Adalah sebuah flyer yang menampilkan hasil survei Pusat Data memberikan sebuah gambaran yang menarik sekaligus menggembirakan tentang profesi guru. Dalam survei tersebut, guru tercatat sebagai profesi yang mendapatkan tingkat kepercayaan masyarakat sebesar 74 persen, sementara tingkat ketidakpercayaannya berada di sekitar 7 persen. Posisi ini menempatkan guru pada peringkat pertama sebagai profesi yang dipercaya masyarakat.
Angka 74 persen tentu bukan sekadar angka statistik. Di balik angka tersebut terdapat sebuah pesan penting bahwa masyarakat masih menaruh harapan besar kepada guru. Guru masih dipandang sebagai sosok yang dapat dipercaya untuk mendidik, membimbing, membentuk karakter, dan ikut menentukan masa depan anak-anak mereka. Kepercayaan ini menjadi sesuatu yang menarik jika kita melihat kondisi profesi guru saat ini. Guru berada di tengah gempuran informasi dan media sosial, perkembangan teknologi yang sangat cepat, hadirnya kecerdasan buatan, perubahan karakter peserta didik, tuntutan administrasi, persoalan karier, hingga persoalan kesejahteraan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Pertanyaannya kemudian, mengapa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap guru masih begitu tinggi?
Jawabannya mungkin karena guru memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Hampir setiap orang pernah menjadi murid dan hampir setiap orang memiliki pengalaman dengan seorang guru. Guru bukan hanya seseorang yang berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pelajaran. Guru hadir dalam proses pertumbuhan seorang anak. Guru melihat bagaimana seorang anak belajar, mengalami kesulitan, melakukan kesalahan, mencoba kembali, menemukan potensi, membangun kepercayaan diri, hingga akhirnya berkembang menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Adalah saat orang tua menyerahkan anaknya kepada sekolah, sesungguhnya mereka tidak hanya menitipkan anak untuk belajar membaca, menulis, berhitung, menghafal atau memahami berbagai mata pelajaran. Mereka menitipkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu masa depan anaknya. Di sinilah letak kepercayaan masyarakat terhadap guru. Ada harapan bahwa guru tidak hanya membuat anak menjadi pintar, tetapi juga menjadi manusia yang baik.
Guru dipercaya karena masyarakat melihat guru sebagai sosok yang memiliki tanggung jawab moral. Seorang guru tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga harus mampu menjadi teladan. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang dikatakan guru, tetapi juga melihat bagaimana guru bersikap. Guru yang disiplin mengajarkan kedisiplinan. Guru yang jujur mengajarkan kejujuran. Guru yang menghargai peserta didik mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Bahkan cara guru menghadapi masalah, mengendalikan emosi dan memperlakukan orang lain dapat menjadi pembelajaran yang jauh lebih kuat daripada materi yang tertulis di dalam buku.
Lantas , guru yang dipercaya masyarakat bukanlah guru yang sempurna. Guru yang dipercaya adalah guru yang terus berusaha menjaga integritas, meningkatkan kompetensi, menghargai peserta didik dan konsisten antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Kepercayaan tersebut dibangun melalui perilaku sehari-hari. Ia tidak lahir dari gelar, jabatan atau sertifikat semata, tetapi dari pengalaman masyarakat ketika berinteraksi dengan guru.
Namun di balik tingginya kepercayaan tersebut terdapat sebuah ironi. Profesi yang begitu dipercaya masyarakat ternyata belum sepenuhnya mendapatkan kondisi yang sebanding dengan besarnya amanah yang diemban. Masih terdapat guru yang menghadapi persoalan karier, status kepegawaian, kesempatan pengembangan profesi dan terutama persoalan kesejahteraan. Kondisi guru honorer menjadi salah satu gambaran yang paling nyata. Masih ada guru yang mengajar dengan penuh dedikasi, tetapi memperoleh penghasilan yang relatif kecil.
Guru dituntut profesional. Guru harus menguasai teknologi. Guru harus memahami karakter peserta didik. Guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna dan mendalam. Guru harus mengikuti perkembangan kurikulum, asesmen dan berbagai kebijakan pendidikan. Guru juga harus menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. Namun pada saat yang sama, masih ada guru yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Maka di sinilah kita perlu membedakan antara kemuliaan profesi dengan kesejahteraan profesi. Guru dapat menjadi profesi yang mulia karena tugasnya mendidik manusia, tetapi kemuliaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraannya. Guru yang berdedikasi tentu layak mendapatkan penghargaan yang layak. Kepercayaan masyarakat terhadap guru semestinya diikuti oleh perhatian yang serius terhadap kualitas dan kesejahteraan guru.
Dalam perspektif Islam, tugas mendidik dan mengajarkan ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat tersebut memberikan pesan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang tinggi. Orang yang mengajarkan ilmu berarti mengambil bagian dalam proses mencerdaskan dan memuliakan manusia. Rasulullah SAW juga bersabda:“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari)
Pesan tersebut semakin menegaskan bahwa aktivitas belajar dan mengajar bukanlah aktivitas biasa. Di dalamnya terdapat nilai pengabdian dan amanah.
Faktanya tantangan guru hari ini jauh berbeda dengan masa lalu. Dahulu guru menjadi salah satu sumber utama pengetahuan. Sekarang peserta didik dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber hanya melalui telepon genggam. Mereka dapat bertanya kepada mesin pencari, menonton video pembelajaran, mengikuti berbagai komunitas digital, bahkan menggunakan kecerdasan buatan untuk mendapatkan jawaban.
Apakah kondisi tersebut kemudian membuat guru kehilangan peran?
Justru tidak. Peran guru semakin penting, tetapi bentuknya mengalami perubahan. Ketika informasi begitu melimpah, peserta didik membutuhkan seseorang yang membantu mereka memilah mana informasi yang benar dan mana yang keliru. Ketika kecerdasan buatan mampu memberikan berbagai jawaban, peserta didik membutuhkan guru yang membimbing mereka untuk berpikir kritis, menggunakan teknologi secara etis dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan.
AI mungkin dapat memberikan jawaban, tetapi guru tetap memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang mampu menggunakan jawaban tersebut secara bijaksana.
Karena itu, guru harus terus berubah tanpa kehilangan jati dirinya. Guru perlu menguasai teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan sentuhan kemanusiaan. Guru perlu memahami kecerdasan buatan, tetapi tidak boleh kehilangan kecerdasan emosional. Guru perlu mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap harus menjadi penjaga nilai, karakter dan moral peserta didik.
Angka 74 persen tingkat kepercayaan masyarakat seharusnya menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Bangga karena masyarakat masih mempercayai guru, tetapi bertanggung jawab untuk menjaga kepercayaan tersebut. Kepercayaan tidak boleh disia-siakan. Sekali kepercayaan rusak, tidak mudah untuk mengembalikannya.
Karena itu, guru perlu terus menjaga profesionalisme, meningkatkan kompetensi, membangun keteladanan, menghargai peserta didik, terbuka terhadap perubahan dan menjunjung tinggi integritas profesi. Guru juga harus membangun komunikasi yang baik dengan orang tua karena pendidikan tidak mungkin berhasil jika sekolah dan keluarga berjalan sendiri-sendiri.
Pada saat yang sama, masyarakat dan pemerintah juga perlu memberikan perhatian yang lebih serius kepada guru. Jangan hanya menuntut guru untuk profesional, tetapi juga berikan ruang untuk berkembang. Jangan hanya berbicara tentang kualitas pendidikan, tetapi perhatikan pula kualitas kehidupan pendidiknya. Jangan hanya memberikan penghargaan pada saat tertentu, tetapi bangun sistem yang membuat guru dapat menjalankan profesinya secara bermartabat.
Pada akhirnya, menjadi guru memang bukan profesi yang selalu mudah. Ada perjuangan, ada keterbatasan dan ada berbagai persoalan yang harus dihadapi. Namun ketika masyarakat masih memberikan kepercayaan sebesar 74 persen, sesungguhnya terdapat sebuah modal sosial yang sangat berharga.
Masyarakat menitipkan anak kepada guru. Orang tua menitipkan harapan kepada guru. Negara menitipkan masa depan bangsa kepada guru. Dan agama memberikan penghargaan tinggi kepada orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu.
Maka menjadi guru bukan sekadar menjalankan pekerjaan. Menjadi guru adalah menerima amanah. Amanah untuk mencerdaskan, membimbing, mendampingi dan memanusiakan manusia.
Karena itu, mari kita jaga kepercayaan masyarakat tersebut dengan kompetensi, keteladanan, integritas dan kasih sayang. Sebab pada akhirnya, guru bukan sekadar profesi yang dipercaya masyarakat. Guru adalah profesi yang dipercaya untuk ikut menentukan seperti apa masa depan masyarakat dan bangsa ini……… Wallahu A’lam Bishawab













Alhamdulillah
Guru Provesi yang dipercaya Masyarakat.
Sebagian Pusat Moral dan Teladan:
Guru sering menjadi panutan dalam bersikap dan berperilaku baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
Niat yang Tulus:
Tugas mendidik dinilai murni bertujuan mencerdaskan anak bangsa tanpa pamrih.Kompetensi dan Keahlian
Guru dibekali ilmu pengetahuan serta kemampuan pedagogis untuk membimbing anak-anak dengan benar.
Guru sebagai Sumber Informasi yang Valid:
Di tengah arus informasi yang deras, penjelasan dari seorang guru di kelas maupun masyarakat dianggap objektif dan dapat diandalkan.
Namun miris karena guru mendapat penghasilan yang tidak seimbang bahkan kecil dibandingkan pengorbanan dan jasanya untuk masyarakat bangsa dan negara
Tulisannya Sangat inspiratif bapak …sehat selalu pa Doktor
Alhamdulillah pernah jadi guru
Guru harus terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi agar kreativitasnya dalam memfasilitasi murid dapat terus dipercaya dan tidak dapat tergantikan oleh kecanggihan tehnologi manapun,
Guru harus terus beradaptasi melalui pengembangan kompetensi dan kreativitas agar kehadirannya tidak fapat tergantikan oleh krcanggihan tehnologi yg berkembang sesuai madanya
Guru harus terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi agar kreativitasnya dalam memfasilitasi murid dapat terus dipercaya dan tidak dapat tergantikan oleh kecanggihan tehnologi manapun, karena profesi guru merupakan profesi panggilan hati
Semoga hal ini menjadi motivasi bagi guru untuk bekerja dengan hati dalam mendidik anak anak bangsa yang berkualitas.
Alhamdulillah profesi kita masih diberikan kepercayaan oleh masyarakat, walau tidak sedikit jg oknum2 yg mencoreng profesi guru… Semoga dengan adanya survey ini menambah motivasi kita sebagai pendidik untuk lebih baik lagi memanusiakan manusia… Dan dapat mencerdaskan bangsa… Aamiin YRA
Barakallahu, semoga para Pendidik selalu amanah aamiin ya Rabb
Tulisan yang sangat menarik, guru harus selalu meningkatkan kompetensinya agar dapat membimbing murid dengan lebih baik sehingga dapat menghasilkan anak-anak yang berkualitas
Alhamdulillah, semoga guru sebagai pengemban profesi mulia ini menjadi inspirasi bagi kehidupan nyata di luar kelas.
Terima kasih Pak atas insightnya. Semoga guru-guru dimanapun selalu dapat saling menginspirasi dan tidak lelah menerangi
Memang betul hingga saat ini sebagian besar masyarakat kita masih menghormati profesi guru sebagai salah satu profesi mulia dan masih percaya terhadap istilah guru digugu dan ditiru. Namun sayang sekali hal tersebut berbanding terbalik dengan kesejahteraan yang belum maksimal.