Praktik Baik Guru BK, SMK PPN Tanjungsari Perkuat Pencegahan Bullying Melalui IHT Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Avatar photo

SUMEDANG, Edujabar.com – Tim Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMK PPN Tanjungsari menunjukkan praktik baik dalam membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan melalui kegiatan In House Training (IHT) Implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang dilaksanakan pada Selasa (7/7/2026).

Kegiatan yang diikuti seluruh guru dan tenaga kependidikan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman bahwa menciptakan sekolah yang aman bukan hanya menjadi tanggung jawab guru BK, melainkan seluruh warga sekolah. Namun demikian, Guru BK memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan, pendampingan, dan penanganan berbagai persoalan peserta didik.

Pada sesi awal, Pengawas Pembina SMK PPN Tanjungsari, Tubagus Hidayat, S.S., M.Hum., memaparkan konsep Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang dibangun melalui empat pilar, yaitu Pemenuhan Kebutuhan Spiritual, Pelindungan Fisik, Kesejahteraan Psikologis dan Keamanan Sosiokultural, serta Keadaban dan Keamanan Digital.

Menurutnya, impelentasi Budaya Sekolah Aman Nyaman dimulai dari keteladanan, budaya sekolah tidak dibangun melalui regulasi semata, tetapi melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah. Guru merupakan aktor utama dalam membangun budaya tersebut karena setiap ucapan, sikap, dan keputusan yang diambil di lingkungan sekolah akan menjadi contoh yang ditiru peserta didik. sekolah yang aman bukan sekadar bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga mampu menghadirkan lingkungan yang membuat setiap peserta didik merasa dihargai, didengar, dilindungi, dan memiliki kesempatan berkembang secara optimal.

“Keempat pilar tersebut tidak dapat dipisahkan. Sekolah yang aman bukan hanya aman secara fisik, tetapi juga aman secara psikologis, sosial, spiritual, hingga aman di ruang digital. Ketika keempatnya berjalan bersama, budaya positif akan tumbuh dengan sendirinya,” jelas Tubagus.

Praktik Baik Guru BK

Setelah pemaparan materi, sesi dilanjutkan dengan berbagi praktik baik oleh Tim Guru BK yang terdiri atas Ani Andriani, S.Pd., Gr., Devi Roslina, S.Pd., Gr., Isna Inayah, S.Sos., Gr., dan Suherman, S.Sos.I., M.Sos., Gr.

Melalui pendekatan berbasis pengalaman lapangan, tim BK menjelaskan berbagai strategi yang selama ini diterapkan dalam mencegah dan menangani bullying di lingkungan sekolah. Guru tidak hanya diajak memahami definisi bullying, tetapi juga mengenali berbagai bentuk perundungan yang sering tidak disadari, seperti ejekan berulang, pengucilan, intimidasi melalui media sosial, hingga candaan yang merendahkan harga diri peserta didik.

Dalam sesi diskusi, para guru juga diajak menganalisis beberapa studi kasus yang sering terjadi di sekolah. Melalui kegiatan tersebut, peserta menyadari bahwa penanganan bullying membutuhkan kolaborasi antara guru mata pelajaran, wali kelas, guru BK, orang tua, serta manajemen sekolah.

Diskusi berlangsung interaktif. Banyak guru berbagi pengalaman ketika mendampingi peserta didik yang mengalami konflik dengan teman sebaya maupun persoalan keluarga. Tim BK kemudian memberikan berbagai alternatif pendekatan yang lebih edukatif, restoratif, dan berorientasi pada pemulihan, sehingga penyelesaian masalah tidak hanya berfokus pada pemberian sanksi, tetapi juga pada pembinaan karakter peserta didik.

Selain itu, guru juga diajak melakukan refleksi mengenai budaya komunikasi di sekolah, apakah sudah mampu menciptakan rasa aman bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat, melaporkan permasalahan, maupun meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.

Komitmen Bersama Mewujudkan Sekolah Aman

Di akhir kegiatan, seluruh peserta menyusun komitmen bersama sebagai tindak lanjut implementasi BSAN di SMK PPN Tanjungsari. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kesepahaman untuk menjadi teladan, memperkuat budaya saling menghargai, meningkatkan kepedulian terhadap kondisi peserta didik, serta membangun kolaborasi lintas unsur sekolah dalam mencegah segala bentuk kekerasan dan perundungan.

Kepala SMK PPN Tanjungsari, Rossy Siti Rosidah,S.Pd mengapresiasi keterlibatan aktif seluruh guru, khususnya Tim BK, dalam membangun budaya sekolah yang berpihak kepada peserta didik.

“Guru BK tidak hanya bertugas menangani masalah ketika sudah terjadi, tetapi menjadi motor penggerak budaya sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian. Saya berharap praktik baik yang dibagikan dalam IHT ini dapat diterapkan secara konsisten oleh seluruh guru sehingga setiap peserta didik merasa dihargai, terlindungi, dan bahagia berada di sekolah.”

Menurut Rossy, keberhasilan sekolah tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan seluruh warga sekolah menciptakan iklim belajar yang sehat, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Melalui kegiatan IHT ini, SMK PPN Tanjungsari menunjukkan bahwa penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman bukan sekadar program sesaat, melainkan komitmen bersama yang diwujudkan dalam praktik nyata sehari-hari. Praktik baik yang ditunjukkan Tim Guru BK diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh guru untuk terus menghadirkan lingkungan belajar yang ramah, aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang setiap peserta didik secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *