Pagi belum terlalu tinggi ketika seorang guru menulis judul pelajaran di papan tulis. Di atas meja, sebuah buku pelajaran terbuka. Siswa mengikuti halaman demi halaman, mencatat penjelasan, lalu mengerjakan soal di bagian akhir bab.
Pemandangan semacam itu bukan sesuatu yang keliru.
Buku pelajaran memang dibutuhkan. Ia membantu guru menyusun materi dan memberi siswa pijakan untuk memahami konsep. Namun, persoalannya muncul ketika buku tidak lagi menjadi alat bantu, melainkan berubah menjadi batas pembelajaran.
Pertanyaannya kemudian bukan apakah guru boleh mengajar menggunakan buku teks.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa jauh guru memberi ruang kepada siswa untuk berpikir di luar halaman buku?
Ketika Menuntaskan Bab Dianggap Sebagai Keberhasilan
Dalam praktik pendidikan, ada perbedaan antara menyelesaikan materi dan membuat siswa memahami materi.
Seorang guru mungkin berhasil menyelesaikan seluruh bab sesuai kalender akademik. Namun, apakah siswa mampu menjelaskan kembali konsep tersebut dengan bahasanya sendiri? Apakah mereka dapat menggunakannya untuk memecahkan persoalan nyata?
Di sinilah penggunaan buku teks perlu dilihat secara lebih kritis.
Textbook menyediakan pengetahuan yang terstruktur. Tetapi kehidupan siswa tidak selalu hadir dalam bentuk soal pilihan ganda atau latihan di akhir bab.
Masalah lingkungan, perubahan teknologi, konflik sosial, persoalan ekonomi keluarga, hingga fenomena di sekitar sekolah membutuhkan kemampuan yang lebih luas: menganalisis, membandingkan informasi, menyusun argumen, bekerja sama, dan mengambil keputusan.
Dengan kata lain, siswa tidak cukup hanya mengetahui sesuatu. Mereka perlu tahu bagaimana menggunakan pengetahuan itu.
Angka yang Mengajak Kita Berhenti Sejenak
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 memberikan gambaran mengenai tantangan pembelajaran di Indonesia.
Dalam matematika, hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih. Dalam membaca angkanya sekitar 25 persen, sementara dalam sains sekitar 34 persen. Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD.
PISA sendiri tidak dirancang sekadar untuk mengukur kemampuan menghafal. Penilaian tersebut menguji kemampuan siswa menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan.
Data itu tentu tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa penggunaan textbook menjadi penyebab rendahnya capaian siswa Indonesia. Terlalu banyak faktor yang memengaruhi hasil belajar untuk membuat kesimpulan sesederhana itu.
Namun, angka tersebut layak menjadi bahan refleksi.
Apakah proses belajar di ruang kelas sudah cukup memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan pengetahuan yang mereka miliki?
Dari Halaman Buku ke Kehidupan Nyata
Bayangkan sebuah pelajaran tentang pencemaran lingkungan.
Guru dapat meminta siswa membuka buku, membaca definisi pencemaran, mencatat jenis-jenisnya, kemudian menjawab soal.
Tetapi ada pilihan lain.
Siswa diajak keluar kelas.
Mereka mengamati selokan di sekitar sekolah. Mereka mencatat jenis sampah yang ditemukan, menghitung jumlahnya, mewawancarai petugas kebersihan, kemudian mendiskusikan penyebab dan dampaknya.
Data yang terkumpul diolah menjadi tabel atau grafik.
Setelah itu, siswa kembali membuka buku.
Kini definisi tentang pencemaran tidak lagi berdiri sebagai kalimat abstrak. Konsep tersebut memiliki hubungan dengan sesuatu yang baru saja mereka lihat dan alami.
Buku tetap digunakan. Tetapi pengalaman siswa menjadi pintu masuk pembelajaran.
Perbedaan inilah yang sering kali luput ketika pembelajaran terlalu terpaku pada urutan textbook.
Penelitian Menunjukkan Pentingnya Keterlibatan Siswa
Sejumlah penelitian pendidikan menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa memiliki arti penting dalam proses belajar.
Meta-analisis Freeman dan kolega yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menganalisis 225 studi tentang pembelajaran aktif pada pendidikan tinggi bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Hasilnya menunjukkan bahwa performa siswa dalam ujian lebih tinggi pada kelas yang menerapkan pembelajaran aktif. Risiko kegagalan juga lebih rendah dibandingkan pembelajaran yang sepenuhnya mengandalkan metode ceramah.
Temuan tersebut tidak berarti ceramah harus ditinggalkan. Penjelasan guru tetap penting, terutama untuk membangun fondasi konsep.
Yang menjadi persoalan adalah ketika siswa hampir selalu berada pada posisi sebagai penerima informasi.
Pembelajaran membutuhkan momen ketika siswa harus berpikir, menjelaskan, bertanya, mencoba, membandingkan, dan memperbaiki kesalahan.
Guru Bukan Sekadar Penyampai Isi Buku
Peran guru menjadi penting justru karena setiap kelas berbeda.
Buku yang sama dapat digunakan di dua kelas dengan hasil yang berbeda.
Di satu kelas, guru mungkin menemukan bahwa siswa sudah memahami konsep dasar. Di kelas lain, konsep yang sama ternyata membutuhkan contoh konkret.
Ada siswa yang cepat memahami melalui gambar. Ada yang lebih mudah melalui praktik. Ada pula yang baru memahami setelah berdiskusi dengan teman.
Textbook tidak mungkin mengetahui semua itu.
Guru yang berada di ruang kelaslah yang dapat membaca situasi tersebut.
Karena itu, profesionalisme guru tidak hanya terlihat dari seberapa baik ia menguasai isi buku, tetapi juga dari kemampuannya mengubah isi buku menjadi pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Masalahnya Bukan pada Buku
Ada kecenderungan untuk mempertentangkan textbook dengan pembelajaran inovatif.
Seolah-olah guru harus memilih salah satunya.
Padahal, keduanya dapat berjalan bersama.
Buku dapat digunakan untuk memperkenalkan konsep. Setelah itu, guru memberikan kasus nyata. Siswa berdiskusi. Mereka mencari data, melakukan pengamatan, menguji gagasan, kemudian kembali menggunakan buku untuk memperkuat pemahaman.
Dengan pola tersebut, textbook memperoleh fungsi yang lebih penting.
Ia bukan lagi menjadi “naskah” yang harus dibacakan guru.
Ia menjadi salah satu sumber belajar.
Perubahan kecil dalam cara memandang buku dapat mengubah cara guru merancang pembelajaran.
Mengubah Pertanyaan Guru
Barangkali perubahan paling sederhana justru dimulai dari pertanyaan yang diajukan guru kepada dirinya sendiri.
Bukan:
“Bab berapa yang harus selesai hari ini?”
Melainkan:
“Apa yang harus benar-benar dipahami siswa hari ini?”
Bukan:
“Berapa soal yang sudah dikerjakan?”
Melainkan:
“Apakah siswa mampu menjelaskan alasan di balik jawabannya?”
Bukan:
“Apakah semua materi sudah disampaikan?”
Melainkan:
“Apa yang dapat dilakukan siswa dengan pengetahuan tersebut?”
Perubahan pertanyaan itu tampak sederhana. Tetapi ia dapat mengubah orientasi pembelajaran dari mengejar materi menjadi membangun pemahaman.
Tidak Perlu Menunggu Pembelajaran yang Sempurna
Perubahan pembelajaran juga tidak harus selalu berbentuk proyek besar.
Guru dapat memulainya dari hal sederhana.
Lima menit diskusi setelah penjelasan.
Satu pertanyaan terbuka sebelum memberikan jawaban.
Satu masalah nyata sebagai pembuka pelajaran.
Satu kesempatan bagi siswa menjelaskan cara berpikirnya.
Satu refleksi di akhir pembelajaran.
Hal-hal kecil tersebut memberi pesan kepada siswa bahwa mereka bukan sekadar datang ke sekolah untuk menerima jawaban.
Mereka datang untuk belajar berpikir.
Buku Adalah Peta, Bukan Tujuan Perjalanan
Pada akhirnya, perdebatan mengenai textbook seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah buku masih relevan.
Tentu saja relevan.
Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana buku ditempatkan dalam keseluruhan proses pendidikan.
Jika textbook menjadi satu-satunya sumber, pembelajaran berisiko menjadi sempit.
Jika textbook digunakan bersama pengalaman, lingkungan, teknologi, diskusi, penelitian sederhana, dan persoalan kehidupan nyata, ruang belajar justru menjadi lebih luas.
Guru tidak perlu membuang buku.
Guru hanya perlu memastikan bahwa dunia siswa tidak berhenti pada halaman buku.
Sebab tujuan pendidikan bukan membuat siswa mampu mengatakan bahwa mereka telah menyelesaikan seluruh bab.
Tujuan yang lebih besar adalah ketika seorang siswa mampu berkata:
“Saya memahami apa yang saya pelajari. Saya tahu mengapa hal itu penting. Dan saya tahu bagaimana menggunakannya.”
Di titik itulah buku kembali pada tempatnya: sebagai peta.
Sementara perjalanan belajar tetap menjadi milik guru dan siswa.












