Opini  

Sapaan Humanis Menumbuhkan Eksistensi Murid

Oleh: YUDI HAMDAN DARDIRI *)

Sejatinya murid adalah anak dan manusia yang membutuhkan hak, perlakukan dan perhatian yang sama. Mereka berharap memiliki bagian yang sama. Memiliki panggung sendiri yang tak terjamah dan terinterpretasi oleh pihak lain. Panggung tempat berekspresi tanpa intimidasi dan panggung tempat berkarya tanpa tekanan. Harapan terbesar mereka adalah menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang mampu bereksplorasi tanpa eksploitasi. Manusia yang meraih Bahagia murni bukan sebuah gimik.

Setingginya jenjang Pendidikan murid di mata guru mereka adalah anak. Dari lubuk hati yang paling dalam murid selalu berharap diakui sebagai anak. Mereka menginginkan hidup dan berkembang sesuai dengan keunikkan dan karakteristiknya sendiri tanpa dibeda-bedakan. Pencideraan yang tak terasa adalah Ketika murid dituntut harus sama dengan yang lain. Padahal mereka berbeda. Mencontohkan satu dengan yang lain seolah-olah satu karakter harus hangus dan binasa mengikuti karakter yang lain.

Pembunuhan karakter Ketika guru mengakui eksistensi murid hanya pada anak pintar dan nakal. Murid tak melihat ada karakter diam yang kalau digali akan menjadi warna indah yang memvariasi keanekaragaman murid. Guru menyanjung di depan hanya pada murid-murid yang pintar, seolah-olah panggung prestasi dan kebaikan adalah milik murid pintar saja. Guru mencontohkan ketidakbaikan dan ketidakmampuan di depan disematkan pada anak nakal, seolah-olah panggung kegagalan dan kejelekkan adalah miliki murid nakal.

Sadarlah wahai para pendidik. Fakta di lapangan sudah banyak curahan hati para pendidik dan ini bukan lagi kabar burung bahwa yang mengakui keberadaan kita justru dari murid yang selalu kita labelkan negative. Murid yang selalu jadi cermin kenakalan dan ketaksopanan. Sebaliknya murid yang selalu kita elu-elukan. Kita sanjung di depan yang lain dan kita jadikan panutan prestasi dan juara, mereka menganggap bahwa prestasi dan piala yang diraih adalah hasil jerih payah diri sendiri bukan jasa pendidik.

Lantas berkaca dari pengalaman. Pendidikan seperti apa yang mampu memanusiakan manusia. Pendidikan yang mampu mencetak murid yang berbudi pekerti yang luhur. Pendidikan yang menghasilkan murid yang tidak hanya memiliki keleluasaan pengetahuan akan tetapi memiliki rasa dan budi pekerti luhur. Pendidikan yang mampu mencetak murid sejajar dengan yang lain karena prestasi tanpa mengindahkan jati diri.

Ada pepatah mengatakan bahwa perkataan adalah doa. Apalagi jika perkataan itu keluar dari guru sebagai pendidik yang akan digugu dan ditiru. Setiap untaian kata yang keluar menjadi obat bagi kegalauan, kegundahan dan inspirasi bagi murid. Terkadang murid lebih mendengar perkataan guru ketimbang orang tuanya. Mereka sering bilang bahwa “kata bapak/ibu itu harus begini dan begitu”. Bahkan perkataan guru sering dijadikan alat penyangkal perbedaan dengan orang tuanya. Mereka lebih memegang teguh perkataan guru ketimbang yang lain.

Perlu diingat bahwa murid adalah manusia. Manusia kebanyakan tersusun dari air. Menurut Masaru Emoto dalam bukunya “The power of Water”. Air akan merespon setiap stimulus lingkungan sekitar. Jika kita sering memberikan perkataan, panggilan dan petuah positif maka tubuh akan memberikan respon positif. Begitupun jika pendidik sering mengeluarkan kata-kata positif untuk muridnya. Bagaimana pun kondisi muridnya. Maka murid akan merespon dan memerintahkan dirinya untuk selalu menjadi positif.

Sudah seyogyanyalah guru membiasakan untuk menggeluarkan kata-kata positif. Guru menahan diri untuk tidak terpancing mengeluarkan kata negative. Salah satu pembiasaan tersebut adalah dengan panggilan humanis. Panggilan yang memanusiakan manusia. Panggilan yang menjadikan murid merasa diakui. Panggilan yang menjadikan murid merasa setara dengan yang lainnya. Panggilan yang membiaskan perbedaan. Panggilan yang menjadikan murid merasa Bahagia. Panggilan yang menghapuskan sekat pembeda antara yang pintar dan malas. Panggilan yang mendangkalkan dalamnya jurang pemisah antara anak pasif dan aktif.

Misalnya Guru membiasakan memanggil dengan kata “Sholeh” untuk murid laki-laki dan “Sholehah” untuk murid perempuan. Memang sepertinya pembiasaan sepele tetapi jika selalu diulang akan mestimulus murid menyesuaikan dengan panggilan tersebut. Wahai para pendidik marilah kita mengeksplorasi diri dengan memulai memanggil murid- murid kita dengan panggilan positif. Panggilan yang diselaraskan dengan kebiasaan dan budaya positif masing- masing.

*) YUDI HAMDAN DARDIRI adalah Kepala SMPN 2 Malausma Kabupaten Majalengka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *