Mengapa banyak sekolah yang mengalami kesulitan dalam mewujudkan misi sederhana semisal merawat kebersihan lingkungan sekolah? Jawaban atas masalah ini tidak se-sederhana pertanyaan yang diajukan. Apakah ada suatu model konseptual dan model prosedural tertentu yang bisa dijadikan rujukan untuk penyelesaian persoalan sederhana tersebut? Jika ada seperti apakah modelnya? Bisakah diadaptasi dan diterapkan untuk setiap konteks sekolah dengan budaya dan latar belakang pemahaman warga sekolah yang beragam?
Pada konteks sekolah tertentu seringkali warga sekolah kurang begitu peduli dengan sampah yang tersebar di setiap sudut lingkungan sekolah. Jikapun ada, hanya segelintir orang yang turut aktif membersihkan sampah, selebihnya aktif sebagai pembuang sampah yang terkadang membuang sampahnya juga bukan di tempat sampah yang tersedia. Realitas inilah yang sering ditemui oleh kepala sekolah yang memiliki tingkat kepedulian di atas rata-rata terhadap kontruksi karakter siswa agar mereka memiliki kepekaan terhadap kebersihan lingkungan.
Salah satu model konseptual yang dapat diadaptasi untuk membangun kepekaan siswa terhadap kebersihan lingkungan sekolah adalah model atau kerangka pendidikan lingkungan yang ditawarkan oleh UNESCO, yang terdiri atas tiga komponen, yaitu: (1) education about environment; (2) education for environment; (3) education in environment.
Komponen pertama, education about environment (pendidikan tentang lingkungan) yang berfokus pada penguatan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang sistem alami, fisik, dan sosial yang berkontribusi terhadap lingkungan termasuk dampak kebersihan terhadap kesehatan dan ekosistem. Targetnya setiap siswa pada tataran individu memiliki kesadaran pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Strategi implementasinya dapat berupa menyediakan bahan bacaan yang relevan tentang kebersihan lingkungan, pembelajaran di kelas yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan, menghadirkan narasumber ahli dalam seminar tentang pentingnya merawat kebersihan lingkungan, serta cara-cara lain yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Adapun peran guru pada komponen ini lebih dominan sebagai perancang program dan fasilitator yang mendampingi siswa dalam penguatan pemahaman, kesadaran, dan perspektif mereka akan pentingnya merawat kebersihan lingkungan.
Komponen kedua, education for environment (pendidikan untuk lingkungan) yang berfokus pada pembentukan sikap, perilaku positif, habituasi, serta mentalitas siswa agar memiliki tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. Pada komponen kedua ini, strategi implementasi yang digunakan lebih mendorong siswa untuk melakukan aksi nyata, berkontribusi terhadap kebersihan lingkungan melalui gerakan peduli lingkungan baik di level individu maupun kolektif (kelas dan sekolah).
Siswa dapat diberikan ruang untuk melakukan kampanye secara masif melalui pembuatan film, poster digital, poster kertas, menyediakan tempat sampah di titik-titik strategis sudut sekolah, mengadakan operasi semut sebelum dan sesudah belajar, gerakan merawat toilet sekolah, gerakan membawa tumbler, ‘polisi’ lingkungan, gerakan Jum’at bersih, dan lain sebagainya yang dinilai relevan dengan konteks siswa dan sekolah. Peran guru dan tenaga kependidikan pada komponen kedua ini, lebih ditekankan sebagai motivator dan teladan kebersihan yang mendukung siswa dalam melakukan aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan.
Komponen ketiga, education in environment (pendidikan di lingkungan). Fokus utama dari kerangka konseptual yang ketiga ini adalah memanfaatkan lingkungan sebagai sumber daya pembelajaran langsung untuk mengembangkan kemampuan observasi, komunikasi, penyelidikan, dan pemecahan masalah kebersihan lingkungan. Strategi implementasinya dapat dilakukan melalui kunjungan siswa ke toilet yang dinilai paling bersih dan atau paling kotor, sudut sekolah yang paling rindang atau paling gersang, solokan sekolah paling kotor, ruangan paling kotor atau paling bersih. Ajak siswa untuk mengobservasi, menyelidiki, dan mencari alternatif solusi atas masalah yang dihadapi sehingga mereka melihat, merasakan, dan belajar secara langsung pada permasalahan lingkungan sekolah yang nyata. Adapun peran guru dan tenaga kependidikan pada komponen ini adalah sebagai evaluator, reflektor, dan memberikan umpan balik terhadap upaya penyelidikan dan pemecahan masalah nyata lingkungan yang telah siswa upayakan.
Itulah model konseptual yang ditawarkan oleh UNESCO sebagai alternatif pijakan teoritis untuk mengatasi permasalahan yang sering dihadapi sekolah, khususnya dalam menanamkan kesadaran lingkungan bagi siswa. Kebersihan lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab kolektif, karena itu dibutuhkan aksi kolektif. Ingatlah bahwa the root cause of all problems is ignorance, maka sentuhan pemahaman dan kesadaran terhadap lingkungan merupakan akar dari semua solusi permasalahan lingkungan.
*)NUROHMAT adalah Pengawas SMA KCD Wilayah X Disdik Provinsi Jawa Barat











