Revitalisasi 83 Sekolah di Cianjur, Langkah Strategis Perkuat Fondasi Pendidikan Jawa Barat
Cianjur, Edujabar.com – Revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Cianjur menjadi bagian penting dari penguatan kebijakan peningkatan mutu pendidikan di Jawa Barat. Tidak sekadar memperbaiki bangunan, program ini menyasar aspek mendasar layanan pendidikan: ruang belajar yang layak dan fasilitas sanitasi yang bermartabat.
Sebanyak 83 satuan pendidikan di Cianjur telah menerima manfaat program ini dengan total alokasi anggaran Rp106 miliar. Sekolah penerima terdiri atas 4 PAUD, 26 SD, 25 SMP, 12 SMA, 12 SMK, 2 SLB, 1 SKB, dan 1 PKBM. Intervensi ini dinilai strategis, mengingat Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah peserta didik terbesar menghadapi tantangan serius terkait pemerataan kualitas infrastruktur sekolah.
Sanitasi Layak, Belajar Lebih Nyaman
Salah satu contoh konkret terlihat di SMK Kesehatan Cianjur. Revitalisasi menghadirkan toilet dengan jumlah bilik lebih banyak, pencahayaan baik, ventilasi memadai, tata ruang rapi, serta material yang mudah dibersihkan. Perbaikan sanitasi menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Sela, salah satu siswi, mengungkapkan kegembiraannya atas perubahan tersebut.
“Alhamdulillah, sekarang fasilitas sekolah kami jauh lebih nyaman. Musala lebih bersih untuk beribadah. Toiletnya pun terlihat mewah dan kondisinya bersih,” ujarnya.
Fasilitas dasar seperti toilet sering kali luput dari perhatian kebijakan pendidikan. Padahal, ketersediaan sanitasi yang bersih berpengaruh terhadap kesehatan, kenyamanan, dan konsentrasi belajar siswa.
Dari Ruang Kelas Rusak hingga Fasilitas Representatif
Perubahan signifikan juga dirasakan SLB Loka Mandiri. Sebelum revitalisasi, keterbatasan ruang membuat ruang kepala sekolah, guru, dan tata usaha harus disatukan dengan ruang kelas menggunakan sekat.
“Setelah revitalisasi, kami memiliki ruang administrasi tersendiri, ruang kelas baru, ruang pembelajaran khusus seperti bina wicara dan sensori integrasi, serta kantin sekolah. Anak-anak terlihat sangat senang dan lebih aktif mengeksplorasi ruang belajarnya. Orang tua pun merasa lebih tenang melihat anak-anak belajar dengan nyaman,” ujar Kepala SLB Loka Mandiri, Tiara Linduk Intany. Sekolah tersebut menerima bantuan Rp1,43 miliar.
SMP Negeri 2 Sukaluyu sebelumnya mengalami kerusakan berat pada plafon, keramik, hingga dinding kelas. Setelah mendapatkan rehabilitasi ruang kelas dan ruang UKS baru pada 2025, kondisi sekolah kini jauh lebih layak.
“Alhamdulillah, melalui revitalisasi tahun 2025, kami mendapatkan rehabilitasi ruang kelas dan ruang UKS baru. Bangunannya jauh lebih layak dan anak-anak sangat bahagia,” tutur Kepala SMP Negeri 2 Sukaluyu, Erlina Rosinta.
Di SMAN 1 Bojongpicung, keterbatasan ruang sempat memaksa pembelajaran dilakukan bergantian pagi dan siang. Bahkan perpustakaan serta laboratorium komputer digunakan sebagai ruang kelas. Melalui bantuan Rp3 miliar, sekolah kini memiliki enam ruang kelas baru, ruang administrasi, serta rehabilitasi tiga ruang kelas.
“Sekarang kami punya ruang kelas yang semestinya, lebih bebas dan leluasa. Belajar jadi lebih fokus dan tidak terganggu kegiatan lain. Ini sangat membantu proses pembelajaran,” ungkap Dini Aulia, siswi SMAN 1 Bojongpicung.
Sementara itu, SMA PGRI Takokan menerima bantuan Rp2,6 miliar untuk rehabilitasi total 15 ruang kelas, perpustakaan, dan pembangunan ruang administrasi. Kondisi atap bocor yang sebelumnya menjadi masalah kini telah teratasi.
“Sebelumnya atap sering bocor kalau hujan. Sekarang sekolah jadi jauh lebih nyaman. Saya semakin semangat sekolah dan merasa sekolah seperti rumah kedua,” ujar Anggi Nur Amalan, siswa kelas XII.
Revitalisasi dan Dampak Ekosistem Pendidikan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa revitalisasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik.
“Sehingga tidak hanya sekolahnya yang kami bangun, tetapi juga ekonominya juga terdampak dari kegiatan revitalisasi ini,” tegas Mendikdasmen.
Melalui skema swakelola, pelaksanaan revitalisasi dinilai lebih efisien, tepat waktu, akuntabel, serta melibatkan tenaga kerja dan material dari masyarakat setempat. Kebijakan ini sekaligus memberi dampak ekonomi lokal.
Secara nasional, pemerintah telah mengalokasikan Rp14 triliun pada 2026 untuk merevitalisasi 11.700 satuan pendidikan, dengan rencana tambahan 60 ribu sekolah hingga 2029.
“Target Bapak Presiden sebelum tahun 2029, seluruh sekolah sudah dalam keadaan baik, tidak boleh ada sekolah yang reot dan roboh,” pungkasnya.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, turut menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap pendidikan di daerah.
“Kami meyakini pendidikan adalah kunci untuk mewujudkan daerah yang berdaya saing dan sejahtera. Semuanya dimulai dari komitmen membangun sumber daya manusia melalui pendidikan. Kami berharap inovasi akan terus lahir dan generasi muda tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat luas,” ucapnya.
Fondasi Mutu Pendidikan Jawa Barat
Revitalisasi di Cianjur menunjukkan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak hanya berbicara tentang kurikulum dan kebijakan akademik, tetapi juga tentang infrastruktur dasar yang layak. Di Jawa Barat dengan jumlah sekolah yang besar dan beragam kondisi geografis, pemerataan kualitas sarana pendidikan menjadi fondasi penting peningkatan daya saing daerah.
Program ini diharapkan terus berlanjut agar sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.











