Pesantren Ekologi SMAN 8 Kota Cirebon, Ajak Siswa Peduli Bumi

CIREBON – Ramadhan kali ini, suasana di SMAN 8 Kota Cirebon agak berbeda dari biasanya. Sekolah yang berada tepat di tengah Kota Udang ini menyelenggarakan Pesantren Ekologi. Ini adalah program yang bertujuan membangun karakter sekaligus mengajarkan nilai-nilai spiritual dan peduli terhadap lingkungan. Menariknya, kegiatan yang  diselenggarakan mulai tanggal 24 Februari hingga 13 Maret 2026 tidak hanya menyasar  siswa yang beragama Islam saja, melainkan siswa non Muslimpun turut terlibat.  SMAN 8 Kota Cirebon benar-benar menunjukkan sisi tolerannya dengan mengajak siswa non-Muslim untuk terlibat aktif dalam kegiatan tersebut sesuai dengan basis keyakinan mereka untuk sama-sama memuliakan lingkungan hidup.

Perspektif Non Muslim dalam Konservasi Alam

Siswa non-Muslim  yang beragama Kristen mengikuti kegiatan khusus yang disebut “Ekologi  Perspektif  Kristen”, yang dipimpin oleh seorang guru beragama Kristen. Kegiatan tersebut bukan sekadar ceramah di kelas, melainkan  penyelaman mendalam tentang bagaimana iman Kristen memandang tugas sebagai manusia untuk menjaga ciptaan Tuhan. “ Kegiatan tersebut dinilai sangat membantu untuk meningkatkan kesadaran lingkungan bagi siswa non Muslim. Kami ingin membentuk karakter seluruh siswa, apapun latar belakang keyakinannya agar mereka  memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan hidup dimanapun mereka berada,” ujar Kepala SMAN 8 Kota Cirebon, Hj. Emay S.Pd., M.Pd.

Dari Menanam Pohon hingga “Rantang Kanyaah”

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 8 Kota Cirebon, Sri Kustari, S.Pd., menjelaskan, pelaksanaan program ini dirancang agar siswa langsung terjun ke lapangan. Siswa didorong untuk terlibat dalam kegiatan nyata yang ramah lingkungan, seperti membersihkan halaman sekolah, mengikuti upaya penanaman pohon, dan berpartisipasi dalam kampanye konservasi energi,  dan semangat berbagi. Para siswa langsung mengikuti acara “Poe Ibu” dan “Rantang Kanyaah”, di mana mereka berbagi makanan dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan di lingkungan masyarakat sekitar sekolah.  “Saya melihat bagaimana nilai-nilai keyakinan mereka berperan dalam tindakan mereka sebagai siswa dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diajak untuk memahami bahwa mencintai Tuhan berarti juga mencintai dan merawat bumi beserta isinya,” tambah Sri Kustari.

Membangun Karakter Lintas Agama

Melalui Pesantren Ekologi ini, SMAN 8 Kota Cirebon berhasil membuktikan bahwa isu lingkungan adalah isu bersama yang mampu menyatukan perbedaan. Program yang dirancang selama hampir tiga minggu, para siswa belajar bahwa karakter yang kuat tidak hanya lahir dari ketaatan beribadah, tetapi juga dari sejauh mana mereka peduli pada keberlanjutan lingkungan hidup. Program ini diharapkan menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di Jawa Barat untuk terus menggaungkan semangat eco-tolerance—di mana moderasi beragama berjalan beriringan dengan kelestarian alam. (red/nr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *