadir hingga Jawa Barat

Avatar photo

BANDUNG, EDUJABAR.COM – Transformasi digital pendidikan terus bergerak di berbagai daerah, termasuk di Jawa Barat. Salah satu wujud konkret inovasi tersebut adalah pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital yang kini mulai mengubah wajah pembelajaran di ruang kelas.

Program digitalisasi pembelajaran yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini tidak hanya menghadirkan perangkat teknologi, tetapi juga membuka ruang kreativitas baru bagi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

Kelas Lebih Interaktif dan Partisipatif

Pemanfaatan IFP memungkinkan guru menyajikan materi secara visual, menghadirkan video pembelajaran, simulasi interaktif, hingga kuis digital secara langsung di layar sentuh. Proses pembelajaran pun tidak lagi satu arah.

Di Jawa Barat, praktik baik pemanfaatan IFP terlihat di SLB Negeri Trituna, Kabupaten Subang. Guru kelas di sekolah tersebut, Edwin Waliudin, merasakan langsung dampak positif penggunaan perangkat ini terhadap minat belajar siswa.

“Anak-anak lebih tertarik belajar karena ada tampilan visual dan suara. Mereka bisa langsung berinteraksi dengan layar,” ujar Edwin Waliudin.

Menurutnya, teknologi IFP membantu siswa lebih fokus dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Bagi siswa berkebutuhan khusus, pendekatan visual dan audio yang interaktif menjadi sangat membantu dalam memahami materi.

Inovasi yang Mendorong Kreativitas Guru

Penggunaan IFP tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi juga mendorong kreativitas guru dalam menyusun metode pengajaran. Fitur whiteboard digital, akses internet, serta integrasi berbagai aplikasi pembelajaran memungkinkan guru mengembangkan strategi belajar yang lebih variatif.

Pemerintah menegaskan bahwa perangkat digital seperti IFP hanyalah alat bantu. Kunci utama tetap berada pada kompetensi dan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam Konsolidasi Nasional Pendidikan 2026 di Depok, menegaskan komitmen pemerintah terhadap program ini.

“Program IFP, alhamdulillah, seluruhnya untuk sekitar 288 ribu satuan pendidikan telah terdistribusi 100 persen dan hampir seluruhnya sudah mulai dipergunakan,” ujar Abdul Mu’ti.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa digitalisasi pembelajaran kini bukan lagi wacana, melainkan sudah masuk ke ruang-ruang kelas di berbagai daerah.

Komitmen Transformasi Digital Pendidikan

Distribusi IFP ke satuan pendidikan menjadi bagian dari strategi nasional mempercepat transformasi digital pembelajaran. Program ini diharapkan mampu memperkecil kesenjangan akses teknologi sekaligus meningkatkan kualitas interaksi di dalam kelas.

Di Jawa Barat, respons positif dari para guru menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar program, melainkan kebutuhan nyata untuk menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21.

Pemanfaatan IFP di ruang kelas menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus rumit. Dengan perangkat yang tepat dan guru yang adaptif, suasana belajar dapat berubah menjadi lebih interaktif, partisipatif, dan menyenangkan bagi peserta didik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *