Jatinangor, 14 Agustus 2026 — Peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu langkah strategis dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan kebijakan pendidikan, serta tantangan pembelajaran di era digital. Hal tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Workshop Penguatan Kompetensi Guru yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh SMA dan SMK Darul Fatwa Jatinangor, Jumat, 14 Agustus 2026.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah materi yang relevan dengan kebutuhan guru masa kini. Selain pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran, kegiatan juga membahas implementasi budaya sekolah aman dan nyaman sesuai regulasi terbaru, pengembangan kreativitas guru, serta pentingnya bijak dalam bermedia sosial.
Kegiatan mendapatkan pendampingan dari Tubagus Hidayat,M.Hum selaku Pengawas SMK dan Dr. Syarif Hidayat selaku Pengawas SMA. Sementara itu, Diah Kusumami, M.M.Pd. turut hadir sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.
Penguatan Kompetensi Guru melalui Kolaborasi
Pelaksanaan workshop secara bersama antara SMA dan SMK Darul Fatwa Jatinangor menjadi salah satu kekuatan kegiatan. Guru dari kedua jenjang memperoleh kesempatan untuk belajar bersama, bertukar pengalaman, dan mengembangkan praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kolaborasi ini juga menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru dapat dilakukan secara bersama-sama dengan memanfaatkan sumber daya dan pengalaman yang dimiliki masing-masing satuan pendidikan.
Kehadiran pengawas dari kedua jenjang semakin memperkuat proses pendampingan. Tubagus Hidayat sebagai Pengawas SMK dan Dr. Syarif Hidayat sebagai Pengawas SMA memberikan penguatan kepada guru dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan sekaligus mendorong agar hasil workshop dapat diimplementasikan dalam praktik nyata di sekolah.
AI sebagai Pendukung Kreativitas Pembelajaran
Salah satu tema penting dalam workshop adalah pemanfaatan AI dalam pembelajaran. Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan berbagai inovasi dalam proses pembelajaran.
AI dapat dimanfaatkan untuk membantu guru mencari ide, mengembangkan bahan ajar, merancang aktivitas pembelajaran, maupun menyusun berbagai alternatif pembelajaran.
Namun, pemanfaatan AI tetap membutuhkan kemampuan profesional guru. Setiap informasi yang dihasilkan teknologi perlu diperiksa, dikaji, dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik peserta didik.
Dengan pendekatan tersebut, AI ditempatkan sebagai alat bantu bagi guru, bukan sebagai pengganti peran guru.
Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman
Workshop juga memberikan perhatian terhadap implementasi budaya sekolah aman dan nyaman sesuai dengan regulasi terbaru.
Sekolah merupakan lingkungan tempat peserta didik belajar, berkembang, dan membangun karakter. Karena itu, suasana sekolah yang aman, nyaman, positif, dan mendukung proses belajar menjadi bagian penting dari peningkatan mutu pendidikan.
Guru memiliki peran strategis dalam membangun budaya tersebut melalui komunikasi yang positif, keteladanan, pendampingan kepada peserta didik, serta kemampuan menciptakan hubungan yang sehat di lingkungan sekolah.
Pemahaman terhadap kebijakan dan regulasi terbaru diharapkan dapat membantu warga sekolah menerapkannya secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Mendorong Guru Kreatif dan Profesional
Materi workshop juga diarahkan pada pengembangan guru agar semakin kreatif, inovatif, dan adaptif.
Guru kreatif bukan hanya guru yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan strategi pembelajaran yang menarik, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kreativitas guru dapat diwujudkan melalui metode pembelajaran yang beragam, penggunaan media yang tepat, pengembangan aktivitas peserta didik, serta kemampuan mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi kehidupan nyata.
Dalam konteks tersebut, teknologi AI dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu guru mengembangkan ide dan memperkaya pembelajaran.
Bijak dalam Bermedia Sosial
Penggunaan media sosial juga menjadi bagian penting dalam pengembangan profesionalisme guru. Di era digital, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik di ruang kelas, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat digital.
Karena itu, guru perlu memiliki kesadaran untuk menggunakan media sosial secara bijak, etis, dan bertanggung jawab. Verifikasi informasi, menjaga privasi, menggunakan bahasa yang santun, serta mempertimbangkan dampak setiap unggahan merupakan bagian dari literasi digital yang penting bagi seorang pendidik.
Media sosial juga dapat dimanfaatkan secara positif sebagai sarana berbagi praktik baik pembelajaran, membangun jejaring profesional, dan menyebarluaskan informasi pendidikan yang bermanfaat.
Kehadiran Diah Kusumami, M.M.Pd. sebagai Narasumber turut memperkaya kegiatan workshop. Materi yang disampaikan menjadi bagian dari rangkaian penguatan kompetensi guru agar peserta mendapatkan wawasan yang lebih luas dan dapat menghubungkan berbagai aspek profesionalisme guru dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
Dengan menghadirkan lebih dari satu perspektif, workshop tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada pengembangan kapasitas guru secara lebih menyeluruh.
Kepala Sekolah: Kompetensi Guru Harus Terus Ditingkatkan
Kepala SMK Darul Fatwa Jatinangor, Deky Zakiyah, menegaskan bahwa workshop ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya peningkatan kompetensi guru.
Menurutnya, guru perlu terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan. Perkembangan teknologi, perubahan kebijakan pendidikan, dinamika peserta didik, serta perkembangan media sosial menuntut guru untuk terus mengembangkan diri.
Oleh karena itu, kegiatan pengembangan kompetensi seperti workshop perlu diarahkan agar memberikan dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran dan budaya sekolah.
Dari Workshop Menuju Praktik Baik
Kegiatan pada 14 Agustus 2026 tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh guru perlu ditindaklanjuti melalui penerapan dalam pembelajaran dan kehidupan sekolah.
Guru diharapkan mampu memanfaatkan AI secara bijak, mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran, memahami implementasi budaya sekolah aman dan nyaman, serta menjadi teladan dalam bermedia sosial.
Kolaborasi SMA dan SMK Darul Fatwa Jatinangor juga diharapkan terus berlanjut melalui komunitas belajar, berbagi praktik baik, refleksi pembelajaran, dan kegiatan peningkatan kompetensi lainnya.
Kegiatan ini menjadi contoh bahwa peningkatan mutu pendidikan membutuhkan sinergi antara pengawas, kepala sekolah, narasumber, dan guru. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, sekolah dapat membangun ekosistem pendidikan yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman, aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah, serta mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan bermakna bagi peserta didik.
Jatinangor, 14 Agustus 2026












