Bandung. 21 Februari 2026 — Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional kembali digelar di berbagai daerah di Indonesia sebagai momentum memperkuat pelestarian bahasa daerah. Hari peringatan yang diprakarsai oleh UNESCO ini setiap tahun diperingati pada 21 Februari untuk meningkatkan kesadaran dunia tentang pentingnya keberagaman bahasa dan budaya.
Tahun 2026 mengusung tema global “Youth voices on multilingual education” yang menempatkan generasi muda sebagai aktor utama masa depan bahasa. UNESCO menegaskan bahwa kaum muda bukan hanya pewaris keberagaman bahasa, tetapi juga pelaku penting dalam memastikan bahasa tetap hidup di ruang pendidikan, informasi, dan digital demi tercapainya inklusi serta pembangunan berkelanjutan.
Direktur Jenderal UNESCO pernah menekankan pentingnya bahasa sebagai fondasi kemanusiaan. Ia menyatakan, “A language is far more than a means of communication; it is the very condition of our humanity… Our values, our beliefs and our identity are embedded within it.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa bahasa memuat identitas, nilai, serta pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Secara global, tantangan pelestarian bahasa masih besar. UNESCO mencatat sekitar 40% penduduk dunia belum memperoleh pendidikan dalam bahasa yang mereka pahami, sehingga berdampak pada kualitas pembelajaran dan akses pengetahuan. Bahkan, setiap dua minggu satu bahasa diperkirakan hilang, membawa serta warisan budaya dan intelektual yang tak tergantikan.
Di berbagai daerah di Jawa Barat, peringatan yang dikenal sebagai Mieling Poe Basa Indung diisi dengan kegiatan edukatif seperti lomba pidato bahasa daerah, pertunjukan seni tradisional, hingga diskusi literasi bahasa lokal. Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kebanggaan berbahasa ibu sejak usia dini.
Laporan kegiatan internasional menunjukkan bahwa sekolah-sekolah dari berbagai benua turut merayakan hari ini dengan memperkenalkan bahasa ibu masing-masing, menandakan bahwa keberagaman linguistik adalah kekuatan bersama umat manusia.
Selain aspek budaya, bahasa ibu juga memiliki peran strategis dalam pendidikan dan pembangunan bangsa. Dalam sebuah peringatan tahun ini, pakar pendidikan Pradyumna Kumar Sethy menegaskan bahwa bahasa ibu berperan penting dalam perkembangan kognitif dan identitas budaya serta mendukung pembangunan nasional.
Hari Bahasa Ibu Internasional sendiri berakar dari perjuangan gerakan bahasa Bengali tahun 1952 di Bangladesh yang menuntut pengakuan bahasa mereka. Peristiwa tersebut kemudian menginspirasi penetapan hari peringatan global oleh UNESCO pada 1999 dan mulai diperingati sejak 2000.
Melalui peringatan tahun ini, masyarakat diharapkan tidak hanya merayakan secara seremonial, tetapi juga menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut dinilai penting agar bahasa daerah tetap lestari dan menjadi fondasi identitas budaya generasi masa depan.











