Media sosial telah mengubah lanskap eksistensi manusia secara radikal. Hari ini, kehidupan tidak lagi cukup sekadar dijalani; kehidupan harus dipresentasikan, dikurasi, dan dipertontonkan. Kehadiran panggung digital menggeser filosofi Cartesian dari “Aku berpikir, maka aku ada” menjadi “Aku mengunggah, maka aku diakui.”
Manusia modern tidak lagi sekadar bekerja, melainkan sibuk mengondisikan agar terlihat sibuk (hustle culture). Tidak sekadar belajar, tetapi bergegas memamerkan sertifikat digital demi lencana kompetensi. Tidak sekadar beribadah, tetapi juga membagikan fragmen spiritualitasnya. Bahkan kesederhanaan dan kepasrahan pun kini bertransformasi menjadi komoditas estetika visual yang baru.
Metamorfosis Flexing: Dari Komoditas ke Identitas
Fenomena yang populer disebut flexing ini awalnya identik dengan demonstrasi kekayaan material secara vulgar. Namun, seiring waktu, fenomena ini mengalami sublimasi. Sosiolog Thorstein Veblen dalam teorinya mengenai Conspicuous Consumption (konsumsi mencolok) menyatakan bahwa pamer dilakukan untuk meraih status sosial. Di era algoritma, teori ini meluas menjadi conspicuous exhibitionpameran diri secara mencolok di ruang digital.
Flexing kini tidak lagi monolitik, melainkan telah bermutasi ke berbagai lini kehidupan:
-
Academic Flexing: Gelar akademik yang berderet, dokumentasi seminar, publikasi ilmiah, hingga relasi dengan tokoh intelektual dipertontonkan secara intensif untuk menegaskan hierarki kasta berpikir.
-
Hustle Flexing (Flexing Kesibukan): Kebanggaan atas kelelahan, jam kerja yang tidak sehat, dan tumpukan tugas. Berdasarkan riset dari Harvard Business Review, budaya ini menggeser kesibukan dari yang semula merupakan beban menjadi simbol status dan produktivitas elite.
-
Virtue Signaling (Flexing Moral): Upaya menunjukkan diri sebagai entitas yang paling peduli, paling bijak, paling toleran, atau paling benar secara moral di hadapan publik demi memanen validasi sosial.
Ironisnya, budaya ini bergerak sangat halus karena arsitektur media sosial memang dirancang untuk itu. Algoritma didesain berbasis attention economy (ekonomi perhatian).Riset dari Princeton University menunjukkan bahwa konten yang memicu emosi moral-emosional (seperti kekaguman ekstrem atau kemarahan) mendapatkan tingkat engagement (keterlibatan) 20% lebih tinggi untuk setiap kata emosional yang digunakan. Semakin memicu rasa iri atau takjub, semakin besar panggung yang diberikan oleh algoritma.
Kelelahan Eksistensial Manusia Modern
Di titik inilah manusia modern mulai mengalami kelelahan psikologis yang masif dan sistemis. Banyak orang mengalami depresi bukan karena realitas hidupnya terlalu berat, melainkan karena beban ekspektasi untuk terus terlihat berhasil. Ada tekanan konstan untuk tampak bahagia, tampak mapan, tampak produktif, tampak harmonis, bahkan tampak tenang.
Sebuah studi komprehensif yang dirilis oleh Royal Society for Public Health (RSPH) di Inggris menemukan bahwa media sosial, khususnya platform berbasis visual, menjadi pemicu utama meningkatnya kecemasan, depresi, dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out) pada generasi muda. Media sosial telah berubah menjadi etalase kehidupan ideal yang artifisial.
Publik dipaksa mengonsumsi hasil akhir (output) yang telah melalui proses penyuntingan berlapis, tanpa pernah diizinkan melihat proses (input) yang penuh dengan kecemasan, kegagalan, konflik, maupun air mata di balik layar.
Reduksi Esensi di Ruang Akademik dan Pendidikan
Dunia pendidikan pun tidak luput dari infiltrasi budaya pencitraan ini. Di lingkungan akademik, flexing hadir dalam bentuk yang lebih rapi, terstruktur, dan berbalut retorika intelektual. Foto kegiatan formal, klaim implementasi kebijakan baru, hingga kebersamaan dengan pemangku kebijakan sering kali dijadikan alat legitimasi kompetensi diri.
