Beberapa waktu lalu, sebuah aplikasi pembelajaran tiba-tiba menjadi perbincangan di kalangan guru. Dalam hitungan minggu, hampir semua sekolah merasa perlu menggunakannya. Tidak sedikit yang membeli lisensi, mengadakan pelatihan, bahkan menjadikannya bagian dari program sekolah. Namun, ketika euforia itu mereda, muncul pertanyaan sederhana: apakah aplikasi tersebut benar-benar dibutuhkan oleh semua sekolah?
Fenomena seperti itu bukan hal baru. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengambil keputusan bukan karena telah mempertimbangkannya secara matang, melainkan karena melihat banyak orang melakukan hal yang sama. Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai herd mentality, yaitu mentalitas mengikuti kerumunan.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Sejak dahulu, mengikuti kelompok merupakan salah satu cara bertahan hidup. Berada dalam kelompok memberi rasa aman dan mengurangi ketidakpastian. Karena itulah, ketika banyak orang memilih satu hal, kita cenderung menganggap pilihan tersebut benar.
Masalahnya, apa yang dilakukan banyak orang belum tentu merupakan pilihan terbaik.
Dalam dunia investasi, herd mentality sering terlihat ketika masyarakat berbondong-bondong membeli saham atau aset tertentu hanya karena sedang naik daun. Banyak orang membeli bukan karena memahami nilainya, melainkan karena takut tertinggal. Ketika harga turun, mereka baru menyadari bahwa keputusan yang diambil lebih didorong oleh emosi daripada pertimbangan rasional.
Hal serupa juga terjadi dalam pendidikan. Tidak sedikit sekolah yang menerapkan program tertentu karena dianggap sedang menjadi tren. Ada yang berlomba-lomba mengadopsi teknologi baru, menerapkan model pembelajaran tertentu, atau mengikuti berbagai pelatihan tanpa terlebih dahulu bertanya: apakah ini benar-benar menjawab kebutuhan peserta didik?
Keinginan untuk tidak tertinggal sering kali lebih dominan dibandingkan keberanian untuk berpikir kritis.
Namun, herd mentality bukan satu-satunya jebakan dalam pengambilan keputusan. Ada berbagai bias berpikir lain yang juga memengaruhi cara manusia memandang suatu persoalan.
Salah satunya adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki sebelumnya. Ketika seseorang sudah meyakini bahwa peserta didik saat ini tidak memiliki motivasi belajar, misalnya, ia akan lebih mudah menemukan bukti yang menguatkan keyakinan tersebut dan cenderung mengabaikan fakta-fakta yang menunjukkan sebaliknya.
Ada pula groupthink, yaitu situasi ketika sebuah kelompok lebih mengutamakan kesepakatan daripada kualitas keputusan. Fenomena ini sering muncul dalam rapat organisasi. Semua orang terlihat setuju, bukan karena usulan yang dibahas benar-benar terbaik, melainkan karena tidak ada yang berani mengemukakan pandangan berbeda.
Padahal, tidak adanya perbedaan pendapat sering kali justru menjadi pertanda bahwa sebuah keputusan belum diuji secara memadai.
Bias lain yang tidak kalah penting adalah authority bias, yaitu kecenderungan mempercayai suatu pendapat hanya karena disampaikan oleh figur yang dianggap memiliki otoritas. Dalam dunia pendidikan, sebuah metode pembelajaran terkadang langsung diterima begitu saja karena dipaparkan oleh seorang pakar atau tokoh terkenal. Padahal, setiap sekolah memiliki konteks yang berbeda dan tidak semua pendekatan cocok diterapkan di semua tempat.
Kemudian ada status quo bias, yaitu kecenderungan mempertahankan keadaan yang ada dan menolak perubahan. Banyak organisasi sebenarnya mengetahui bahwa sebuah cara kerja sudah tidak efektif, tetapi tetap mempertahankannya karena merasa nyaman dengan kebiasaan lama.
Sebaliknya, ada pula fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain. Dalam kondisi ini, seseorang atau organisasi terburu-buru mengikuti tren karena khawatir dianggap tidak maju atau tidak relevan.
Jika dicermati, berbagai bias tersebut memiliki satu kesamaan: semuanya membuat manusia mengambil keputusan secara kurang objektif.
Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Arus informasi yang sangat cepat membuat opini publik mudah terbentuk dan menyebar dalam waktu singkat. Sesuatu yang viral sering dianggap benar, sementara sesuatu yang populer dianggap pasti baik. Akibatnya, ruang untuk berpikir kritis semakin menyempit.
Bagi para pemimpin pendidikan, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Kepala sekolah, pengawas, maupun guru dituntut untuk tidak mudah larut dalam arus. Kepemimpinan yang baik bukanlah kemampuan mengikuti semua tren, melainkan kemampuan memilih mana yang benar-benar relevan dengan kebutuhan peserta didik dan konteks sekolah.
Keputusan yang baik juga tidak lahir dari suara mayoritas semata. Keputusan yang baik lahir dari keberanian untuk bertanya, menguji data, mendengarkan pandangan yang berbeda, dan mengevaluasi berbagai kemungkinan.
Dalam banyak kasus, kemajuan sebuah organisasi justru dimulai ketika ada seseorang yang berani berkata, “Mari kita telaah kembali. Apakah ini memang pilihan terbaik?”
Pada akhirnya, mengikuti kerumunan memang terasa aman. Namun sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar justru lahir dari orang-orang yang berani berpikir mandiri. Mereka tidak menolak pendapat mayoritas, tetapi juga tidak menerimanya begitu saja.
Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai tren yang datang silih berganti, kemampuan paling penting yang perlu kita pelihara bukanlah kemampuan mengikuti keramaian, melainkan kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir jernih, dan bertanya: Apakah saya mengambil keputusan ini karena memang benar, atau hanya karena semua orang melakukannya?












