Bandung, edujabar.com – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat akan menggelar Pesantren Ekologi 1447 H/2026 bagi siswa SMA, SMK, dan SLB se-Jawa Barat pada 24 Februari hingga 13 Maret 2026. Kegiatan yang dilaksanakan selama bulan Ramadan ini mengusung tema “Internalisasi Nilai Gapura Pancawaluya Guna Mewujudkan Manusia Waluya Rahmatan Lil Alamin.”
Pesantren Ekologi merupakan rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan yang berfokus pada penguatan pendidikan karakter melalui pendekatan ekologi. Program ini bertujuan menginternalisasikan nilai inti Gapura Pancawaluya, yaitu cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (tangguh/aktif), melalui pembelajaran, pelafalan, dan penghafalan ayat Al-Qur’an serta hadis tentang pelestarian lingkungan yang diwujudkan dalam aksi nyata menjaga alam.
Dasar dan Tujuan Kegiatan
Pelaksanaan Pesantren Ekologi mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, serta Surat Edaran Bersama tiga menteri tahun 2025 tentang Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembiasaan di Satuan Pendidikan.
Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan Surat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat tentang Pedoman Penyusunan Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2025/2026 dan Misi Gubernur Jawa Barat terkait Pendidikan Karakter Jabar Istimewa.
Pesantren Ekologi bertujuan mendorong peserta didik melaksanakan tadabur alam melalui kajian, perenungan, serta penghayatan ayat-ayat kauniyah dan hadis tentang lingkungan. Siswa tidak hanya memahami konsep keagamaan, tetapi juga mengimplementasikannya dalam aksi ekologi nyata di sekolah maupun lingkungan sekitar sebagai bentuk rasa syukur dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Tahapan dan Timeline Kegiatan
Rangkaian Pesantren Ekologi 2026 diawali dengan tahap sosialisasi pada 10–20 Februari 2026. Sosialisasi dilakukan secara daring dan luring kepada panitia, kepala sekolah, pengawas, guru, siswa, serta pemangku kepentingan lainnya di tingkat provinsi hingga sekolah.
Pembekalan bagi guru dan penanggung jawab kegiatan dilaksanakan pada 18 Februari 2026 secara daring, dengan fokus pada strategi pembelajaran model PANCANITI dalam Tadabur Alam.
Launching Pesantren Ekologi digelar pada 24 Februari 2026, bertepatan dengan awal Ramadan. Kegiatan ini dirangkaikan dengan lantunan ayat Al-Qur’an tentang ekologi, santunan anak yatim, ceramah awal Ramadan bertema kepedulian lingkungan dalam perspektif Islam, serta pernyataan komitmen bersama menjaga kelestarian alam.
Kegiatan inti berupa Tadabur Alam dilaksanakan pada 24 Februari hingga 12 Maret 2026, baik secara daring maupun luring di sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar. Pendekatan yang digunakan adalah PANCANITI yang meliputi:
Niti Harti – Memahami ayat Al-Qur’an, hadis, dan kajian keilmuan tentang peran manusia sebagai khalifah.
Niti Surti – Menghayati ajaran sebagai bagian dari iman dan akhlak.
Niti Bukti – Mengkaji kondisi lingkungan dan melakukan aksi nyata.
Niti Bakti – Membiasakan perilaku peduli lingkungan dan sosial.
Niti Sajati – Refleksi dan peneguhan komitmen sebagai Manusia Waluya.
Aksi Ekologi dilaksanakan dalam tiga momentum utama, yakni 27 Februari 2026 (tema menanam pohon), 6 Maret 2026 (membersihkan lingkungan), dan 13 Maret 2026 (hemat energi). Selain itu, Gerakan Wakaf Al-Qur’an dilaksanakan pada malam Nuzulul Quran, 5 Maret 2026.
Penutupan Pesantren Ekologi dijadwalkan pada 13 Maret 2026 sebagai momentum refleksi dan penguatan komitmen keberlanjutan program.
Aksi Tasyakur dan Pembiasaan Harian
Selama Ramadan, siswa juga mengikuti rangkaian Aksi Tasyakur yang mencakup:
Tujuh Pembiasaan Anak Indonesia Hebat, mulai dari bangun pagi, sahur, salat berjamaah, membantu orang tua, hingga aksi sosial dan ekologi.
POE IBU, infak harian minimal Rp1.000 untuk membantu korban bencana ekologi dan pemulihan sosial ekonomi.
Rantang Kanyaah, pembagian makanan kepada masyarakat sekitar sekolah atau rumah.
Aksi Ekologi, seperti kerja bakti, pemilahan sampah, penanaman pohon, dan penghijauan.
Wakaf Al-Qur’an, bagi GTK dan siswa untuk mushola atau daerah yang membutuhkan.
Bagi siswa non-Muslim, sekolah wajib memberikan pembinaan sesuai agama masing-masing dengan fokus pada nilai tanggung jawab manusia terhadap kelestarian ekologi, serta tetap terlibat dalam Aksi Ekologi bersama siswa lainnya.
Kolaborasi Multi-Pihak
Pesantren Ekologi 2026 melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Disdik Jabar, Kanwil Kemenag, Cabang Dinas, kepala sekolah, pengawas, guru PAI, hingga orang tua. Sistem IT untuk materi, pelaporan, dan publikasi disiapkan oleh UPT Tikomdik.
Melalui integrasi potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik berbasis 3T (Ta’lim, Ta’zim, Tadrib), Pesantren Ekologi diharapkan mampu melahirkan generasi Manusia Waluya yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki kepedulian ekologis dan sosial yang kuat.
Dengan konsep pembelajaran berbasis iman, ilmu, dan amal nyata, Pesantren Ekologi 2026 menjadi langkah strategis Jawa Barat dalam memperkuat pendidikan karakter yang kontekstual dan berkelanjutan di bulan suci Ramadan.











