Guru Hebat Membutuhkan Ekosistem Belajar yang Kuat
Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kualitas guru sebagai aktor utama pembelajaran. Kurikulum yang baik, sarana pendidikan yang memadai, serta kebijakan yang progresif tidak akan memberikan hasil optimal apabila guru tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi guru tidak cukup dilakukan melalui pelatihan yang bersifat insidental, tetapi perlu dibangun melalui ekosistem belajar yang berkelanjutan, mudah diakses, relevan dengan kebutuhan, dan berdampak nyata terhadap pembelajaran di kelas.
Dalam konteks tersebut, keberadaan Teaching Center menjadi hal yang urgen. Teaching Center bukan sekadar tempat menyelenggarakan pelatihan, melainkan pusat pengembangan profesi guru yang menyediakan layanan belajar, konsultasi, pendampingan, sumber belajar, kolaborasi, dan inovasi pembelajaran. Keberadaannya menjadi semakin penting ketika guru dihadapkan pada perubahan kebijakan pendidikan, perkembangan teknologi digital, keberagaman karakteristik peserta didik, serta tuntutan untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan.
Bagi Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK), Teaching Center dapat menjadi salah satu pendekatan strategis untuk memperkuat layanan pengembangan kompetensi guru di Jawa Barat. Pendekatan ini memungkinkan BBGTK tidak hanya berperan sebagai penyelenggara pelatihan, tetapi juga sebagai simpul ekosistem pembelajaran profesional yang menghubungkan guru, komunitas belajar, satuan pendidikan, pengawas sekolah, kepala sekolah, widyaiswara, perguruan tinggi, dan berbagai mitra pendidikan.
Teaching Center: Lebih dari Sekadar Tempat Pelatihan
Secara konseptual, Teaching Center dapat dipahami sebagai pusat layanan pengembangan profesional guru yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, menilai, dan merefleksikan pembelajaran. Pusat ini mengintegrasikan pelatihan, penyediaan sumber belajar, konsultasi profesional, kolaborasi antarguru, serta pengembangan dan pengujian inovasi pembelajaran.
Dengan konsep tersebut, Teaching Center tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk gedung khusus. Teaching Center dapat dikembangkan melalui kombinasi layanan tatap muka, layanan digital, jejaring komunitas belajar, dan pendampingan langsung di sekolah. Yang paling penting bukanlah bentuk fisiknya, melainkan tersedianya layanan yang responsif terhadap kebutuhan guru dan berorientasi pada perbaikan praktik pembelajaran.
Teaching Center juga perlu dibedakan dari kegiatan pelatihan konvensional. Pelatihan pada umumnya memiliki jadwal, materi, narasumber, dan durasi tertentu. Setelah kegiatan berakhir, guru sering kali harus berjuang sendiri untuk menerapkan hasil pelatihan. Sebaliknya, Teaching Center menyediakan dukungan sebelum, selama, dan setelah pelatihan. Guru dapat mengidentifikasi kebutuhannya, mempelajari materi, mencoba strategi pembelajaran, memperoleh umpan balik, serta merefleksikan dampak penerapannya terhadap peserta didik.
Dengan demikian, Teaching Center menggeser orientasi pengembangan profesi dari sekadar training-oriented menjadi continuous professional learning, yaitu pembelajaran profesional yang berlangsung secara berkelanjutan.
Pemikiran dan Urgensi Pengembangan Teaching Center
Urgensi Teaching Center dapat dilihat dari beberapa kebutuhan mendasar dalam pembangunan pendidikan. Pertama, kompetensi guru harus terus diperbarui sejalan dengan perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, karakteristik peserta didik, dan kebijakan pendidikan. Guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu memahami kebutuhan belajar peserta didik, memilih pendekatan yang sesuai, menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, serta menggunakan asesmen untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Kedua, penguatan kompetensi pedagogik memerlukan ruang belajar yang dekat dengan persoalan nyata di kelas. Guru membutuhkan tempat untuk mendiskusikan kesulitan mengelola kelas, menghadapi peserta didik dengan kebutuhan beragam, merancang pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan, mengembangkan asesmen autentik, serta memanfaatkan teknologi dan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab. Kebutuhan tersebut tidak seluruhnya dapat dipenuhi melalui pelatihan yang berlangsung satu atau dua hari.
Ketiga, pengembangan kompetensi guru perlu didukung oleh sistem yang memungkinkan terjadinya transfer hasil pelatihan ke dalam praktik pembelajaran. Teaching Center dapat menjadi penghubung antara pengetahuan yang diperoleh guru dengan penerapannya di kelas melalui praktik terbimbing, observasi pembelajaran, diskusi sejawat, pendampingan, dan refleksi.
Dari sisi kebijakan, pengembangan Teaching Center perlu diselaraskan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, khususnya ketentuan mengenai kompetensi dan pengembangan profesional guru, serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017. Pengembangan kompetensi juga perlu memperhatikan kebijakan standar kompetensi guru dan regulasi pendidikan yang berlaku.
Landasan tersebut menegaskan bahwa pengembangan profesi guru bukan kegiatan tambahan, melainkan bagian penting dari upaya menjaga dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Teaching Center dapat menjadi salah satu instrumen kelembagaan untuk menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam layanan yang lebih sistematis.
Optimalisasi Peran BBGTK melalui Teaching Center
BBGTK memiliki posisi strategis dalam pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Posisi ini dapat diperkuat melalui pengembangan Teaching Center sebagai model layanan yang menghubungkan program peningkatan kompetensi dengan kebutuhan nyata satuan pendidikan.
Selama ini, pengembangan kompetensi guru dapat berlangsung melalui pelatihan, bimbingan teknis, pendampingan, webinar, dan berbagai program pengembangan profesional lainnya. Namun, tantangan yang perlu dijawab adalah bagaimana memastikan bahwa layanan tersebut dapat dijangkau oleh lebih banyak guru, sesuai dengan kebutuhan mereka, dan menghasilkan perubahan praktik pembelajaran.
Teaching Center dapat menjawab tantangan tersebut melalui tiga peran utama.
Pertama, sebagai pusat pengembangan profesi guru. BBGTK dapat menyediakan layanan pengembangan kompetensi yang didasarkan pada pemetaan kebutuhan guru, hasil refleksi pembelajaran, dan persoalan yang ditemukan di satuan pendidikan. Materi layanan tidak hanya mencakup penguasaan kurikulum, tetapi juga kompetensi pedagogik, pembelajaran mendalam, asesmen, pengelolaan kelas, literasi dan numerasi, pendidikan inklusif, serta pemanfaatan teknologi digital.
Kedua, sebagai pusat konsultasi dan dukungan profesional. Guru dapat memperoleh bantuan dari widyaiswara, instruktur, fasilitator, mentor, dan praktisi pendidikan untuk menyelesaikan persoalan pembelajaran. Dukungan tersebut dapat dilakukan secara tatap muka maupun daring, sehingga guru di kabupaten dan kota yang jauh dari pusat layanan tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendampingan.
Ketiga, sebagai pusat inovasi pembelajaran. BBGTK dapat memfasilitasi guru untuk mengembangkan, mencoba, mengevaluasi, dan menyempurnakan metode pembelajaran. Inovasi yang terbukti efektif dapat didokumentasikan sebagai praktik baik, kemudian dibagikan kepada komunitas guru dan satuan pendidikan lain.
Dengan demikian, BBGTK tidak hanya menjadi penyelenggara kegiatan peningkatan kompetensi, tetapi juga menjadi penggerak ekosistem pembelajaran profesional guru di Jawa Barat.
Penguatan Kompetensi Pedagogik Guru sebagai Prioritas
Di antara berbagai kompetensi guru, kompetensi pedagogik perlu mendapat perhatian khusus karena berkaitan langsung dengan kemampuan guru mengelola pembelajaran peserta didik.
Guru yang menguasai materi belum tentu mampu menjelaskan materi tersebut dengan cara yang mudah dipahami oleh semua peserta didik. Demikian pula, guru yang mampu menggunakan teknologi belum tentu dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Di sinilah kompetensi pedagogik menjadi penentu penting.
Melalui Teaching Center, penguatan kompetensi pedagogik dapat dikembangkan secara terintegrasi, mulai dari memahami karakteristik peserta didik, merancang tujuan dan pengalaman belajar, memilih strategi pembelajaran, mengelola interaksi kelas, mengembangkan asesmen, hingga melakukan refleksi untuk perbaikan pembelajaran.
Dalam konteks Pembelajaran Mendalam, guru perlu difasilitasi agar mampu menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk memahami materi, tetapi juga mengaplikasikan pengetahuan dan merefleksikan pengalaman belajarnya. Proses tersebut membutuhkan guru yang mampu merancang pengalaman belajar secara tepat, memberikan umpan balik yang membangun, dan menciptakan ruang bagi tumbuhnya kemandirian peserta didik.
Teaching Center dapat menyediakan laboratorium pembelajaran tempat guru berlatih merancang modul ajar, melakukan simulasi mengajar atau microteaching, mengembangkan rubrik asesmen, serta mendiskusikan hasil penerapan strategi pembelajaran di kelas. Melalui proses tersebut, kompetensi pedagogik tidak berhenti sebagai pengetahuan teoretis, melainkan berkembang menjadi keterampilan profesional yang dapat diamati dan dievaluasi.
Tiga Tugas Utama Teaching Center
Pertama Pengembangan Profesi Guru
Teaching Center bertugas mengembangkan kemampuan guru secara berkelanjutan agar semakin profesional dalam menjalankan tugasnya. Layanan ini meliputi pelatihan, lokakarya, diskusi ilmiah, simulasi mengajar, pengembangan perangkat pembelajaran, dan refleksi praktik mengajar. Orientasinya bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan meningkatkan kualitas pembelajaran yang dialami peserta didik.
Kedua Penyedia Layanan dan Dukungan Profesional
Teaching Center menjadi tempat guru berkonsultasi dan mencari solusi atas persoalan pembelajaran. Guru dapat mendiskusikan kesulitan mengelola kelas, menghadapi perbedaan kemampuan peserta didik, menyusun asesmen, mengembangkan penelitian tindakan kelas, maupun merencanakan pengembangan karier. Layanan ini membangun budaya bahwa meminta bantuan dan belajar dari orang lain merupakan bagian dari profesionalitas.
Ketiga Pusat Inovasi Pembelajaran
Teaching Center menjadi ruang untuk mengembangkan dan menguji gagasan pembelajaran baru sebelum diterapkan secara lebih luas. Guru dapat mencoba media digital, metode pembelajaran kolaboratif, pendekatan berbasis proyek, pemanfaatan kecerdasan artifisial, dan strategi asesmen alternatif. Setiap inovasi perlu dievaluasi berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan belajar, kebutuhan peserta didik, serta bukti hasil penerapannya.
Fungsi Lengkap Teaching Center
A. Fungsi Pelatihan (Training Center)
Teaching Center menyelenggarakan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan guru, baik terkait kebijakan kurikulum, pengembangan pembelajaran, asesmen, teknologi pendidikan, maupun penguatan karakter peserta didik. Kegiatannya dapat berupa seminar, lokakarya, diklat, webinar, pelatihan berbasis praktik, dan pembelajaran mandiri.
Materi pelatihan perlu disesuaikan dengan kebijakan kurikulum yang berlaku. Untuk itu, layanan dapat mencakup Pembelajaran Mendalam, pengembangan perangkat ajar, asesmen pembelajaran, pemanfaatan platform digital, serta penerapan teknologi dan kecerdasan artifisial secara etis. Teaching Center juga dapat mendukung pengembangan kompetensi guru yang mengikuti program profesi atau program pengembangan karier, sesuai kewenangan dan ketentuan penyelenggara masing-masing.
B. Fungsi Pusat Sumber Belajar (Resource Center)
Guru memerlukan sumber belajar yang mudah diakses dan dapat langsung dimanfaatkan untuk memperbaiki pembelajaran. Oleh karena itu, Teaching Center dapat menyediakan buku, modul, contoh perangkat ajar, video pembelajaran, instrumen asesmen, alat peraga, bahan praktik, serta perpustakaan digital.
Jika didukung sarana yang memadai, Teaching Center juga dapat menyediakan ruang microteaching, studio produksi video pembelajaran, akses internet, dan fasilitas peminjaman alat pembelajaran tertentu. Pemanfaatan fasilitas tersebut perlu diatur melalui sistem layanan yang transparan dan mudah diakses oleh guru.
Fungsi ini dapat mengurangi kesenjangan akses terhadap sumber belajar, terutama bagi guru yang bertugas di wilayah dengan keterbatasan sarana dan dukungan profesional.
C. Fungsi Kolaborasi dan Komunitas Belajar
Pengembangan profesional guru akan lebih kuat apabila berlangsung melalui interaksi dengan sesama praktisi. Teaching Center dapat menjadi ruang pertemuan dan penguatan jejaring Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK), serta komunitas belajar di sekolah.
Melalui forum tersebut, guru dapat berbagi praktik baik, membedah perangkat ajar, melakukan peer teaching, mendiskusikan hasil asesmen, dan merefleksikan keberhasilan maupun kesulitan pembelajaran. Kolaborasi ini membantu guru menyadari bahwa persoalan pembelajaran bukan semata-mata tanggung jawab individu, tetapi dapat diselesaikan melalui proses belajar bersama.
Teaching Center dengan demikian berfungsi sebagai simpul yang menghubungkan komunitas belajar yang tersebar di berbagai satuan pendidikan di Jawa Barat.
D. Fungsi Konsultasi dan Pendampingan
Tidak semua persoalan pembelajaran dapat diselesaikan melalui modul atau pelatihan umum. Sebagian guru membutuhkan pendampingan yang spesifik sesuai dengan karakteristik kelas dan kondisi satuan pendidikannya.
Untuk itu, Teaching Center perlu menyediakan layanan konsultasi yang melibatkan widyaiswara, instruktur, mentor, fasilitator, dan tenaga ahli sesuai bidangnya. Guru dapat berkonsultasi mengenai strategi mengajar, pengelolaan kelas, penyusunan asesmen, pemanfaatan hasil belajar, pengembangan karya inovatif, dan penelitian tindakan kelas.
Pendampingan sebaiknya tidak berhenti pada pemberian saran. Prosesnya perlu mencakup identifikasi masalah, perumusan alternatif solusi, penerapan strategi, pemantauan hasil, dan refleksi. Dengan pola tersebut, guru memperoleh dukungan untuk mengatasi masalah sekaligus membangun kemandirian profesional.
E. Fungsi Pengembangan Kurikulum dan Kontekstualisasi Pembelajaran
Kurikulum nasional memerlukan penerjemahan ke dalam pengalaman belajar yang relevan dengan lingkungan peserta didik. Teaching Center dapat membantu guru memahami tujuan kurikulum, merancang pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik, serta mengembangkan bahan dan konteks belajar yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Di Jawa Barat, misalnya, guru dapat mengembangkan pembelajaran kontekstual yang memanfaatkan kekayaan budaya Sunda, lingkungan alam, sejarah lokal, kehidupan sosial, serta potensi ekonomi daerah. Kontekstualisasi tersebut bukan berarti mengubah tujuan kurikulum nasional secara sepihak, melainkan memperkaya cara mencapai tujuan pembelajaran melalui sumber belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Teaching Center juga dapat memfasilitasi pengembangan muatan lokal sesuai kewenangan, kebijakan, dan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih relevan tanpa kehilangan arah pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
Membangun Teaching Center di Jawa Barat Kolaborasi, Bukan Duplikasi
Di Indonesia, sejumlah fungsi yang menyerupai Teaching Center telah dijalankan melalui berbagai lembaga dan inisiatif. BBGTK dan BGP menjalankan layanan pengembangan kompetensi guru sesuai mandat masing-masing. KKG, MGMP, MGBK, dan komunitas belajar di sekolah menyediakan ruang kolaborasi profesional. Sementara itu, platform digital pendidikan menyediakan akses terhadap materi, referensi, dan kegiatan belajar daring.
Keberadaan berbagai layanan tersebut merupakan modal penting. Karena itu, gagasan Teaching Center sebaiknya tidak diposisikan sebagai lembaga baru yang menduplikasi seluruh program yang telah ada. Sebaliknya, Teaching Center perlu dirancang sebagai model integrasi layanan pengembangan kompetensi guru yang memperkuat hubungan antara pusat pelatihan, komunitas belajar, sekolah, dan sumber belajar digital.
BBGTK dapat berperan sebagai pengarah pengembangan layanan, penyedia keahlian, pengembang sumber belajar, serta fasilitator jejaring. Komunitas belajar menjadi ruang penerapan dan refleksi di tingkat satuan pendidikan. Kepala sekolah dan pengawas sekolah dapat mendukung identifikasi kebutuhan, tindak lanjut hasil pelatihan, dan perbaikan praktik pembelajaran. Perguruan tinggi serta mitra lain dapat dilibatkan untuk memperkaya keahlian dan riset.
Sementara itu, platform digital yang tersedia dapat dimanfaatkan sebagai kanal layanan jarak jauh, berbagi sumber belajar, konsultasi, dan dokumentasi praktik baik. Jika menggunakan platform yang sudah ada, layanan Teaching Center perlu menjelaskan secara jelas hubungan dengan platform tersebut dan tidak mengklaim kepemilikan atau kewenangan yang bukan menjadi mandatnya.
Model ini memungkinkan guru memperoleh layanan yang lebih terintegrasi tanpa harus selalu mengikuti pelatihan tatap muka di satu lokasi.
Strategi Implementasi Teaching Center oleh BBGTK
Agar Teaching Center tidak berhenti sebagai gagasan, pelaksanaannya perlu dilakukan secara bertahap dan berbasis kebutuhan.
Tahap pertama adalah pemetaan kebutuhan kompetensi guru. BBGTK bersama pemangku kepentingan pendidikan dapat mengidentifikasi kesenjangan kompetensi pedagogik, kebutuhan pengembangan profesional, persoalan pembelajaran yang dominan, serta keterbatasan akses layanan di berbagai kabupaten dan kota. Hasil pemetaan menjadi dasar penentuan prioritas program.
Tahap kedua adalah penataan layanan dan sumber daya. BBGTK perlu mengidentifikasi fasilitas, tenaga ahli, sumber belajar, komunitas profesional, dan platform digital yang dapat diintegrasikan. Pemetaan ini penting agar pengembangan Teaching Center memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan menghindari tumpang tindih program.
Tahap ketiga adalah penyelenggaraan layanan percontohan. Program awal dapat difokuskan pada beberapa kebutuhan prioritas, misalnya penguatan kompetensi pedagogik, Pembelajaran Mendalam, asesmen, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Layanan dapat diberikan melalui kombinasi pelatihan, konsultasi, praktik mengajar, dan pendampingan di sekolah.
Tahap keempat adalah penguatan komunitas dan pendampingan. Guru yang telah mengikuti pelatihan perlu difasilitasi untuk menerapkan hasil belajar, berdiskusi dengan rekan sejawat, dan memperoleh umpan balik. Pada tahap ini, KKG, MGMP, MGBK, dan komunitas belajar sekolah menjadi mitra penting dalam menjaga keberlanjutan proses belajar profesional.
Tahap kelima adalah evaluasi dan pengembangan berkelanjutan. Keberhasilan Teaching Center tidak cukup diukur berdasarkan jumlah pelatihan, peserta, atau sertifikat yang diterbitkan. Evaluasi perlu melihat perubahan kompetensi guru, kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penggunaan asesmen, kemampuan melakukan refleksi, serta bukti perbaikan pengalaman dan hasil belajar peserta didik.
Hasil evaluasi digunakan untuk menyempurnakan layanan, memperluas program yang terbukti efektif, dan memperbaiki program yang belum memberikan dampak memadai.
Dari Pusat Pelatihan Menjadi Pusat Pertumbuhan Profesional Guru
Teaching Center merupakan gagasan strategis yang relevan dengan kebutuhan pengembangan profesi guru saat ini. Tantangan pendidikan semakin kompleks, sedangkan kebutuhan guru tidak selalu dapat dipenuhi melalui pelatihan yang bersifat seragam dan sesaat. Guru membutuhkan ekosistem yang menyediakan kesempatan belajar sepanjang hayat, akses terhadap sumber belajar, ruang kolaborasi, konsultasi profesional, dan dukungan untuk mengembangkan inovasi pembelajaran.
Bagi BBGTK, Teaching Center dapat menjadi pendekatan untuk mengoptimalkan perannya dalam pengembangan kompetensi guru di Jawa Barat. Melalui integrasi layanan pelatihan, sumber belajar, komunitas profesional, konsultasi, dan inovasi, BBGTK dapat memperkuat hubungan antara pengembangan kompetensi dengan perubahan nyata dalam praktik pembelajaran.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Teaching Center bukanlah megahnya gedung, banyaknya kegiatan, atau besarnya jumlah peserta pelatihan. Ukuran keberhasilannya adalah semakin banyak guru yang mampu memahami kebutuhan peserta didik, merancang pembelajaran yang berkualitas, mengelola proses belajar secara efektif, serta melakukan refleksi dan perbaikan secara berkelanjutan.
Sebab, ketika guru terus bertumbuh, pembelajaran akan semakin bermutu; ketika pembelajaran semakin bermutu, peluang setiap anak untuk berkembang akan semakin terbuka.
Teaching Center bukan sekadar tempat guru belajar mengajar, melainkan ekosistem yang membantu guru terus bertumbuh demi masa depan pendidikan Jawa Barat.













Mantaaap semoga terwujud untuk ikhtiar penguatan kompetensi guru…
Gagasan pengembangan Teaching Center dalam bacaan tersebut sangat tepat dan progresif karena menggeser paradigma pengembangan profesi guru dari sekadar pelatihan singkat menjadi ekosistem belajar yang berkelanjutan dan berdampak langsung ke kelas.
Paradigma Berkelanjutan: Mengubah orientasi dari training-oriented yang bersifat insidental menjadi continuous professional learning melalui pendampingan berkelanjutan sebelum, selama, dan sesudah pelatihan.
Efisiensi dan Kolaborasi: Mengedepankan model integrasi layanan serta penguatan jejaring komunitas belajar yang sudah ada daripada sekadar mendirikan bangunan fisik baru yang berpotensi memicu duplikasi peran.
Fokus pada Praktik Pedagogik Nyata: Memprioritaskan penguatan kompetensi pedagogik dan Pembelajaran Mendalam agar pengetahuan teoretis benar-benar terkonversi menjadi strategi mengajar yang relevan, bermakna, dan menyenangkan bagi siswa.
Layanan Ekosistem yang Utuh: Menyediakan dukungan yang menyeluruh, mencakup penyediaan sumber belajar, ruang konsultasi, pendampingan berbasis kebutuhan, hingga laboratorium untuk menguji inovasi pembelajaran.
Untuk saat ini di perlukan sekali seorang guru yang betul 2 profesional,yang ketika pembelajaran diantaranya bisa mengkolabprasikan metode yang berbasis IT dengan ceramah umpanya , insyaallah peserta didik sedikit nya akan yang menempel setelah pembelajaran.