Sang Pahlawan Pendidikan

Oleh:

MEGA FITRIYANTI, S.Pd.*)

Alur MERDEKA pada Pendidikan Guru Penggerak merupakan tahapan yang telah dirancang sedemikian baik agar tujuan dari program ini tercapai. Begitupun materi yang disajikan secara bertahap dari mulai mindset seorang guru sebagai seorang pendidik hingga diakhiri perancangan program yang berpihak pada murid. Dari tahapan ini, calon guru penggerak dituntun untuk dapat mengkontruksi pola pikir hingga aksi nyata yang dilakukan dari perubahan pola pikir tersebut.

Modul pertama dari pendidikan ini membawa calon guru penggeral untuk membuka mata mengenai hakikat pendidikan yang sesungguhnya dari seorang pahlawan pendidikan Indonesia. Setelah sekian lama pendidikan Indonesia mengadaptasi teori teori belajar yang disampaikan oleh para pemikir dari luar, akhirnya kini kembali pada filosofi yang sesuai dengan kodrat alam Indonesia yaitu filosofi dari Ki Hajar Dewantara (KHD).

Poin- poin utama pada filosofi KHD diantaranya adalah bahwa mendidik dan mengajar merupakan proses memanusiakan manusia, sehingga harus dapat memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani. Ki Hajar Dewantara pun mengibaratkan pendidikan sebagai tempat menyemai benih kebudayaan dalam masyarakat. Di tempat ini, guru sebagai petani dan murid adalah benihnya. Tugas guru disini adalah menuntun tumbuhnya benih tersebut sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.

Masih banyak hal lain mengenai filosofi KHD yang menarik untuk disoroti. Seperti yang dipaparkan dalam Jurnal Filsafat Indonesia, yang berjudul Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang di tulis oleh I Made Sugiarta, dkk., menyebutkan beberapa substansi dari gagasan Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Salah satunya adalah bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan peserta didik untuk menjadi pembela Nusa dan bangsa. Hal ini berarti menurut Ki Hajar Dewantara yang paling utama dari seorang pendidik adalah keteladanan, baru sebagai fasilitator maupun pengajar.

Meski tidak terbahas dalam modul pertama, ini adalah poin utama lain dari pendidikan. Jika diambil perumpamaan, kita tidak bisa menceritakan lezatnya durian ketika kita belum mencoba memakannya sendiri. Begitu pula kita sebagai pendidik. Kita tidak bisa mendidik murid, jika apa yang kita sampaikan tidak kita lakukan. Jelas di sini keteladanan  seorang  pendidik   adalah    hal paling utama. Seperti halnya Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran dan keutamaan.

Dalam konsep pendidikan Ki Hajar dewantara, ada dua hal yang harus di bedakan, yaitu istilah mengajar dan mendidik. Meski berbeda, dua hal ini harus saling bersinergis agar tercapai tujuan pendidikan seutuhnya. Menurut Ki Hajar Dewantara, mengajar lebih kepada memerdekakan manusia dari segi lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sementara mendidik mengarah pada memerdekakan manusia dari aspek hidup batin. Sehingga jelas bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan untuk merdeka di dunia saja, lebih dari itu pendidikan bertujuan untuk menyelamatkan peserta didik kaitannya dengan hubungan vertikal ke atas.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah pemikiran yang sangat relevan dengan kondisi pendidikan kita saat ini. Meski Ki Hajar Dewantara hidup jauh berpuluh puluh tahun yang lalu, namun Filosofi ini dapat kita pegang sebagai tuntunan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan kondisi anak-anak sekarang yang dari segi teknologi maju pesat namun dari segi moral menurun drastis.

Setelah menelaah filosofi KHD ini, saya menyadari bahwa saya sebagai guru Matematika bukan hanya berkewajiban untuk melahirkan para ahli Matematik. Terlebih dari itu tugas saya adalah membekali mereka agar apa yang saya ajarkan dapat menyelamatkan mereka kelak di dunia maupun di akhirat. Selain itu tugas mendidik merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari proses belajar mengajar yang saya lakukan. Sehingga pada akhirnya dasar-dasar filosofi KHD menjadi landasan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning).

Begitu kompleksnya pemikiran bapak pendidikan kita. Secara detail, KHD telah memikirkan semua aspek yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sehingga apa yang dipikirkan saat itu dapat menjadi tuntunan pendidikan kita saat ini dan yang akan datang. Semoga apa yang beliau wariskan kepada kita menjadi amal jariyyah yang terus mengalir untuk sang pahlawan pendidikan.

*) MEGA FITRIYANTI, S.Pd. adalah Guru Matematika SMA Negeri 1 Sindangwangi Kabupaten Majalengka

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *