Pertanyaan inilah yang menjadi titik awal laporan terbaru UNICEF berjudul Digital Education Strategy 2025–2030: Beyond Digital As Usual.
Pesan utama laporan tersebut cukup tegas. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak teknologi di sekolah. Dunia membutuhkan teknologi yang benar-benar meningkatkan pembelajaran.
UNICEF menilai bahwa terlalu banyak program pendidikan digital yang terjebak pada pendekatan “digitalisasi” semata. Buku cetak dipindahkan ke layar, lembar kerja diubah menjadi aplikasi, atau perangkat dibagikan kepada siswa tanpa strategi pembelajaran yang jelas. Akibatnya, miliaran dolar investasi teknologi pendidikan di berbagai negara belum memberikan dampak signifikan terhadap hasil belajar siswa.
Padahal tantangan pendidikan dunia saat ini sangat serius. UNICEF mencatat sekitar 273 juta anak masih berada di luar sekolah. Sementara itu, sekitar 600 juta anak belum mencapai kemampuan minimum membaca dan matematika meskipun sebagian besar dari mereka sudah bersekolah. Dunia juga masih kekurangan sekitar 44 juta guru untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar dan menengah. Di sisi lain, sekitar 1,3 miliar anak usia sekolah belum memiliki akses internet di rumah.
Melihat kondisi tersebut, UNICEF menawarkan perubahan paradigma besar.
Alih-alih menempatkan teknologi sebagai pusat pendidikan, UNICEF justru menempatkan guru dan peserta didik sebagai pusat transformasi digital. Teknologi dipandang hanya sebagai alat untuk membantu proses belajar, bukan tujuan akhir pendidikan.
Dalam strategi barunya, UNICEF menekankan delapan perubahan penting. Salah satu yang paling menarik adalah pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada teknologi menuju pendekatan yang berpusat pada manusia. Guru harus diperkuat kapasitasnya, bukan sekadar dibebani dengan berbagai aplikasi baru. Siswa harus memperoleh pengalaman belajar yang lebih personal, adaptif, dan inklusif sesuai kebutuhan mereka.
UNICEF juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan digital bukanlah berapa banyak perangkat yang dibagikan atau berapa banyak siswa yang masuk ke platform pembelajaran. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah apakah anak benar-benar belajar. Apakah kemampuan literasi meningkat. Apakah numerasi membaik. Apakah keterampilan abad ke-21 berkembang.
Karena itu, strategi baru UNICEF berfokus pada lima prioritas utama: pemberdayaan guru, penguatan literasi dan numerasi dasar, pengembangan kompetensi masa depan termasuk keterampilan digital dan AI, penguatan sistem pendidikan berbasis data, serta pengembangan kebijakan pendidikan yang berbasis bukti.
Bagi Indonesia, pesan UNICEF ini terasa sangat relevan.
Selama ini, diskusi pendidikan sering kali terfokus pada kurikulum, aplikasi, platform, atau perangkat teknologi terbaru. Padahal, persoalan mendasar yang dihadapi banyak sekolah masih berkaitan dengan kualitas pembelajaran di kelas. Anak hadir di sekolah, tetapi belum tentu belajar secara optimal. Guru mengajar, tetapi belum tentu memperoleh dukungan yang cukup untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
UNICEF mengingatkan bahwa transformasi digital bukanlah tentang menghadirkan lebih banyak layar di ruang kelas. Transformasi digital adalah tentang bagaimana teknologi membantu guru mengajar lebih baik dan membantu siswa belajar lebih efektif.
Di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), pesan ini menjadi semakin penting. Masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan oleh seberapa besar teknologi tersebut membantu setiap anak belajar, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang perangkat. Pendidikan adalah tentang manusia yang belajar.
Sumber utama:












