Mendikdasmen Tekankan AI sebagai Alat Pendukung Pembelajaran, Bukan Pengganti Guru

Avatar photo

Jakarta, 6 Februari 2026 – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya memposisikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai pendukung proses belajar-mengajar, bukan sebagai pengganti peran guru atau elemen manusiawi dalam pendidikan.

Pernyataan ini disampaikan dalam seminar internasional bertema Navigating the Future: English Language Education with AI and the Evolving Role of Educators di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Jakarta, pada Kamis (5/2/2026). Seminar tersebut menghadirkan pakar pendidikan bahasa dari berbagai negara untuk membahas dampak AI terhadap pembelajaran, khususnya Bahasa Inggris.

“AI merupakan produk machine learning, algoritma, dan teknologi. Ia hanyalah alat. Pendidikan tetap tentang membangun karakter manusia yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, manusia yang mampu mengendalikan teknologi, serta menggunakan teknologi untuk kemaslahatan sesama dan kesejahteraan bumi kita,” ujar Menteri Abdul Mu’ti saat memberikan sambutannya.

Menurut Mendikdasmen, di era perkembangan AI yang pesat, pendidikan menghadapi tantangan untuk memastikan teknologi justru memperkuat kualitas pembelajaran tanpa mengurangi nilai kemanusiaan. Ia juga menyoroti kebijakan penguatan pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini, dengan rencana menjadikannya mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun 2027 mendatang. Pendekatan yang ditekankan adalah deep learning yang berfokus pada pemahaman mendalam, bukan hafalan semata, serta pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, dan bermakna.

Seminar ini turut menghadirkan pandangan dari pakar internasional, seperti Andrew Stokes (pendiri ClarityEnglish, Inggris) yang menekankan pemanfaatan AI untuk tugas mikro seperti asesmen dan pengayaan kosakata, namun relasi manusia serta pembentukan karakter tetap tak tergantikan. Guru Besar Emeritus dari Taiwan, Yinghuei Chen, menyatakan bahwa AI generatif justru meningkatkan urgensi literasi kritis dan pemahaman lintas budaya dalam pembelajaran bahasa.

Dari kalangan lokal, Guru Besar Bahasa Inggris UHAMKA Herri Mulyono menekankan peran guru sebagai fasilitator berpikir kritis dan refleksi etis di tengah konten AI yang melimpah, sementara Anuncius Gumawang Jati menggarisbawahi pendekatan pedagogy-first, di mana teknologi harus mengikuti tujuan pendidikan untuk memperkuat keadilan dan agensi guru.

Melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen menunjukkan komitmen untuk terus berdialog secara global mengenai integrasi AI dalam pendidikan, khususnya Bahasa Inggris, agar tetap berpusat pada manusia.

“Kami berharap seminar hari ini, melalui makalah dan diskusi yang disajikan, dapat memperkaya dan memberikan kontribusi bermakna bagi dunia pendidikan, khususnya di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kami sangat senang program ini dapat berkontribusi pada peningkatan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah, dan dalam jangka panjang, pada peningkatan kualitas pendidikan nasional,” pungkas Menteri Abdul Mu’ti menutup pidatonya.

Sumber: Siaran Pers Kemendikdasmen Nomor: 89/sipers/A6/II/2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *