Padahal keduanya membaca data yang sama.
Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital. Kita hidup di zaman ketika informasi mengalir tanpa henti melalui media sosial, portal berita, grup WhatsApp, YouTube, TikTok, podcast, dan kini juga melalui kecerdasan buatan (AI). Namun, masalah terbesar saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan kesulitan memahami informasi secara benar.
Lembaga pendidikan dunia, termasuk UNESCO, menegaskan bahwa literasi abad ke-21 tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi modern menuntut kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara kritis. UNESCO menyebutnya sebagai Media and Information Literacy (MIL) atau Literasi Media dan Informasi.
Di sinilah pentingnya memahami tiga konsep yang sering bercampur dalam kehidupan sehari-hari: fakta, opini, dan framing.
Fakta: Fondasi dari Segala Diskusi
Fakta adalah informasi yang dapat dibuktikan dan diverifikasi.
Fakta tidak bergantung pada suka atau tidak suka seseorang.
Misalnya:
- Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.
- Air mendidih pada suhu sekitar 100°C pada tekanan normal.
- Sebuah sekolah memiliki 1.200 siswa.
- Nilai literasi sekolah meningkat dari 60 menjadi 65.
Fakta dapat diuji dan diperiksa.
Dalam dunia pendidikan, fakta bisa berupa:
- Data Rapor Pendidikan.
- Hasil Asesmen Nasional.
- Tingkat kehadiran guru.
- Angka putus sekolah.
- Persentase lulusan yang bekerja.
Tanpa fakta, keputusan hanya akan didasarkan pada asumsi dan perasaan.
Opini: Cara Kita Menafsirkan Fakta
Jika fakta adalah data, maka opini adalah penafsiran terhadap data tersebut.
Contoh:
Fakta:
Nilai literasi meningkat dari 60 menjadi 65.
Opini 1:
Ini menunjukkan program sekolah berjalan efektif.
Opini 2:
Peningkatan tersebut masih terlalu kecil.
Kedua opini bisa saja masuk akal.
Namun keduanya bukan fakta. Masalah besar dalam masyarakat saat ini adalah banyak orang tidak lagi mampu membedakan fakta dan opini. Pendapat seseorang sering dianggap fakta hanya karena disampaikan dengan percaya diri atau viral di media sosial.
Framing: Cara Fakta Dibingkai
Di sinilah letak persoalan yang lebih menarik. Framing adalah cara menyajikan fakta sehingga menghasilkan persepsi tertentu. Framing tidak harus berbohong. Framing juga tidak selalu salah. Namun framing memengaruhi cara kita memahami realitas.
Contoh klasik:
Sebuah gelas berisi air 50 persen.
Framing positif:
Gelas ini setengah penuh.
Framing negatif:
Gelas ini setengah kosong.
Faktanya sama. Yang berbeda adalah cara menceritakannya.
Mengapa Framing Sangat Kuat?
Karena manusia bukan mesin. Kita tidak memproses informasi secara sepenuhnya rasional. Kita dipengaruhi oleh:
- Emosi
- Kata-kata
- Judul
- Gambar
- Pengalaman pribadi
- Keyakinan yang sudah dimiliki
Akibatnya, cara informasi disajikan sering kali lebih berpengaruh daripada isi informasi itu sendiri.
Contoh dalam pendidikan:
Fakta:
Kehadiran guru mencapai 92%.
Framing Positif:
Mayoritas guru menunjukkan komitmen tinggi dengan tingkat kehadiran 92%.
Framing Negatif:
Masih terdapat 8% ketidakhadiran guru yang perlu mendapat perhatian.
Keduanya benar.
Tetapi efek psikologisnya berbeda.
Dunia Digital Adalah Dunia Framing
Media sosial tidak dirancang untuk menyebarkan informasi yang paling akurat. Media sosial dirancang untuk menyebarkan informasi yang paling menarik perhatian. Karena itu, judul yang memancing emosi sering memperoleh lebih banyak klik dibanding judul yang netral.
Kita sering menemukan:
- Judul yang membuat marah.
- Video yang dipotong sebagian.
- Data yang ditampilkan tanpa konteks.
- Kutipan yang dilepaskan dari pembicaraan lengkapnya.
Semua ini adalah bentuk framing. Tidak selalu salah. Tetapi harus dipahami.
Mengapa Literasi Digital Menjadi Sangat Penting?
Menurut UNESCO, literasi media dan informasi adalah kompetensi penting untuk menghadapi misinformasi, disinformasi, ujaran kebencian, dan berbagai tantangan dunia digital. Kemampuan berpikir kritis terhadap informasi menjadi salah satu keterampilan utama warga abad ke-21.
Data UNESCO menunjukkan:
- 56% pengguna internet menjadikan media sosial sebagai sumber informasi utama.
- 85% masyarakat khawatir terhadap dampak disinformasi online.
- Dua pertiga kreator konten tidak selalu melakukan pemeriksaan fakta sebelum membagikan informasi.
Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memverifikasi informasi kini sama pentingnya dengan kemampuan mengakses informasi.
Riset Menunjukkan Literasi Media Dapat Membantu
Sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia menemukan bahwa peserta yang mengikuti program literasi media daring memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengidentifikasi informasi yang salah dibanding kelompok yang tidak mengikuti pelatihan.
Penelitian-penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa ketahanan terhadap misinformasi sangat berkaitan dengan kemampuan literasi media dan informasi digital. Semakin baik kemampuan seseorang mengevaluasi sumber dan memahami konteks informasi, semakin kecil kemungkinan ia menjadi korban manipulasi informasi.
Dengan kata lain:
Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan berpikir ketika menggunakan teknologi.
Guru Tidak Cukup Mengajar Mata Pelajaran
Di era AI dan media sosial, guru memiliki tugas baru.
Guru perlu mengajarkan:
- Cara memeriksa sumber informasi.
- Cara membedakan fakta dan opini.
- Cara mengenali bias.
- Cara memahami framing.
- Cara berpikir kritis.
Bahkan beberapa negara mulai memasukkan kemampuan mengenali misinformasi dan berita palsu ke dalam kurikulum sekolah karena dianggap sebagai keterampilan kewargaan yang penting.
Siswa Digital Native Belum Tentu Literat Digital
Banyak orang menganggap generasi muda otomatis melek digital karena terbiasa menggunakan gawai.
Padahal penelitian terbaru menunjukkan bahwa siswa sering kali merasa sangat percaya diri menggunakan teknologi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang kuat dalam mengevaluasi informasi, memahami bias algoritma, atau mengenali manipulasi digital.
Mampu menggunakan TikTok bukan berarti mampu memverifikasi informasi dari TikTok.
Mampu menggunakan AI bukan berarti mampu menilai apakah jawaban AI benar atau salah.
Enam Pertanyaan yang Harus Menjadi Kebiasaan
Setiap kali menerima informasi, biasakan bertanya:
1. Apa faktanya?
Pisahkan data dari pendapat.
2. Apa buktinya?
Periksa sumber dan referensinya.
3. Siapa yang menyampaikan?
Pahami kepentingan dan sudut pandangnya.
4. Apa yang tidak disampaikan?
Kadang informasi yang hilang sama pentingnya dengan informasi yang ditampilkan.
5. Emosi apa yang sedang dibangkitkan?
Marah, takut, bangga, atau benci sering menjadi pintu masuk manipulasi.
6. Bagaimana informasi ini dibingkai?
Apakah framing-nya positif, negatif, atau netral?
Pelajaran Hidup yang Tidak Boleh Terlambat Dipelajari
Sekolah mengajarkan matematika, bahasa, dan sains. Namun kehidupan digital mengharuskan kita menguasai keterampilan lain:
kemampuan memahami informasi.
Karena pada akhirnya, banyak keputusan penting dalam hidup—memilih pemimpin, menentukan pendidikan anak, mengelola keuangan, menjaga kesehatan, hingga membangun hubungan sosial berasal dari informasi yang kita percaya. Jika kita salah memahami informasi, kita bisa salah mengambil keputusan.
Penutup: Jadilah Pencari Kebenaran, Bukan Sekadar Penyebar Informasi
Di era digital, setiap orang adalah penerima informasi sekaligus penyebar informasi.
Karena itu, setiap orang juga harus menjadi pemeriksa informasi.
Kemampuan membedakan fakta, opini, dan framing bukan lagi keterampilan tambahan. Ini adalah keterampilan hidup.
Bukan hanya untuk guru. Bukan hanya untuk siswa.
Tetapi untuk setiap warga negara yang ingin tetap waras di tengah banjir informasi. Sebab dalam dunia yang penuh informasi, keunggulan bukan lagi dimiliki oleh orang yang paling banyak membaca, melainkan oleh orang yang paling mampu memahami apa yang dibacanya.
Fakta adalah apa yang terjadi.
Opini adalah apa yang kita pikirkan tentang apa yang terjadi.
Framing adalah bagaimana kita menceritakan apa yang terjadi.
Literasi digital adalah kemampuan membedakan ketiganya.