Padahal, hakikat pendidikan sejatinya bukanlah tentang siapa yang paling terlihat pintar atau siapa yang paling cepat mengadopsi tren, melainkan siapa yang paling memberikan dampak nyata bagi pembelajaran.
Ketika ruang akademik berubah menjadi panggung teatrikal untuk memamerkan “praktik baik” yang distimulasi demi konten, esensi dari kerendahan hati akademik (intellectual humility) perlahan runtuh. Diskusi edukatif bergeser menjadi arena kontestasi ego.
Dampaknya sangat nyata di lapangan: guru-guru muda dan pendidik di daerah sering kali mengalami imposter syndrome dan merasa minder. Mereka merasa tidak berdaya hanya karena ruang kelas mereka tidak estetik atau tidak viral, meskipun mereka sedang melakukan kerja-kerja substantif dalam mencerdaskan siswa.
Sikap ini selaras dengan konsep Simulakra yang dicetuskan oleh filsuf Jean Baudrillard: ketika representasi atas sesuatu menjadi lebih penting daripada sesuatu yang asli itu sendiri. Tampilan luar dari pendidikan dinilai lebih berharga daripada proses transfer ilmu yang terjadi di dalam kelas.
Krisis Validasi pada Generasi Digital Native
Dampak yang paling mengkhawatirkan dari ekosistem ini terjadi pada generasi muda yang tumbuh sebagai digital natives. Mereka berkembang dengan parameter keberhasilan yang sangat visual dan instan. Keberhasilan tidak lagi diukur dari kedalaman proses atau ketangguhan menghadapi proses, melainkan dari kecepatan meraih rekognisi.
Validasi sosial telah bergeser menjadi kebutuhan psikologis harian yang adiktif. Berdasarkan penelitian neurosains, setiap likes, komentar positif, dan views yang diterima di media sosial memicu pelepasan dopamin di otak hormon yang bertanggung jawab atas rasa senang dan kecanduan. Akibatnya, harga diri (self-esteem) generasi muda kini sangat fluktuatif, tergantung pada angka-angka metrik digital yang bergerak di layar ponsel mereka.
Padahal, realitas kehidupan nyata tidak pernah bekerja dengan prinsip algoritma media sosial. Kehidupan nyata itu linier, kadang menjemukan, penuh dengan kegagalan yang tidak estetik, serta proses panjang yang tidak menarik untuk diunggah. Ketika ekspektasi digital berbenturan dengan realitas yang lambat, terjadilah krisis mentalitas yang meluas.
Kehormatan dalam Diam: Menghargai yang Tak Tampak
Di tengah riuhnya budaya flexing, kita sering kali lupa memberikan penghormatan tertinggi kepada mereka yang memilih atau terpaksa bekerja dalam kesunyian (working in silence):
-
Para guru di pelosok negeri yang tetap mengajar dengan ketulusan penuh meski ruang kelasnya tidak pernah masuk algoritma fyp (for you page).
-
Para orang tua yang memeras keringat demi masa depan anak-anak mereka tanpa sedikit pun berniat menjadikannya konten demi simpati publik.
-
Para profesional dan pegawai yang menjaga integritasnya, bekerja jujur tanpa sibuk membangun personal branding yang manipulatif.
Mereka adalah jangkar realitas yang sesungguhnya. Mereka mungkin tidak ramai diperbincangkan di kolom komentar, tidak memiliki ribuan pengikut, namun dampak kehadiran mereka nyata dirasakan oleh lingkungan sekitar.
Menemukan Kembali Autentisitas
Pada akhirnya, kita perlu menyadari kembali bahwa tidak semua hal di dunia ini harus diumumkan agar bernilai. Tidak semua pencapaian harus dipamerkan agar dianggap bermakna. Ada jenis ketenangan dan kemewahan psikologis yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri mereka yang tidak lagi sibuk berburu validasi dari orang-orang asing di internet.
Hidup, pada hakikatnya, bukanlah kompetisi tentang siapa yang paling terlihat hebat di layar gawai. Hidup adalah tentang bagaimana kita tetap mempertahankan otentisitas, ketulusan, dan integritas di tengah dunia yang semakin bising memaksa semua orang untuk mempertontonkan segalanya.











